Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 05



Kata orang, tak kenal maka tak sayang. Mungkin itu yang sedang dicerna Hyuji saat ini. Tentang pegawai barunya, John Wilson.


Wah, Hyuji sampai kehilangan kata-kata saat menghadapi pegawai barunya itu. Bahkan, saat ini dia masih terjaga di jam dua belas malam karena penuturan pemuda tersebut.


Gila.


Hyuji tidak pernah menghadapi manusia sejenis itu selama dua puluh delapan tahun kehidupannya. Berani-beraninya dia mengajak Hyuji berkencan dengan gamblang seperti itu.


"Aaaarggghh... " desah Hyuji frustasi saat matanya belum juga mau terlelap. "Kenapa dia harus berkata seperti itu dihadapanku! Dia pandai sekali bicara!" gumam Hyuji tanpa sadar mengacak surainya hingga tak berbentuk lagi.


"Pantas saja Jimmy tak suka! John memang menyebalkan!" tutur Hyuji menerka sembari membanting tubuhnya kembali untuk merebah diatas bentangan kasur mahal dan empuk.


"Awas saja besok kalau sampai dia terlambat! Akan aku pecat saat itu juga!"


Hyuji menarik selimut, menutup tubuh sepenuhnya, diantara deru suara pendingin ruangan dan juga temaram lampu tidur yang menemani.


***


John masih teringat betapa bahagianya wajah sang ibu, saat dirinya berkata diterima disebuah tempat kerja. john bahkan menjelaskan dengan gamblang bagaimana tempat kerja tersebut, bagaimana atasannya dan juga berapa gaji yang akan ia terima nanti. Semuanya terbuka, tidak ada yang ia tutupi sama sekali. Takut ibunya tau, dan akan memukulnya dengan benda yang lebih besar dari sebuah gagang sapu.


John mengedarkan pandangan menatap langit-langit kamar, dengan bertumpu pada lengan kekar dalm balutan kaos tanpa lengan dengan gambar klub bola kesukaannya. Menerawang jauh pada sebuah memori, dimana dirinya bertemu dengan Hyuji malam itu.


"Haaah, mengapa Tuhan bahkan mendengar apa yang aku ucapkan malam itu?"


Kali ini John tersenyum, cukup manis dan hangat pada bibir tipis dengan tailalat tepat dibawah birai bawah.


"Dia sangat cantik! Tapi mengapa, gadis secantik itu ingin mengakhiri hidupnya sendiri?"


"Apa dia putus asa karena tokonya sepi?"


John bangkit dengan kasar. Membolakan kedua manik dengan hazel Indah dan bulat itu bersamaan, kemudian mengerucut bibir lucu sembari kembali bergumam. "Jika memang benar seperti itu, apa artinya aku sudah salah mengambil pekerjaan itu?! Aku tidak akan menerima gaji sepeserpun, karena memang toko bunga itu sangat sepi!"


Benar, toko bunga Hyuji memang masih baru dan belum banyak orang yang tau karena lokasinya juga berada diantara gang perkampungan yang lumayan sepi.


John memijat pelipisnya, sedikit kecewa karena sudah membubuhkan tanda tangan pada surat perjanjian kontrak kerja, dimana salah satu pasalnya sungguh tidak masuk akal sama sekali menurut pribadi John.


"Kau harus membaca pasal terakhir!"


Ucapan tersebut masih terngiang jelas—karena suara lembut Hyuji sangat sayang untuk dilewatkan. Dimana pasal tersebut mengatakan jika dirinya harus membayar pinalty jika mengundurkan diri secara sepihak sebelum masa kerja yang tercatat dalam surat perjanjian tersebut berakhir.


"Waaah... aku benar-benar terjebak sekarang!"


John kembali merebahkan dirinya diatas ranjang kecil yang hanya cukup untuk satu orang itu. Lalu meraba saklar diatas ranjang dan mematikan lampu utama, kemudian menghidupkan lampu temaram diatas nakas kecil disisi ranjang tidur sederhana yang ia tempati.


"Aku bahkan tak berniat mengingat hal itu! Tapi dia membuatku tidak bisa melupakannya!" gumam John pelan, memilin ujung selimut yang menutupi separuh tubuh kekarnya." Arrrggh, sial!" gerutu John sambil mengubah posisi sambil mencoba memejam.


Hingga pada akhirnya dia terlelap, menyelami alam mimpi yang ia harapkan akan Indah malam ini.


***


Sesuai janjinya saat baru diterima bekerja, John benar-benar datang tiga puluh menit sebelum jam kerja dimulai. Hari ini dia mengenakan pakaian bernuansa hitam, sebenarnya dia tau itu tidak cocok dengan konsep berjualan bunga yang tentunya harus terlihat lebih ceria.


John melongok kedalam toko, tidak ada tanda-tanda kehidupan didalam sana. Ia yakin pemiliknya belum datang. Hingga manik John melihat presensi yang sedang berjalan dalam balutan kaos berwarna hitam dan juga celana jeans hitam, John menatap dirinya kembali—Sama. John tersenyum simpul menanggapi ketidak sengajaan itu.


Hingga kaki Hyuji berhenti tepat didepan pintu toko, John hanya menjaga jarak agar atasannya itu membuka lahan tempatnya mengais pundi-pundi uang.


"Madam—"


"Jangan panggil aku madam! Panggil aku Hyuji! Itu namaku!" sahut Hyuji kesal dan ketus karen dipanggil madam oleh John.


"Masuk dan bantu aku merapikan beberapa bunga yang sudah layu!"


"Ah, tentu!" jawab John sekilas sembari mengekor dibelakang Hyuji.


Aroma harum alami tercium kala pintu itu berhasil Hyuji buka. John yang semula tidak begitu suka dengan aroma dan juga berbagai jenis bentukan bunga, kini mulai tertarik.


Keduanya sudah hilang dibalik pintu yang bergemerincing. Hyuji meletakkan tas yang ia bawa didalam loker yang ia kunci, menautkan kedua telapak sambil memejam, mungkin berdo'a agar tokonya ramai hari ini—pikir John.


Setelah itu, Hyuji membawa langkah menuju tempat bunga yang sudah layu, bersimpuh kemudian memilah, dan membuang bunga yang layu tersebut kedalam tempat yang sudah ia sediakan. John datang dan turut duduk diseberang Hyuji, membantu memilah bunga.


"Tentang ucapan saya tempo hari, Saya meminta maaf sudah berbicara kurang sopan kepada anda!" ucap John membuka pembicaraan.


"Tidak apa-apa! Kau bebas berbicara padaku dengan bahasa apapun! Terserah!"


"Tapi anda adalah atasan saya, jadi saya rasa kurang tepat jika saya berbicara tidak sopan kepada an—"


Hyuji menghentikan tangannya memilah bunga, mengalihkan pandangan pada sosok tampan dihadapannya, menahan nafas kesal kemudian berkata.


"Sudah aku katakan aku tidak keberatan jika kau bicara formal ataupun informal padaku! Aku tidak mempermasalahkan hal itu!" tutur Hyuji ketus dan juga kesal kepada John. Dan kemudian membawa dirinya berdiri untuk meninggalkan John, meraih beberapa pot bunga hidup untuk ia pajang didepan toko bertujuan untuk menarik minat pelanggan.


Akan tetapi, John buru-buru meraih pot tersebut dari tangan Hyuji dan membawa keluar lalu menatanya disana.


Suasana pagi memang masih lumayan sibuk. Terlihat beberapa orang berlalu-lalang dijalan untuk menuju tempat kerja mereka masing-masing. Dan juga terlihat diluar, pandangan para gadis yang lewat selalu tertuju dan tak lepas pada sosok John yang sedang sibuk menata bunga disana. Memang, John itu definisi sebuah kata sempurna, wajah dan bentuk tubuhnya benar-benar tidak main-main. Bahkan terlihat pula, John yang berlagak sok akrab—genit pada gadis yang tak berpaling saat menatapnya.


Hingga kini, John berhasil membawa dua gadis masuk kedalam toko bunga Hyuji.


"Hyuji-nim! Mereka ingin membeli dua Mawar merah!"


Hyuji sempat terkejut, lalu dengan penuh semangat Hyuji berlari mendekat. Memberikan pelayanan terbaik untuk mereka berdua. Bahkan Hyuji juga sempat mempromosikan jenis bunga lain, berharap mereka akan tertarik. Tapi tidak berhasil, mereka membeli bunga tersebut karena ingin menarik perhatian John saja.


"Terima kasih, silahkan datang kembali..." ucap Hyuji bersemangat saat berhasil menjual dua tangkai Mawar merah kepada pelanggan pertama hari ini.


"Tentu saja kami akan sering datang kak! Tapi, bolehkah kami berfoto bersama pegawai kakak yang tampan itu?"


Hyuji ragu, melirik sekilas pada John yang berdiri diluar, masih merapikan tatanan bunga hidup lainnya. Hyuji tertawa canggung.


"Silahkan!"


Dapat Hyuji lihat diluar sana saat kedua gadis itu berhasil mendekat pada John, pemuda itu sepertinya tidak nyaman. Akan tetapi dia terlihat berusaha untuk membiarkan dua gadis itu ber-swafoto bersama dirinya. "Maafkan aku John... " gumam Hyuji dalam tunduk dan pejaman samar, menyesal karena membiarkan mereka begitu saja tanpa meminta izin terlebih dahulu pada John.


John melambaikan tangan dengan tawa lebar yang dibuat-buat pada dua gadis yang pergi setelah mendapatkan foto bersamanya, kemudian hendak menautkan tatapan jengah pada atasannya yang kurang ajar itu. Bagaimana tidak kurang ajar? Dia membiarkan dua wanita itu mendapatkan wajah tampannya dengan gratis.


Namun apa yang dilihat John kali ini sungguh membuat John merasakan sedikit lega. Maniknya merangkum sosok Hyuji yang tertawa bahagia sambil mencium lembaran uang di yang ia pegang. John turut tersenyum ringan, sembari bergumam. "Syukurlah, tokonya tidak jadi bangkrut!"[]




Terima kasih sudah membaca.


Sampai jumpa di bab selanjutnya. Tap-tap like dan komennya jika berkenan.


Salam Hati Warna Ungu,


💜💜💜


Visca.