Adagio |Risk Of Life|

Adagio |Risk Of Life|
Adagio 15



Terakhir kali John duduk disebuah sofa empuk dan mewah itu saat datang kerumah kakak se-permainannya, YoonKi. Dan hari ini, dia duduk disofa yang ia rasa, harganya lebih mahal dari yang ada dirumah YoonKi.


John juga masih ingat, cangkir yang digunakan untuk menyuguhkan teh kepadanya tadi terlihat bukanlah benda murahan yang biasa diperjual belikan dipasar dengan harga merakyat.


Hembusan angin menerpa wajah tampannya dari balik kaca jendela bus yang ia tumpangi. Ia pikir Hyuji mungkin masih tersinggung dan benar-benar sedang menjauhinya saat ini. Sebab, Hyuji menolak menemuinya tadi. John sedikit kecewa, namun tidak bisa berbuat apapun dan segera beranjak saat itu juga.


“Apa ini artinya aku harus berhenti bekerja? Aku merasa tidak enak pada Hyuji noona!” tegasnya pada diri sendiri, sekali lagi.


-


Mungkin bagi Hyuji, menjadi dirinya sendiri adalah hal yang paling menyenangkan. Akan tetapi, menjadi seorang pengecut adalah hal yang paling ia benci dalam dirinya juga. Bagaimana tidak, menolak bertemu John dan membiarkan orang lain yang menyampaikan hal itu bukanlah keinginan Hyuji. Dia hanya tidak ingin pemuda itu melihat keadaannya yang menyedihkan seperti sekarang.


Dan ia hanya mampu menatap kepergian John dari balik tirai kamar yang ia singkap sedikit, melihat pemuda itu benar-benar telah menjauh dari pintu pagar rumahnya. Setelah itu menatap bungkusan yang ada diatas nakas, yang dibawa bibi Park tadi. Katanya, itu adalah pemberian pemuda yang tidak mau menyebutkan nama pada bibi Park tadi. Dia adalah John.


Bersamaan dengan itu, pintu kamarnya dibuka seseorang. Hyuji tersenyum dan lari menghambur ke dalam pelukan sang ayah.


“Kapan papa pulang?”


“Baru setengah jam yang lalu!”


Hyuji menghirup aroma menenangkan dari sang ayah, memejam nyaman dengan senyuman dan juga airmata yang ia tahan kuat-kuat.


“Kenapa kau seperti ini?” tanya sang ayah, menjauhkan diri dari Hyuji dan memandangi wajah Hyuji yang terlihat lebam dan sedikit membiru dibeberapa bagian tertentu. “Kata Nami, kau terjatuh dari tangga saat turun ke bawah,”


Seperti itu ya, skenario nya?


“Ahahah... Iya, aku kurang berhati-hati Pa.” jawab Hyuji dengan tawa yang ia buat-buat.


“Lain kali berhati-hatilah, papa tidak ingin melihat Putri cantik papa terluka seperti ini! Mengerti?!”


Seketika itu juga, airmata Hyuji luluh. Ia tak sanggup menahannya lagi dan kembali memeluk sang ayah, menyembunyikan wajah sendunya didada sang ayah. “Maaf, membuat apa khawatir...”


Benar, masih ada ayahnya yang peduli dan khawatir akan dirinya. Juga bibi Park yang sangat menyayangi dirinya. Demi mereka berdua lah Hyuji seharusnya bertahan, bukan?


Tuan Song membawa Hyuji untuk duduk ditepian ranjang, mengurai rambut hitam sebahu milik Hyuji dengan lembut dan penuh kasih.


“Ada pemuda tampan mencari mu tadi,”


Hyuji hanya diam, tersenyum sambil menunduk karena merasa sedikit malu kepada sang ayah. “Apa dia kekasihmu yang menyamar menjadi pegawai toko yang katanya milikmu!”


Hyuji terbelalak, dia memang tidak pernah memberitahu John perihal toko bunga yang ia buka secara diam-diam itu. Hyuji semakin cemas saat ayahnya menyambung kalimatnya. “Apa kau menyembunyikan sesuatu dari papa?”


Well, Hyuji tentu saja terbelalak mendengar pertanyaan ayahnya itu. Namun Hyuji hanya bisa kembali membawa wajahnya untuk bersembunyi dibalik surai yang kembali terjuntai.


“Maaf tidak pernah mengatakan ini sebelumnya pada papa,” jawab Hyuji, meremas kesepuluh jari diatas pangkuan. Takut jika ayahnya turut membenci dirinya karena menyembunyikan hal seperti itu dari sang ayah. “...Hyuji memang membuka toko bunga disalah satu daerah, di Seoul!”


Mendadak hening, Tuan Song mengamati setiap ucapan putrinya itu dengan seksama. “Maaf karena tidak pernah mengatakannya pada papa, tapi aku hanya tidak ingin membuat papa—”


Wajah Hyuji mendongak seketika mendengar pujian dari ayahnya itu. Karena selama ini, ia tak pernah sedikitpun mendengar pujian yang ditujukan untuknya jika didalam rumah mewah ini.


“Disaat kedua kakakmu itu masih bergantung pada papa, kau justru sibuk membuat dirimu sendiri menjadi sosok yang berharga dan tegar dimata papa!”


Hyuji menahan senyum, bibirnya bergetar karena merasa senang. Tapi entah mengapa justru airmata yang keluar dari pelupuk matanya.


“Kau adalah putri Papa yang cantik dan terbaik! Papa benar-benar bangga padamu, Song Hyuji!”


***


Seminggu berlalu, lebam dan juga luka diwajah Hyuji sudah sepenuhnya memudar, hanya cukup menutupi sedikit dengan make-up dan itu berhasil. Hyuji menuju toko bunga miliknya, dimana pegawai satu-satunya yang ia miliki itu sudah terlebih dahulu membuka, membersihkan dan menata rentetan bunga-bunga yang masih semerbak.


“Selamat pagi,” sapa Hyuji, seperti biasa, dengan nada datarnya.


John hanya membungkuk sekilas, kemudian kembali memunggungi Hyuji yang saat ini menghentikan langkah. Menerka perbedaan pada pegawainya itu.


Hyuji memiringkan sedikit kepala dan mencoba menerka apa yang sedang terjadi pada John, karena jujur, Hyuji merasa seperti ada yang kurang jika John bersikap demikian.


“Apa kau sedang sakit?” tanya Hyuji, memecah keheningan diantara keduanya.


John menggeleng, kemudian tersenyum saat kedua manik mereka saling tertaut. "Tidak, syukurlah noona sudah sehat dan dapat kembali bekerja!” jawab John seadanya, yang membuat Hyuji merasa semakin canggung. Kemudian memacu langkah menuju meja miliknya. Dilihatnya John masih bersikap tak acuh dan tidak seperti John biasanya, membuat satu pikiran terbesit dalam kepala Hyuji.


“Terima kasih atas besukannya hari itu,“ Hyuji sengaja mejeda, mencoba melihat respon John untuk topik yang dibawanya saat ini. “Tapi maaf, saat itu aku benar-benar tidak bisa menemuimu!”


Kali ini John membalik tubuh demi melihat presensi Hyuji. “Tidak apa-apa, seharusnya aku membawa sesuatu yang lebih terlihat pantas saat datang kerumah noona!” tutur John, sambil memijat tengkuknya samar.


“Tidak, aku suka oleh-oleh yang kau berikan padaku!”


“Benarkah?” mendadak John penuh semangat. Maniknya terlihat membulat sempurna dan berbinar, serta sedikit ulasan senyum tercetak dibibirnya.


Hyuji mengangguk, tersenyum lembut mencoba membuka diri. “Lain kali, belikan aku Bungeoppang lagi, yang banyak!”


John tersenyum kaku, menggaruk kepala karena gugup dengan wajah sedikit merona. “Ya, aku akan membawanya lagi untuk noona, lain kali!”


Dan pagi itu kembali berjalan sebagaimana semestinya setelah Hyuji berhasil menebak sebab musabab kediaman John. Hati Hyuji menghangat, setidaknya ada satu orang lain yang membuatnya harus bertahan. John Wilson. Ya, pemuda yang awalnya ia anggap sedikit berbeda, akan tetapi mampu membuat hatinya menghangat dengan degup yang sedikit berbeda. Hyuji baru menyadari akan hal itu.


John adalah salah satu alasan terbesarnya untuk tetap hidup, setelah malam kelam itu terlewati. Pemuda itu pula yang menyelamatkan dirinya dari gelapnya pemikiran Hyuji malam itu untuk mengakhiri hidup. Hyuji memiliki hutang besar untuk John yang tidak akan sanggup ia bayar dengan uang.


Ya, John adalah alasan jantung Hyuji masih berdetak hingga saat ini.


Memunculkan sebuah debar yang terasa sedikit menggelisahkan, seperti sebuah debar yang ia rasa saat menaruh perasaan kepada seseorang, sebuah debar yang membuatnya terihat konyol, yang sering ia maknai dengan kata,


Cinta. []