
Peringatan!!!
Bab ini mengandung unsur yang bisa membuat anda tersenyum-senyum sendiri!
Hmmm...
Happy Reading.
•
•
•
•
“John,”
“Eumm???”
“Kenapa malam itu kau menghentikan aku?”
“Karena, aku merasa semua orang berhak mendapatkan kebahagiaan, dan tidak patut untuk berakhir seperti yang akan noona lakukan saat itu! Percayalah, jika Tuhan sedang merencanakan sesuatu yang Indah pada semua kehidupan makhluk ciptaan-Nya!”
Jawaban yang cukup dewasa dan berbobot, bukan?
Menurut pandangan Hyuji, mungkin, bagi John pertanyaan itu hanyalah pertanyaan yang dilakukan Hyuji hanya untuk sekedar mencari kejelasan mengapa dia menghentikan semua hal mengerikan yang hampir terjadi malam itu.
Tapi, menurut sudut pandang yang John miliki, jawaban yang ia berikan adalah seluruh hal yang memang harus ia lakukan. Terlepas itu seorang yang memang masih memiliki semangat hidup, atau memang sudah putus asa sekalipun.
“John,”
“Noona,”
Ucap mereka bersamaan, membuat keduanya saling menaut pandang, kemudian terkekeh kecil saat menyadari isi kepala mereka yang bahkan nyaris sama-sama ingin memulai pembicaraan.
“Silahkan berbicara dulu, Ladies first!” kata John, mempersilahkan Hyuji untuk kembali membuka pembicaraan.
Mendadak, Hyuji gugup. Sebab mungkin saja pertanyaan yang akan ia suguhkan adalah hal sensitif bagi kehidupan pribadi John. Bahkan Hyuji merutuk dirinya sendiri, karena entah mengapa pertanyaan dan juga pernyataan John selalu saja membayangi benaknya akhir-akhir ini.
Dia menatap lamat pemuda berusia dua tahun lebih muda darinya itu, kemudian kembali tertunduk dengan senyuman yang ia buat senatural mungkin.
“Kau saja, pertanyaanku tidak terlalu penting!”
Dan entah mengapa, John bisa melihat senyuman berbeda dari yang biasa Hyuji suguhkan. Kali ini terlihat tulus.
John mengangguk sekilas, kemudian meraih tangkai bunga lain dan menggunting ujung tangkai membentuk runcing. Ya, mereka berdua masih ditoko saat jam menunjuk angka tujuh malam. Mereka mendapat pesanan karangan bunga untuk diambil pagi-pagi sekali besok.
“Ibuku menanyakan kabar noona!” kata John, yang kemudian mendapatkan reaksi mengejutkan dari seorang Hyuji.
“Benarkah?” jawabnya dengan mata terbelalak dan senyuman berbinar cerah.
John mengangguk tanpa ragu. “Eummm, bahkan ibu memintaku untuk memberitahu pada noona agar mampir lagi kerumah kami,”
Hyuji menyelipkan anakan rambut sebahunya yang terjuntai kedepan, terlihat anggun dan cantik bersamaan dimata John, sebab kini wajah bossnya itu berubah seperti buah tomat matang dengan bibir ranum yang terapit kedalam. Menggemaskan.
“Menurutmu—” Hyuji sengaja menjeda, memilah kata tepat untuk menjadi ucapan yang sekiranya tidak akan membuat dirinya seolah berharap dan menginginkan akan hal tersebut, jaga image. “—apa aku harus datang kerumah kalian?” lanjutnya, kemudian kembali mengapit bibirnya kedalam.
John mengangguk ragu, menggaruk tengkuknya sembari tersenyum manis pada tarikan ujung bibir. “Ya... itu sih, terserah padamu, noona! Aku tidak memaksa!”
Dan sontak jawaban John itu membuat semangat dalam diri Hyuji seperti berkobar. Dia bahkan tidak tau akan sesenang itu, saat ibu John menginginkan kehadirannya lagi disana.
Memang, John dengan sengaja mewarnai sendiri rambut hitamnya dengan warna yang mencolok—blonde, agar terlihat lebih fresh, katanya. Dan itu seolah menjadi daya tarik tersendiri dimata kaum hawa yang melihatnya.
“Ngomong-ngomong, apa kekasihmu tidak akan marah saat melihatku berada disana?”
Pertanyaan yang sedari tadi Hyuji tahan, lolos begitu saja. Dia bahkan sempat menutup mulutnya dengan telapak tangan, kemudian menggigit bibir bawahnya cemas saat melihat ekspresi yang John berikan.
Kedua manik rusa pemuda itu membola sempurna, dan itu terlihat sangat menggemaskan bagi Hyuji. Bibir pemuda itu mengerucut lucu, namun dahinya berkerut penuh telisik, membuat Hyuji seketika menunduk penuh sesal untuk ucapannya sendiri.
“Maaf...” tutur Hyuji kemudian, merasa tak enak. “Aku hanya—”
Namun ucapan Hyuji terhenti seketika, kala dia merasakan usapan lembut pada surainya, lebih tepatnya pada pucuk kepala. Hyuji mengangkat pandangan, mendapati pemuda John itu tersenyum hangat yang membuat dua kelopak mata Hyuji tak bisa berhenti menatap.
“Jika aku punya kekasih, mana mungkin aku meminta noona menjadi milikku, saat itu!”
***
Demi dunia yang sedang berputar diatas porosnya, Hyuji tidak dapat memejamkan mata hingga jarum jam menunjuk angka dua belas malam.
Perlahan, jemarinya meraih bibir ranum yang beberapa hari lalu sempat bengkak itu, kemudian mengusapnya lembut. Teringat betul bagaimana pemuda yang tak lain adalah pegawainya itu memberikan usapan sama lembut pada bibirnya. Seketika kedua pipi Hyuji memanas membayangkan hal manis yang John lakukan padanya hari ini.
Ingin sekali mengumpat, tapi nyatanya Hyuji tak sanggup dan lebih memilih membenamkan wajahnya dibalik persegi empuk penopang kepala, di atas ranjang nyaman didalam kamar pribadinya dengan senyuman merekah.
Dan juga, jawaban yang di lantunkan pemuda itu saat memperjelas status single nya, wah, Hyuji rasanya ingin terbang menembus awang. Dia bahkan tak pernah membayangkan akan sebahagia ini saat mengingat wajah seseorang.
Perasaan yang sudah lama ia kubur itu mulai kembali bangkit perlahan, dan semua itu karena John, pemuda yang dua tahun lebih muda darinya.
“Kenapa aku jadi seperti ini?” gumamnya disela senyum.
Hyuji ingat, jika perasaan seperti ini sudah lama ia kubur bersama masa lalu dan mungkin sudah tidak berbekas di dalam relung hatinya, sejak pria yang ia sukai adalah pria yang memang tidak seharusnya ia beri rasa, saat itu.
Hyuji mengerjap, menatap langit-langit kamar saat wajah John kembali membuat rona pada wajahnya timbul tanpa diminta. Hingga ponsel diatas nakas itu bergetar kuat, diantara temaram lampu tidur yang redup.
Sebuah pesan, dari nomor yang belum pernah ia ketahui sama sekali. Yang nyatanya, membuat manik Hyuji semakin terbuka lebar.
Noona, apa kau sudah tidur?
Ini aku,
Ia pikir, John sedang mengerjainya di jam tepat tengah malam seperti ini. Namun Hyuji menyadari satu hal, itu bukanlah pria yang ia maksud, melihat dari cara orang itu mengetik pesan untuknya. John tidak pernah basa-basi.
Pesan tersebut terlihat sengaja dipotong. Membuat Hyuji mengerut dahi, hingga ponsel kembali bergetar, pesan lain yang dikirim oleh orang yang masih sama. Selanjutnya berhasil kembali menarik atensi Hyuji, yang kini gadis Song itu tau berasal dari masa lalu yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
Jimmy. []
•
•
•
Ada apa sebenarnya antara Hyuji dan Jimmy dimasa lalu?
Mungkin Next Chapter akan aku beri sedikit clue.
Jangan lupa tinggalkan jejak, dan juga tekan tombol hatinya agar tidak ketinggalan saat cerita ini update.
Terimakasih sudah membaca.
Vi's.