A NINJA'S REVENGE

A NINJA'S REVENGE
Episode 8 Memulai Hidup Baru



Waktu hampir malam, tubuh Gavin, Gabby, dan Hirotta sudah menggigil karena seharian berendam di dalam air.


"Waktunya sudah selesai, kalian boleh naik," seru Sensei Geomon.


Ketiganya dengan cepat langsung naik, tubuh mereka benar-benar menggigil bahkan Gabby sudah hampir pingsan.


Masuk ke dalam gua, sudah ada api unggun di sana dan ketiganya langsung menghangatkan tubuhnya. Sensei Geomon memberikan 3 air dengan tempat airnya terbuat dari bambu.


"Kalian harus meminumnya sampai habis, jangan ada yang terbuang sama sekali," seru Sensei Geomon.


Ketiganya langsung meminumnya, baru saja satu tegukan mereka tanpa sadar menyemburkan air itu secara bersamaan.


"Astaga, pahit sekali air apa ini?" seru Hirotta.


"Jangan banyak bertanya, habiskan minuman itu," seru Sensei Geomon dingin.


Karena takut dengan tatapan Sensei Geomon, mereka bertiga pun dengan cepat menghabiskan air itu bahkan ketiganya menahan napas untuk meminumnya.


"Itu adalah darah kelelawar dicampur dengan empedu monyet," seru Sensei Geomon santai.


"Apa?"


Ketiganya langsung bangkit dan muntah-muntah, sungguh mereka sangat jijik mendengarnya.


"Makanlah, semuanya sudah siap."


"Ini apa? aku gak mau makan lagi," seru Gabby trauma.


"Sama, aku juga lebih baik kelaparan," sambung Hirotta.


"Itu daging rusa, rasanya enak cobalah. Itu sebagai hadiah, karena kalian bertiga sudah mampu melewati tahap pertama."


"Vin, cobalah dan kasih tahu bagaimana rasanya," seru Hirotta.


"Iya Bang, kamu duluan yang nyoba," sambung Gabby.


Perlahan Gavin mulai mencoba daging itu, dan benar saja rasanya begitu sangat enak sampai-sampai Gavin tidak bisa berhenti makan.


"Wah, kalau Bang Gavin makannya lahap seperti itu berarti enak," seru Gabby.


Gabby dan Hirotta pun mencobanya dan ternyata rasanya memang sangat lezat.


"Huawaaa...lezat sekali!" teriak Hirotta.


Ketiganya berebut makan daging rusa itu membuat Sensei Geomon menyunggingkan sedikit senyumannya.


***


Keesokan harinya...


Mami Queen memutuskan untuk membawa Alea ke kampung halaman Neli yaitu kampung janda. Di sana Alea akan tinggal bersama Neli dan di jaga oleh Neli, Mami Queen pun akan sering menjenguk ke sana.


Papi Rifki hanya bisa melihat kepergian anak kesayangannya lewat jendela kamarnya, karena Papi Rifki tidak mau melihat Alea histeris ketakutan melihatnya walaupun dalam hatinya, Papi Rifki ingin sekali memeluk Alea.


"Maafkan Papi, Nak. Papi akan selalu mendo'akanmu semoga kamu segera sembuh supaya Papi bisa kembali memelukmu dan bercanda lagi seperti dulu," gumam Papi Rifki.


Pak Darna mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu dan melajukannya menuju kampung janda yang keberadaannya entah dimana. Di dalam mobil, antara kursi depan dan belakang dipasang pembatas oleh kain supaya Alea tidak bisa melihat Pak Darna, sedangkan Mami Queen menyuruh Pak Darna untuk tidak bicara sedikit pun.


Selama dalam perjalanan, Alea tidak bicara sama sekali dia hanya melihat ke luar jendela dan memperhatikan jalanan dengan tatapan kosongnya.


Mami Queen menggenggam tangan Alea membuat Alea menoleh ke arah Maminya itu.


"Mami yakin, kamu pasti akan sembuh. Jangan lupa minum obatnya ya," seru Mami Queen.


Tidak ada reaksi apa-apa dari Alea, dia kembali terdiam dan menyandarkan tubuhnya sembari memejamkan matanya.


***


Sementara itu, di Negara yang berbeda Gavin dan yang lainnya kembali berlatih. Kali ini Gavin, Gabby, dan juga Hirotta berlatih jurus-jurus dasar mengenai Ninja.


"The Blood, tunggu pembalasanku," batin Gavin dengan raut wajah penuh dengan amarah.


Butuh waktu yang sangat lama untuk sampai di kampung janda, bahkan jalan menuju kampung janda sangatlah sulit masih berlumpur dan belum teraspal.


"Astaga, jalannya susah banget," seru Mami Queen.


"Maaf dokter, keadaannya memang seperti ini dan pemerintah pun belum ada yang datang ke sini untuk memperbaiki jalan," seru Neli.


"Ya Allah, pantas saja mobil yang membawa para suami sampai terjatuh, jalannya ekstrim kaya gini."


Beruntung saat ini cuaca cerah jadi jalanan masih bisa dilewati dengan lancar, tidak kebayang kalau musim hujan pasti becek dan licin banget itu jalanan.


Akhirnya mereka sampai di kampung janda menjelang sore, Neli disambut bahagia oleh para penduduk di sana karena Neli sudah hampir 3 tahunan tidak pulang kampung.


"Ayo Bu dokter, ikut saya," ajak Neli.


Mami Queen dan Alea mengikuti langkah Neli, sedangkan Pak Darna disuruh diam di dalam mobil.


Neli mengajak keduanya ke sebuah rumah sederhana.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, ya Allah Neli, beneran ini Neli anakku?" seru Ibu Milah.


"Iya Bu, ini Neli. Maaf Neli baru bisa pulang sekarang."


Ibu Milah memeluk anaknya itu dengan deraian airmata, Neli melepaskan pelukannya.


"Bu, kenalkan ini Dr.Queen dan ini Alea putrinya Dr.Queen," seru Neli.


"Apakabar Bu."


"Alhamdulillah baik, mari silakan masuk. Maaf ya rumah kami memang sangat sederhana," seru Bu Milah.


"Tidak apa-apa Bu."


Mami Queen pun menceritakan semuanya tentang keadaan Alea.


"Ya Allah, kasihan sekali nasib kamu Nak," seru Ibu Milah.


"Maka dari itu, saya mau menitipkan Alea di sini katanya di sini tidak ada pria dan penghuninya wanita semuanya jadi mudah-mudahan Alea bisa cepat sembuh."


"Amin, Bu dokter."


"Oh iya, apakah di sini ada rumah kosong? nanti saya akan membelinya," seru Mami Queen.


"Ada Bu dokter, di samping rumah saya ini adalah rumah kosong kebetulan pemiliknya baru pindah satu bulan yang lalu."


"Baguslah, nanti tolong Ibu suruh orang-orang di sini untuk bantu membersihkan rumahnya, jangan khawatir saya akan bayar kalian."


"Baik Bu dokter."


"Alea sayang, sekarang Mami pulang dulu ya, Mami akan ke sini seminggu sekali untuk menemuimu. Kamu harus berusaha melawan rasa takutmu supaya kamu sembuh dan bisa hidup normal lagi seperti dulu," seru Mami Queen dengan mata yang berkaca-kaca.


Alea tidak berkata apa-apa, dia hanya terdiam dengan tatapan kosongnya.


"Neli, tolong jaga Alea ya? kalau ada apa-apa cepat hubungi saya."


"Baik Bu dokter."


Mami Queen pun akhirnya memilih untuk pulang, sebenarnya Mami Queen berat sekali meninggalkan Alea karena dari kecil hingga dewasa, Mami Queen tidak pernah jauh dari Alea.


"Alea, kita istirahat dulu ya," seru Neli.


Neli pun membawa Alea ke kamarnya, sebelum tidur Neli pun memberikan obat kepada Alea dan tidak membutuhkan waktu lama, Alea akhirnya memejamkan matanya dan terlelap.