A NINJA'S REVENGE

A NINJA'S REVENGE
Episode 12 Mulai Membaik



2 Tahun kemudian....


Tidak terasa dua tahun sudah semuanya menjalani hidup masing-masing, Alea sudah mulai membaik bahkan sudah mengarah ke kata sembuh karena Alea sudah tidak mimpi buruk lagi, tidak teriak-teriak lagi, dan tidak menangis secara tiba-tiba lagi.


Tinggal menghilangkan rasa traumanya saja kepada pria dan saat ini Neli sedikit demi sedikit sedang mengobati Alea dengan banyak bercerita mengenai pria.


"Nel, hari ini boleh tidak aku ikut kamu dan ibumu ke sawah," seru Alea.


"Boleh, tapi sawahnya jauh di kaki gunung itu."


"Gak apa-apa, aku jenuh diam di rumah terus."


"Ya sudah kalau kamu mau ikut, ayo kita berangkat sekarang."


Saat ini Alea sudah kembali ke Alea yang dulu, bahkan Mami Queen sangat bahagia kalau anaknya saat ini kondisinya sudah mulai membaik.


Mami Queen dan Dr.Dini secara rutin seminggu sekali datang ke kampung itu untuk melihat keadaan Alea, berbeda dengan Papi Rifki yang masih harus menunggu lagi untuk bisa bertemu dan memeluk anaknya itu.


Alea, Neli, dan Ibu Neli pun segera pergi ke sawah yang berada di kaki gunung, tidak lupa di samping sawah itu ada sungai yang mengalir dan airnya sangat jernih.


Neli dan Ibunya turun ke sawah untuk menanam padi, sedangkan Alea duduk di pinggir sungai sembari bermain air di sana.


"Alea, awas jangan terlalu ke sana soalnya airnya deras!" teriak Neli.


"Iya Nel, aku hanya di pinggiran saja kok."


Neli dan Ibunya mulai melakukan kegiatannya, sementara itu Alea mengusap tengkuk lehernya.


"Kok tiba-tiba aku merasa merinding ya," gumam Alea.


Perasaan Alea memang benar, dari kejauhan Ratu Mustika Arum sedang memperhatikan Alea. Selama satu tahun ini, sang Ratu memang sudah mengetahui keberadaan Alea tapi sang Ratu tidak berani mendekat sebab Alea menggunakan kalung pelindung yang diberikan oleh Sensei Geomon.


"Kalung itu adalah kalung titisan dari para Dewa, apa jangan-jangan anak ini adalah masih keturunan Black Phantom?" batin sang Ratu.


Sang Ratu terus saja memperhatikan Alea. "Kalau memang dia adalah keturunan Black Phantom, berarti dia adalah orang yang selama ini aku cari. Aku harus memusnahkan dia karena orang itu sangatlah berbahaya, kalau aku tidak segera memusnahkannya, justru nanti aku sendiri yang akan musnah," batinnya lagi.


Sang Ratu salah mengira, dia mengira Alea adalah keturunan Black Phantom padahal yang sebenarnya keturunan Black Phantom atau Dewa penyelamat adalah Gavin dan Gabby.


Sang Ratu pun menghilang, dia ingin mencari cara bagaimana bisa melepaskan kalung yang dipakai Alea supaya dia bisa membunuh Alea atau menikahkan Alea dengan Azura karena anak dari Alea nanti yang akan menyelematkan para iblis dari kemusnahan.


***


Sementara itu, jauh di dalam hutan Gavin baru saja selesai mandi di sungai. Rambutnya sudah mulai gondrong, dan badannya sudah terlihat sangat bagus karena setiap hari dia dilatih oleh Sensei Geomon dengan sangat keras.


Gavin, Gabby, dan Hirotta sudah sangat pandai. Ilmu Ninja sudah hampir mereka kuasai, bahkan mereka bertiga setiap hari harus melawan musuh yang tidak biasa.


"Vin, ayo makan dulu tadi aku sudah nangkap ikan dan Gabby juga sudah banyak nangkap burung puyuh tuh!" teriak Hirotta.


"Oke."


Ketiganya pun duduk di mulut gua dan segera melahap ikan dan burung bakar yang sudah mereka tangkap. Sedangkan Sensei Geomon hanya duduk bersila memperhatikan ketiganya, entah apa yang selama ini dia makan karena mereka sudah satu tahun di sana, tidak pernah melihat Sensei Geomon makan.


"Sensei, apa kita sudah pantas disebut Ninja?" tanya Gavin.


"Menurutmu? apa kamu sudah merasa menjadi seorang Ninja?"


Sensei Geomon justru balik bertanya kepada Gavin.


"Aku merasa aku sudah menguasai banyak jurus, dan aku juga sudah banyak mengalahkan lawan di sini, jadi aku sudah pantas di sebut sebagai Ninja," sahut Gavin mantap.


Sensei Geomon menyunggingkan sedikit senyumannya, lalu dia bangkit dari duduknya dan menghampiri ketiganya. Sensei Geomon berdiri membelakangi mereka dengan kedua tangannya disimpan di belakang tubuhnya.


"Iya Sensei, aku sudah tidak sabar ingin membalaskan dendamku kepada mereka," sahut Gavin.


"Baiklah, aku akan menyebutmu sebagai Ninja tapi kamu harus mengalahkan satu lagi kalau kamu mampu mengalahkannya, kamu lulus menjadi Ninja."


"Siapa yang harus aku kalahkan?" tanya Gavin.


Sensei Geomon melihat ke arah sungai yang tadi digunakan Gavin mandi, pandangan Gavin, Gabby, dan Hirotta pun tertuju ke sungai itu. Tiba-tiba dari sungai itu muncul gelembung-gelembung dan air menjadi tidak tenang, ketiganya langsung berdiri melihat ada apa di sana.


Hingga tidak lama kemudian, mereka dikagetkan dengan kemunculan buaya raksasa yang sangat besar itu. Gavin dengan sigap mengeluarkan pedangnya.


"Mundur kalian berdua."


"Hati-hati, Bang."


"Kamu pasti bisa melawannya, Vin," seru Hirotta.


Tanpa menunggu lama, Gavin pun langsung menghampiri buaya yang super besar itu dan pertarungan pun tak terelakan lagi. Gavin sudah menguasai jurus-jurus Ninja yang awalnya dia pikir terasa sangat mustahil tapi saat ini dia memang bisa menguasainya.


Gabby dan Hirotta sangat was-was melihat Gavin, berbeda dengan Sensei Geomon yang tampak tenang melihat pertarungan yang luar biasa itu.


"Aku harus mengalahkan buaya itu, supaya aku bisa pulang dan membalaskan semua dendamku. Alea, tunggu aku, aku akan segera kembali untukmu," batin Gavin disela-sela pertarungannya.


Gavin terus saja menendang buaya besar itu tapi buaya itu masih kuat, hingga beberapa saat kemudian Gavin teringat kata-kata Sensei Geomon, titik pusat semua makhluk hidup itu ada di jantungnya jadi Gavin harus segera menyelesaikan pertarungannya.


"Baiklah, sekarang tamatlah riwayatmu binatang bodoh!" teriak Gavin.


Gavin mengeluarkan semua tenaganya, Gavin memukul buaya itu sampai-sampai buaya itu terpental ke daratan dengan posisi terlentang.


"Ini saatnya," batin Gavin.


Gavin melompat setinggi-tingginya, di tangannya sudah siap dengan pedang samurainya.


Hingga beberapa saat kemudian. "Mati kamu binatang bodoh!" teriak Gavin.


Jlebb...


Gavin berhasil menancapkan pedangnya ke dada si buaya besar itu, darahnya sampai muncrat ke tubuh Gavin.


Buaya besar itu menggelepar-gelepar hingga beberapa saat kemudian buaya itu mati. Gavin terduduk di tanah dengan napas yang ngos-ngosan, Gabby dan Hirotta berlari menghampiri Gavin bahkan Hirotta sampai memeluk Gavin.


"Wah, kamu hebat, Vin."


"Abang keren."


Sensei Geomon kembali menyunggingkan senyumannya.


"Lihatlah Sensei, aku bisa mengalahkannya!" teriak Gavin.


"Selamat, kamu sudah menjadi Ninja sekarang."


Gavin langsung berdiri dan membungkukkan tubuhnya sebagai penghormatan kepada Sensei Geomon.


"Terima kasih, Sensei."


Sensei Geomon pun kembali masuk ke dalam gua, sedangkan ketiganya tampak bahagia akhirnya Gavin dan Gabby bisa kembali juga ke Indonesia.


"Tunggu aku, The Blood," batin Gavin.