
Maniknya berpendar menatap bentangan hijau taman rumah sakit yang begitu Indah. Bahkan dia sempat memaku pandang pada sebuah pohon kering yang dikelilingi bunga berwarna-warni yang Indah. Membuatnya rindu akan tempat dimana dulu dia selalu dikelilingi bunga seperti itu.
Meskipun satu bulan sudah berlalu setelah pertemuan dengan ibu John dan membicarakan masalah yang sudah menyeruak ke permukaan, Hyuji tidak tau bagaimana cara untuk mengajak John bertemu. Ponsel ia matikan, dan dia benar-benar menghilang bak ditelan bumi.
Dia bahkan harus menerima kembali sebagai seseorang yang patut disalahkan karena sang Mama kini terbaring di ranjang rumah sakit. Dan ya, dia selalu ditolak, tidak diberikan izin bertemu meskipun hanya untuk sekedar menengok dan ingin tau keadaan sang Mama.
Keadaan fisik Hyuji juga tidak terlihat baik-baik saja. Tubuhnya terlihat sangat kurus karena kehilangan berat badan yang cukup drastis, kantung matanya juga terlihat jelas sebab tidak bisa tenang dengan pelik masalah yang mengitari dirinya.
Pergelangan tangan kurusnya merogoh saku celana, mengambil ponsel yang hampir satu bulan ini tidak menyala. Kemudian dengan gerakan ragu, dia meraih tombol disamping ponsel untuk menyalakan persegi pintar tersebut.
Ratusan pesan singkat, berserta hampir seribu panggilan masuk yang muncul pada display saat ponsel tersebut sudah menyala. Jemarinya bergetar saat melihat jejeran pesan singkat itu datang atas nama John. Air mata yang sudah hampir mengering itu kembali terburai. Hyuji mengarahkan ponsel tersebut didepan dada, memeluknya erat, tergugu pilu menahan isak yang menyakitkan.
“Maafkan aku, John!”
...***...
Berusaha melupakan, John memaksa dirinya untuk mencari pekerjaan lain sebagai pengalihan kalut dalam benaknya. Dia tak mungkin hanya diam dan meratapi nasib yang mungkin akan terjerembab pada kubangan terdalam sebuah kehancuran. Dia masih punya tanggung jawab lain. Ibu. Ya, setidaknya beliau lah yang menjadi alasan John untuk tetap bertahan hingga saat ini.
Kemeja rapi berwarna putih bersih, celana bahan hitam, dan sebuah dasi yang melilit leher, John siap untuk menghadiri interview dari salah satu perusahaan besar di Busan. Dia mendapat rekomendasi dari ayah YoonKi.
John merapikan anakan rambut yang baru saja ia pangkas pendek dengan gel rambut. Menatanya serapi mungkin dan berharap semuanya berjalan lancar hari ini.
Masih menatap pantulan dirinya di kaca, tiba-tiba atensi John teralihkan saat denting ponsel diatas nakas mencuri perhatian. Tidak biasanya seseorang mengirim pesan untuknya sepagi ini. John sempat berpikir orang dari perusahaan membatalkan jadwal interview. Memutar tubuh dan berjalan beberapa langkah untuk menjangkau gawainya, John tertegun hebat, ekspresinya mendadak berubah, urat diwajahnya menegang saat berhasil membuka balon pesan dan tau isi pesan tersebut. Bak letupan kembang api yang begitu meriah saat tahun baru, John berdebar tidak karuan.
Bisakah kita bertemu hari ini John?
Hyuji mengiriminya sebuah pesan yang tentu saja ia tunggu selama sebulan lebih. Rona merah terlihat jelas di fitur wajahnya yang tegas, bibirnya dengan sengaja ia lipat kedalam, telapaknya bergetar, jemarinya dingin dan berair saat mengetik pesan balasan.
Aku ada interview hari ini,
Belum sempat mengetik kalimat berikutnya, satu pesan baru masuk.
Jam lima sore, di kedai kaki ayam waktu itu.
John tercekat. Dia tak menduga jika Hyuji akan mengajaknya kesana, tapi keinginan Hyuji adalah suatu hal yang tidak bisa sama sekali ia tolak. John menghapus pesan sebelumnya, kemudian mengetik balasan yang menunjukkan jika dia sangat berharap saat ini.
Eoh, baiklah. tolong tunggu aku sebentar jika waktunya sudah lewat.
Tak ada balasan. John terlihat gugup dan segera menekan tombol telepon karena ingin mendengar suara Hyuji. Akan tetapi dia harus rela menelan kekecewaan, nomor Hyuji sudah kembali tidak bisa dihubungi.
—
John berlari terburu-buru saat turun dari bus, melihat jam tangan yang melilit pergelangan tangan yang sudah menunjuk angkablima lewat dua puluh menit, John semakin membuat langkah kakinya bak diburu hantu.
Tampilannya sudah tidak serapi dan seharum tadi pagi. Bulir keringat yang membasahi kening, dan nafas yang terengah hebat, John sedikit menekuk lutut guna mengatur nafas. Meraup oksigen dengan serakah sembari menelan saliva guna membasahi tenggorokannya yang sudah kering, John sudah berdiri tak jauh dari kedai tempat dirinya dan Hyuji membuat janji.
Tersenyum senang saat melihat punggung kecil dalam balutan baju rajut hangat yang ia kenali itu sedang membelakanginya.
Sedikit merapikan baju, John berjalan dengan langkah lebar agar segera mencapai dimana Hyuji berada. Namun pemandangan tak terduga ia dapati saat langkahnya sudah mencapai tempat tersebut. Senyuman John sirna, manik yang biasanya berdenyar Indah bak seisi galaksi ada disana itu mendadak redup. Bibirnya terkatup sedikit bergetar saat melihat Hyuji dihadapannya yang sedang menurunkan gelas berisi minuman hangat.
Gadis itu tersenyum kikuk sambil menatap hangat.
“Kau datang? Duduklah dulu, aku sudah memesan minuman hangat untukmu!“
Ia pikir Hyuji akan mengajaknya minum soju seperti saat itu. Namun kenyataannya tidak, dia memesan minuman hangat karena tau John tidak bisa menenggak minuman beralkohol tersebut.
“Maaf aku terlambat!” ucap John mengungkapkan penyesalan. Tapi Hyuji tersenyum lembut hingga cekungan mata dan lingkaran hitam diwajahnya turut timbul semakin jelas.
“Tidak masalah! Aku senang berada disini! Dan aku sudah menghabiskan satu porsi kaki ayam pedas! Kau memang tidak salah memilih tempat ini, John!”
John memaksa bibirnya untuk tersenyum. Mengusap tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal, John meraih gelas berisi teh matcha yang sudah hampir dingin diatas meja.
“Kau rapi sekali?”
“Ah, ini?! Aku ada interview di perusahaan konstruksi milik teman kak YoonKi!”
Hyuji kembali menyuguhkan senyuman hangatnya. “Syukurlah jika kau mendapat pekerjaan baru! Dan—” Hyuji menjeda ucapannya sejenak, menatap manik John dengan tatapan nyaris kosong dan tak memiliki makna. “...maaf sudah memecatmu tanpa alasan!”
Mungkin itu adalah sebuah kesalahan, tapi Hyuji tidak punya pilihan lain selain memutus hubungan dengan John. Dan dia bahkan rela menelan ludahnya kembali dengan memohon kepada ibu John untuk bertemu kembali dengan pemuda tersebut.
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu!”
Hyuji menatap lurus pada gelas tinggi berisi minuman yang sama dengan milik John, jemarinya mengusap sisi-sisi melengkung gelas dalam rengkuhan telapak kurusnya.
“Katakan saja Noona, aku akan mendengar apapun yang akan kau katakan!” sahut John masih menautkan maniknya pada Hyuji tanpa berpindah sedikitpun.
“Aku, akan pergi untuk waktu yang lama!”
John terpekur, maniknya sedikit memanas. “Kemana kau akan pergi, Noona?”
Hyuji mengangkat wajah, mencoba menghindari tatapan sendu John yang bahkan mampu seketika itu juga membuat keputusannya goyah. Hyuji pikir dia tidak ingin melakukan ini.
Dengan suara bergetar, Hyuji kembali menatap gelas minumannya yang nyaris kosong. Lalu berkata, “Kau tidak perlu tau kemana aku pergi, tapi ingatlah jika kita pernah mengenal! Bahkan sebelum kau menjadi bawahanku di toko bunga!”
Hyuji mencoba membuat lelucon, akan tetapi tidak seperti yang ia harapkan, John hanya memandang lurus padanya.
“Aku serius, kau tidak perlu tau!” lanjutnya dengan rona senyuman hangat. Sedikit bangkit dari tempat duduknya, meraih surai John dan mengacaknya pelan. “Kau tumbuh dengan baik! Bahkan kau lebih tampan dari bayanganku!”
Jujur, John tidak ingin tertawa atau terpesona akan pujian tersebut. Dia bahkan menitihkan tangis saat telapak Hyuji menjauhi fitur wajahnya.
“Sekali lagi maafkan aku, John! Aku pikir ini adalah keputusan terbaik untuk kita!”
“Lalu apa alasannya sampai harus seperti ini?”
Bagai dihantam meteor yang besar tepat di ulu hatinya, Hyuji tertegun.
“Kau akan mengetahui ini suatu saat nanti, bukan hari ini!”
Pahit. Rasanya seperti baru saja seseorang menuang cairan pekat yang melilit lidah, bahkan semua rasa yang beragam seperti permen pelangi itu sirna seketika. Hyuji meremat gelas miliknya dengan perasaan kalut. Hampir saja menangis jika dia tidak segera mengalihkan topik.
“Kuharap kita bisa bertemu lagi nanti!”
Hyuji mengucapkannya dengan hambar. Akan tetapi, ia tentu saja tau John. Pemuda itu masih saja tak beranjak dari wajahnya yang terlampau menyedihkan, lalu berkata. “Baik! Aku akan menunggu hari itu! Hari dimana kita dipertemukan kembali! Tak peduli itu sepuluh musim atau lebih!”
Tak berani sedikitpun mengangkat pandangan, Hyuji tertunduk menyesal karena seolah-olah membuat janji baru yang belum tentu bisa ia tepati.
“Aku akan menunggu!”[]