Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 41



Matahari baru saja menyapa bumi, sinarnya belum begitu tegas akan tetapi Hyuji sudah mengenakan pakaian rapi untuk menemui seseorang.


Ayahnya, tentu saja. Hyuji benar-benar merindukan sosok sang ayah yang sudah dua tahun tidak pernah ia temui. Jika ditanya tentang bagaimana perasaannya saat ini, jujur Hyuji merasa canggung, kurang nyaman, bahkan merasa bersalah sebab pergi tanpa pamit dua tahun lalu. Dan kini dia sendiri yang meminta untuk bertemu, seperti menjilat ludah sendiri meskipun sang ayah tidak keberatan dengan pertemuan kali ini.


Aroma teh melati yang harum, dan kepulan asap dari dalam gelas menemani Hyuji menanti kehadiran sang ayah. Pikirannya dipenuhi tentang masa lalu yang bisa dikatakan tidak terlalu menyenangkan, tapi dia mencoba tetap bertahan.


Hingga suara renta menyapanya dari balik punggung, Hyuji menoleh. Sosok yang begitu ia rindukan sudah datang. Bahkan airmata Hyuji rasanya tak bisa lagi ia bendung. Ekor matanya basah saat liquid itu mengalir begitu saja tanpa ia minta.


Hyuji bangkit untuk memeluk ayahnya. Harum yang masih sama seperti dulu, begitu ia sukai, Hyuji membenamkan wajahnya didalam dada dan pelukan sang ayah. Mendengar isakan kecil dari putrinya itu, Minju menjauhkan diri, memandang sang gadis dengan sendu sembari mengusap airmata di pipi Hyuji.


“Kau terlihat lebih baik, sayang! Maafkan Papa tidak bisa membuat dirimu bahagia.”


Mendengar penuturan sang ayah, hati Hyuji tersayat. Bukan salah siapapun, ini hanyalah takdir yang di gariskan Tuhan untuk mereka.


“Tidak, Papa tidak perlu meminta maaf!” tutur Hyuji lalu kembali memeluk sang ayah. “Hyuji yang seharusnya meminta maaf sudah pergi meninggalkan Papa tanpa pamit!”


Minju mengusap punggung Hyuji dengan gerakan lambat. Bahkan kedua maniknya turut berair dan bibirnya bergetar. “Ayo duduk dan bicara berdua! Papa merindukanmu.” pinta Minju yang mendapat anggukan dari Hyuji. Kemudian keduanya duduk berhadapan melepas kerinduan diantara rintik hujan yang entah mengapa tiba-tiba saja turun.


Suasana berubah sendu. Hyuji meremat jemarinya dibawah meja saat sang ayah tersenyum ketika manik mereka bertemu.


“Aku harus berterima kasih pada adikmu! Dia bahkan menelepon papa dan memohon kepada papa agar mau bertemu denganmu!”


Hyuji tersenyum. Ia tau betul jika John memanglah pemuda yang baik dan bisa diandalkan.


“John memang baik, Pa! Lain kali kita harus bicara bertiga!”


Minju mengangguk setuju atas ide Hyuji. Minju bahkan menginginkan bukan hal itu sejak lama, tapi John selalu menjauh ketika dirinya mencoba menghapus batas diantara keduanya.


”Tentu, ajak John bersamamu saat bertemu denganku!”


Masihkah ada kesempatan?


Hyuji mempertanyakan hal itu kepada dirinya sendiri. Dia tak yakin dengan perkataanya yang beberapa detik lalu terucap. Dia ingin pergi dan tak lagi mengganggu kehidupan sang ayah setelah ini, tapi mengapa terasa begitu berat.


“Pa...” panggil Hyuji, menarik afeksi Minju sepenuhnya. “Hyuji minta maaf soal Mama,”


Minju hanya memperhatikan bagaimana Hyuji berbicara lembut dengan nada rendah yang selalu saja sama saat berbicara dengannya.


“Hyuji merasa bersalah sudah menyebabkan semua kekacauan ini.”


“Tidak, semuanya sudah berlalu! Dan ini bukan salahmu, tapi semuanya sudah tertulis dalam takdir keluarga kita. Dan ayahlah pihak yang paling pantas disalahkan.”


Tatapan Hyuji terpaku pada fitur wajah sang ayah yang berkerut. Dunianya seolah terhenyak kala melihat ayahnya yang renta itu mengusap butiran airmata dipipinya yang sudah mengerut.


“Maafkan Papa yang tidak bisa melakukan apapun untuk keutuhan keluarga kita!”


Hyuji bangkit, berjalan mendekat lalu mendaratkan pelukan hangat dibahu sang ayah, menepuk pelan penuh kasih.


Bahu Minju berguncang, dia tergugu dalam dekapan Hyuji yang kini meletakkan salah satu sisi wajahnya untuk bersandar pada bahu sang ayah. Hyuji akan selalu merindukan hal seperti ini nantinya. “Pulanglah nak, Papa tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya!”


Hyuji terenyuh akan permintaan ayahnya, akan tetapi dia benar-benar tidak ingin kembali menjadi Hyuji yang dulu.


“Papa, aku ingin berpamitan kali ini!”


Mendengar itu, sontak Minju menarik diri, menjauhkan Hyuji dari tubuhnya demi menatap putri cantiknya tersebut.


“Apa maksudmu?”


“Aku tidak bisa kembali kerumah,” tutur Hyuji lembut, sengaja menjeda untuk menguatkan dirinya sendiri untuk mengatakan kalimat selanjutnya.“...aku sudah mempunyai rumah baru yang lebih nyaman meskipun tidak sebagus istana megah papa.”


Minju menggeleng cepat, dia bahkan meraih satu lengan Hyuji untuk ia genggam erat agar putrinya itu tidak benar-benar pergi meninggalkan dirinya lagi.


“Tidak...”


“Maaf, papa. Hyuji ingin bertemu hanya untuk memastikan pada Papa jika Hyuji tidak mengulangi kesalahan yang sama saat pergi meninggalkan rumah dua tahun silam. Dan sekarang Hyuji rasa semuanya sudah jelas, dan Hyuji harap Papa mengerti!”


Minju kehabisan kata-kata. Dia tak tau lagi bagaimana caranya untuk menghentikan Hyuji yang memang berhak atas hidupnya sendiri.


“Aku akan mengunjungi Papa jika ada waktu, dan aku harap Papa tetap menjaga kesehatan Papa.”


...***...


Hyuji meletakkan setelan pakaian Elliotte kedalam tas besar yang ia gunakan untuk membawa beberapa potong baju saat pergi menuju Seoul.


“Apa kakak tidak ingin tinggal disini saja? Eku tidak keberatan.” tutur Elli menarik atensi Hyuji.


“Tidak ada lagi hal yang perlu aku lakukan disini, El. Kita kembali ke Sokcho bersama.”


Elli memandang lembut sosok Hyuji yang masih sibuk menata pakaiannya kedalam tas koper yang sudah hampir penuh.


”Lalu paman John?”


Entah mengapa, Hyuji tiba-tiba menghentikan telapak tangannya yang semula sibuk. Lalu memutar kearah dimana Elliotte berada, mengulurkan telapak tangan untuk megusap satu sisi wajah cantik Elli.


“John punya kehidupan berbeda dengan kita, El! Jadi mari kita jalani dengan cara berbeda pula.” jawabnya dengan intonasi tenang saat gemuruh hatinya semakin mendominasi. Hyuji mencoba melupakan semuanya dan bersikap sewajarnya sebagai sosok kakak untuk John.


“Maksudku, aku ingin melihat paman John lebih lama!” manja Elliotte tanpa sedikitpun ragu, membuat senyuman Hyuji mengembang begitu saja.


“Kau menyukainya?” satu kalimat tanya yang Hyuji sodorkan tanpa basa-basi kepada Elliotte, membuat gadis tersebut memerah dan tertunduk tanpa menjawab.


Hyuji tau bagaimana rasanya mencintai, itulah alasan Hyuji untuk memeluk erat sosok Elli kedalam dekapannya. Suara lembut dan hangat milik Hyuji menyapa rungu Elli. “John akan sering mengunjungi kita, jadi kau tidak perlu khawatir! Terima kasih sudah menaruh perasaan pada pria sebaik John!”[]