Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 06



John eyes.



Happy Reading. . .


-


Tanpa Hyuji duga, John berperan cukup baik di toko miliknya. Bagaimana para pengunjung mulai mengenal dan berdatangan silih berganti untuk membeli bunga. Meskipun dia juga tau mereka membeli karena ingin mendapat perhatian pegawai satu-satunya itu.


Hyuji mengunci pintu, melempar tas keatas ranjang dan merebahkan diri dengan pendaran bebas. Tapi entah mengapa, tiba-tiba terlukis pada langit-langit kamarnya, senyuman manis John yang ia lihat seharian ini. Ya meskipun untuk pelanggan sih, tapi Hyuji juga turut menikmatinya.


"Haaah... "Hela nafas Hyuji cukup panjang. Kemudian jemarinya itu meraih tas yang tergeletak disampingnya. Hyuji perlahan kembali membawa diri untuk duduk ditepian ranjang, mengeluarkan lembaran uang hasil penjualan hari ini. Cukup banyak, dan semua ini tak luput dari usaha pegawainya itu. John Wilson.


Ada sekitar seratus ribu won lebih, dan itu adalah laba bersih penjualan hari ini. Hyuji tersenyum bangga saat merasa usahanya mulai berkembang. "Ternyata aku tidak salah menjadikan John pegawai! Meskipun terkadang dia memang menyebalkan!" gumamnya senang, mengingat tokonya ramai pengunjung, dan senyuman ituβ€”


Hyuji terkejut bukan main.


Baru beberapa detik Hyuji dalam kondisi tenang dengan hati senang, seseorang menggedor pintu kamar dari luar. Dan itu adalah suara SoRa, kakak pertama Hyuji yang suka kasar dan tidak segan memukul Hyuji. Kadang Hyuji bertanya-tanya, apa mereka benar-benar lahir dari rahim yang sama? Hyuji bahkan tak bisa merasakan perlindungan apapun dari sosok keluarganya, kecuali sang ayah.


"Cepat buka pintumu, atau aku akan menghancurkannya Hyu!"


Sial.


Hyuji memasukkan uang itu kembali dan meletakkan tas didalam lemari kemudian menguncinya rapat. Lalu berjalan gontai, mencoba untuk tak berpikiran buruk. Memutar kunci dan meraih kenop pintu untuk ia buka. Namun kakaknya itu sudah mendorong kasar daun pintu tersebut hingga tanpa sengaja memukul tepat diwajah Hyuji. Akan tetapi Hyuji tidak mengaduh sakit, lebih memilih diam atau kakaknya itu semakin menyakitinya.


"Lama sekali? Kau sedang menyembunyikan apa?"


"Aku hampir melepas pakaianku dan akan mandi!" bohong Hyuji. Ia bahkan tak tau sebesar apa dosa kebohongan yang melekat pada kedua bahunya saat ini. Hyuji tak peduli.


SoRa menelisik setiap sudut kamar Hyuji, tak ada apapun.


"Mama dan papa pergi keluar kota untuk dua hari,"


Ah, Hyuji benci mendengarnya. Itu artinya, dia akan berada dibawah kendali kedua kakaknya yang tidak punya hati nurani itu. Kemudian saat mama mereka kembali nanti, pasti akan ada saja hal yang mereka buat-buat agar mamanya semakin benci pada dirinya. Hyuji lelah sekali dengan semua itu.


"Berikan kartu kreditmu! Biar aku yang membawanya!"


"Kak, itu hakku! Bukankah kakak sudah memiliki fasilitas yang lebih dari sekedar kartu kredit dari mama? Bahkan aku tak pernah iri dan meminta hal yang sama pada mama!" kesal Hyuji.


Memberikan itu, sama saja menyerahkan separuh hidupnya. Tidak, Hyuji takkan memberikannya. Bagaimana dia akan menggaji John nanti jika pendapatan toko tidak mencukupi? Dan bagaimana juga jika seandainya toko membutuhkan sesuatu yang mendadak?


Akan tetapi, penolakan lembut dari Hyuji tidak bisa diterima oleh SoRa. Dia berjalan mendekat pada Hyuji, mengacungkan jari telunjuknya tepat di kening untuk mendorong kepala Hyuji.


"Kau berani padaku?"


Sontak tubuh Hyuji juga turut terdorong kebelakang. Langkahnya juga terbawa.


"Kau bahkan pandai bicara sekarang! Siapa yang mengajarimu? Katakan padaku!"


Hyuji hanya diam dan membiarkan dirinya tetap terdorong kebelakang, hingga tanpa ia duga dia terjatuh dan kepala belakangnya membentur keras siku nakas. Sakit sekali. Hyuji meringis sambil memegangi belakang kepalanya yang terasa seperti akan pecah itu. Pening, pandangan Hyuji mulai berkunang.


SoRa tertawa dingin saat melihat Hyuji meringis kesakitan.


"Kenapa? Sakit ya?"


Luar biasa. Kakaknya itu memang tidak memiliki hati. Kini, SoRa membungkuk, menautkan tatapan mata pada Hyuji dan berbisik pelan. "Akan lebih menyenangkan jika menyiksamu hingga sekarat! Tapi tidak untuk saat ini! Belum waktunya!"


Bibir Hyuji bergetar, dia bahkan tersenyum diantara rasa sakit dan juga kecewanya. "Lalu, mengapa tidak kau lakukan sekarang saja? Mama dan papa sedang tidak ada! Bukankah ini kesempatan untukmu?" tantang Hyuji.


Manik SoRa membola dipenuhi amarah. Dia bahkan menangkup pipi Hyuji dengan telunjuk dan ibu jarinya saat ini. "Tidak, akan ada saatnya! Tidak hari ini!"


Nafas Hyuji tersengal, "Kak, katakan padaku! Mengapa kakak membenciku seperti ini? Sedangkan aku tidak pernah merebut apapun darimu!"


SoRa melempar wajah Hyuji kesamping, tersenyum sinis. "Kau akan tau nanti!"


SoRa pergi begitu saja. Menutup pintu kamar Hyuji dengan kasar dan suara dentuman keras yang membumbung. Hyuji mencoba bangkit, meraih tepian ranjang dan tertatih dengan kepala yang berdenyut mengerikan.


Ah, mengapa lukisan kehidupannya begitu menyedihkan. Hyuji menertawakan takdirnya yang terlahir dari keluarga kaya namun tak pernah merasakan secuil kebahagiaan ini.


Tiba-tiba saja, darah mengalir dari hidungnya. Tidak banyak, namun mengejutkan karena selama ini Hyuji sama sekali tak pernah mengalami hal tersebut. Langkahnya kembali tertatih untuk menjangkau tissue yang ada diatas meja belajar, lalu mengusap darah itu hingga bersih.


Hyuji menggeleng karena pandangannya semakin memburam. Ia letakkan kepalanya diatas meja hingga tanpa sadar ia terlelap disana. Entah karena lelah dan mengantuk, atau karena pusing yang semakin menjadi dan pingsan.


***


Seperti biasa, John akan naik bus untuk sampai ditempat kerjanya. Dia cukup bahagia dan bersemangat hari ini.


Hingga kedua kakinya terhenti kala hendak mencapai toko bunga milik Hyuji. Mendapati sang pemilik sedang membuka toko, John melirik jam tangan yang melilit di lengan kirinya. Masih tiga puluh menit lagi, tapi tidak biasanya Hyuji datang cepat seperti itu. John berlari mendekat.


"Tidak biasanya anda datang sepagi ini Hyuji-nim?"


"Sudah aku bilang bicara formal saja! Panggil namaku!"


"Ah, baiklah!"


John memirsa Hyuji yang terlihat sedikit pucat.


"Kau sakit?"


"Eummm! Aku akan pergi kerumah sakit sebentar!"


Hyuji berjalan masuk dan berpesan pada John untuk memilah bunga yang terlihat layu. John masih belum terbiasa dengan wajah muram Hyuji. Gadis itu terlihat seperti saat pertama kali bertemu. Tatapannya kosong.


John mendadak khawatir.


"Apa perlu aku mengantarmu Hyuji-nim?"


"Tidak!" jawab Hyuji singkat, mengeluarkan selembar biro gilyet dan menyerahkannya kepada John. "Nanti ada salah satu suplier bunga datang! Kau hanya perlu tanda tangan pada surat terima, dan serahkan ini kepadanya!"


John hanya mengangguk mengerti. Akan tetapi, rasa khawatir akan Hyuji belum juga sirna.


"Kau yakin tidak mau diantar, Hyuji-nim?"


Hyuji mengangguk dan menautkan kembali tas slempang hitam itu dibahunya.


"Jangan lupa bersihkan ruangan, pilah bunga yang sudah layu, dan tata bunga hidup itu didepan toko!" titahnya yang disanggupi John dengan anggukan paham. "Hubungi aku jika kau tidak tau harga salah satu dari bunga ini! Nomorku ada dikartu nama di meja itu!"


"Baiklah!"


"Aku pergi dulu! Nanti aku kembali lagi!"


John mengangguk sekali lagi dengan bibir mengerucut kedepan. Hingga presensi Hyuji benar-benar hilang di balik pintu, John melakukan apa yang diperintahkan Hyuji padanya. Menata bunga diluar toko, membersihkan ruangan, kemudian memilah bunga-bunga cantik yang mulai layu.


"Wah, sayang sekali kau harus dibuang!" ucapnya bermonolog pada bunga berwarna ungu yang ada dalam genggamannya. "Padahal kau sangat cantik!" lanjutnya sambil melempar kedalam kantong sampah.


Sedetik kemudian, dia teringat pada sosok Hyuji malam itu. Bagaimana gadis itu hendak mengakhiri hidupnya sendiri, yang bahkan John tak tau penyebabnya. Hyuji sendiri pandai menyimpan rahasia.


"Apa dia membuka toko ini untuk sekedar menghilangkan beban yang ia simpan sendiri? Atau, ada beban lain yang membuatnya nekat berbuat seperti itu?!"


John menatap bunga Mawar dengan kelopak yang mulai berguguran. "Dia cantik seperti bunga, tapi entah mengapa dia terlihat menyimpan kesedihan yang teramat dalam di wajahnya?"


Akan tetapi, John mencoba menepis semua itu dan berpikir realistis. Meyakinkan dirinya sendiri jika asumsi yang ia buat itu salah. "Mungkin dia sedang sakit, jadi wajahnya muram seperti itu! Ya, pasti begitu!"[]


β€’


β€’


Hayo, ada yang tau siapa pemilik mata bulat itu?


Terima kasih sudah membaca Adagio.


Tap-tap like dan komentar jika berkenan.


Salam Hati Warna Ungu,


πŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Vizca.