Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 09



Hyuji mengerjap, kedua pupilnya mencoba menyesuaikan dengan bias cahaya yang masuk melewati jendela kamar. Menggeliat dengan kedua lengan terjulur keatas dan tanpa sengaja memukul kepala ranjang. Hyuji mulai sadar jika tempat ini bukanlah kamarnya.


Ayo kita pergi makan malam setelah toko tutup! Aku akan mentraktirmu!


Benar, dia dan John pergi kesebuah kedai dipinggir jalan kemudian makan seporsi kaki ayam pedas. Hyuji kembali mengerjap guna mengumpulkan kesadarannya. Hingga sebuah perkataan kembali muncul dalam ingatannya.


Ini, kunci toko! Mungkin aku besok akan datang terlambat, jadi buka toko dan lakukan pekerjaanmu seperti biasa!


"Ah, benar!" Hyuji bangkit dengan kasar, duduk dan memutar bola matanya untuk melihat kamar yang sedang ia tempati. "Sial!!!" umpatnya saat tak tau apa yang terjadi setelah itu. Hyuji mengira dirinya sudah melakukan kesalahan dan berakhir di ranjang bersama laki-laki yang mungkin saja tidak ia kenal. Hyuji mengacak surainya penuh frustasi, hingga maniknya menangkap sebuah bingkai foto yang ada diatas nakas, dibawah lampu tidur.


Hyuji memperhatikan lamat. Sepertinya gambar yang tidak asing. Lengannya terulur hendak menggapai bingkai foto tersebut, namun terhenti kala seseorang membuka pintu. Hyuji tercekat.


Namun presensi dihadapannya membuatnya bertanya-tanya dan juga sedikit lega.


"Kau sudah bangun nak?"


Hyuji mengerut dahi. Seorang wanita paruh baya, apa dia tergeletak dijalanan karena John tak peduli padanya? Lalu wanita ini memungutnya?


Ah, entahlah! Fikiran Hyuji kalut.


"I-iya..."


"Bangun dan bersihkan dulu dirimu! Lalu segera keluar dan sarapan!"


Hyuji benar-benar bernafas lega sekarang, karena seorang wanita baik hati yang menolongnya.


Setelah membersihkan diri dan terpaksa memakai pakaian yang ia pakai tempo hari, Hyuji keluar dari kamar John dengan membawa sling bag nya. Disambut senyuman hangat dari wanita paruh baya, yang belum ia ketahui jika ia adalah ibu John.


"Maaf merepotkan bibi, dan terima kasih sudah menolong saya!"


"Ah, makanlah dulu sup pereda pengar itu! Aku yakin kau sedang tidak dalam keadaan baik sekarang!"


Hyuji duduk perlahan pada salah satu kursi, dengan canggung dan ragu meraih mangkuk berisi sup yang disodorkan wanita paruh baya itu.


"Jadi kau pemilik toko tempat John bekerja?"


Hampir tersedak, Hyuji menahan kuat-kuat hingga wajahnya memerah. Jelas sekali jika dia sedang terkejut, tentu saja karena ucapan sang bibi.


"Da-darimana bibi tau hal itu?"


"John yang bilang! Dia membawamu kesini semalam karena tidak tau harus membawamu kemana?"


Bodoh.


Hyuji sudah terlanjur berprasangka buruk pada pemuda itu, yang ternyata malah pemuda John tersebut yang membawanya kerumah ini. Jadi—


"Dia sudah berangkat pagi-pagi tadi ketoko, dan berpesan agar membiarkan dirimu beristirahat!"


"Jadi, bibi ini, ibunya John?"


Wanita itu mengangguk, dengan senyuman sama persis seperti milik John. Membuat Hyuji yakin meskipun misalnya tadi tidak mendapat jawaban.


"Sekali lagi, maaf merepotkan bibi dan juga John!"


"Tidak! Aku malah bersyukur putraku bertanggung jawab! John itu sedikit sembrono, tapi dibalik itu semua, dia pemuda baik!"


Ucap wanita paruh baya itu sambil menyodorkan segelas susu hangat didepan Hyuji, kemudian melipat kedua lengan diatas meja sembari memperhatikan wajah Hyuji dan membuat gadis itu tertunduk malu.


"Aku sering memarahi dan memukulnya dengan gagang sapu jika dia pulang dalam keadaan mabuk! Sebab itulah, sekarang dia bahkan tak pernah meminum soju!"


Hyuji sadar, dia salah besar sudah mengajak John meminum soju kemarin malam. Merasa tak enak, Hyuji bergegas menghabiskan sarapan buatan ibu John agar dapat segera pergi ke toko bunga, yang pastinya John sudah berada disana.


"Sering-seringlah main kesini! Akan kubuatkan makanan enak jika kau berkunjung!"


"Ahahaha... Saya akan meluangkan waktu saya untuk mampir!"


***


Ada kalanya, sebuah kebahagiaan itu bisa dirasakan hanya dengan berkumpul dengan orang yang menurut kita sangat berarti. Hal itulah yang selalu menjadi bayangan Hyuji selama ini, bersama ayah, ibu, serta kedua kakaknya, bahagia, tertawa bersama. Namun semuanya itu hanya angan semata, tidak ada dalam kenyataan.


Tanpa terasa langkahnya sudah sampai tepat didepan toko bunga miliknya. Sudah ditata rapi sedemikian hingga, dan satu pegawainya didalam sana terlihat sibuk melayani dua pelanggan yang masih muda. Semua terlihat dari luar, membuat Hyuji tiba-tiba mengulum senyum saat mengingat kebaikan John kepadanya.


"Dia pemuda baik, hanya saja terkadang memang menyebalkan!" gumamnya pelan kemudian kembali melangkah untuk masuk kedalam toko.


Bisa dipastikan, nanti John akan menjadi cerewet setelah pelanggan itu pergi, Hyuji sudah menyiapkan beberapa jawaban untuk itu.


"Aku datang..." ucapnya bersamaan suara gemerincing lonceng yang terpasang dipintu masuk toko.


"Eoh, kau datang?!" jawab John singkat, membiarkan Hyuji melewatinya begitu saja karena masih harus mengutamakan pelanggan.


Sesekali, John melirik kearah Hyuji yang kini membuka buku besar yang ada diatas meja. Dan belum sempat bertanya, John sudah membuka pembicaraan terlebih dahulu.


"Supplier dragon flower datang tadi pagi!"


"Ah..." sahut Hyuji singkat. Kemudian kembali menatap John dan bertanya, "Pembayarannya?"


"Ah, jangan khawatir! Tagihannya tidak seberapa, jadi aku memakai uangku untuk membayarnya!"


Hyuji mengangguk, dan berniat akan menggantinya nanti. Beserta uang makan dikedai, semalam.


Mendadak mual, Hyuji bergegas kekamar mandi. Dan saat keluar dari sana, John sudah sendirian, menatap dengan manik rusa yang terlihat cemas.


"Kau baik-baik saja kan? Ibu sudah memberikan pereda pengar kan?"


Hyuji mengangkat telapak tangannya sembari mengangguk samar untuk menghentikan cerocos John. Pemuda itu memang berisik, menurut Hyuji.


"Aku baik-baik saja! Ibumu juga merawatku dengan baik tadi pagi! Terima kasih!"


Masih belum bisa menerima begitu saja, John mengikuti Hyuji dan duduk tepat didepan atasannya itu. Tentu saja dengan mata bulat menggemaskan dan memikat miliknya.


"Uangmu, akan aku ganti nanti!"


"Tenang saja!" sombong John, padahal semalam dia mengeluh kepada sang ibu karena uangnya habis.


"Aku berhutang banyak Budi padamu John! Sebaiknya kau berhenti bersikap baik padaku! Aku tidak sebaik yang kau kira!"


"Benarkah? Lalu... apa aku harus meminta ganti rugi juga?"


"Ganti rugi?" tanya Hyuji sedikit bingung.


"Eung!"


Okey, Hyuji tidak mau memperpanjang urusan ini. Maka dia mengangguk paham. "Baiklah! Berapa yang harus aku bayar?"


John menggeleng, dia tersenyum manis kepada Hyuji. "Jadilah kekasihku saja! Itu sudah cukup!"[]