
Cukup lama Rara menatap Gaza, Rara memang sadar kalau selama ini Ghani tidak pernah mencintainya. Bahkan Ghani tidak pernah bersikap baik kepada Rara dan ternyata jawabannya, Ghani sudah mempunyai wanita yang dia cintai.
Jujur, memang saat ini Rara sudah mencintai Ghani tapi Rara juga tidak mau membuat Ghani sedih karena menikah dengannya.
"Saat ini aku memang belum mencintai kamu, tapi aku janji akan belajar untuk mencintai kamu dan membahagiakan kamu," seru Gaza.
Rara sungguh bingung apa yang harus dia katakan.
"Maaf Gaza, aku harus pergi."
Rara pun dengan cepat pergi dan meninggalkan Gaza, Gaza hanya bisa menghela napasnya bagaimana pun Gaza harus bisa menikahi Rara karena Gaza tidak mau membuat saudara kembarnya menderita.
Ghani masuk ke dalam kelas dan langsung menoleh ke bangku Gabby dan ternyata Gabby tidak ada di sana, hanya ada Alea saja.
"Ke mana Gabby? Kenapa dia tidak masuk?" batin Ghani.
Ghani pun memulai mata kuliahnya dengan hati yang bertanya-tanya.
"Kak Ghani kenapa? Kok, wajahnya babak belur seperti itu?" batin Alea.
2 jam pun berlalu, mata kuliah Ghani selesai dan semua orang mulai meninggalkan kelas itu.
"Tunggu, Alea!"
"Iya, ada apa Pak?" tanya Alea.
"Kenapa Gabby tidak masuk kuliah?" tanya Ghani.
"Gabby sakit, Pak."
"Sakit apa?"
"Kata Kak Gavin, sakit demam."
"Ah begitu."
"Kalau begitu aku duluan ya, Pak."
Ghani menganggukkan kepalanya, Ghani merasa sangat khawatir dengan keadaan Gabby. Ingin sekali rasanya Ghani datang ke rumah Gabby dan melihat keadaan Gabby tapi apalah daya, nyali Ghani tidak sebesar itu.
Alea, Vina, Vira, Aleena, Alexa, dan Dira sudah janjian siang ini akan datang ke rumah Gabby untuk menjenguk Gabby. Setelah Vina menjemput Alea ke kampusnya, mereka pun sama-sama pergi ke rumah Gabby.
"Ya ampun Gab, kamu kenapa? Kok, bisa sih kamu sakit? diantara kita semua, kamu itu wanita yang paling kuat dan jarang sekali sakit tapi kok sekarang kamu tiba-tiba demam, ada apa denganmu?" seru Alexa.
"Yaelah, aku juga manusia kali memangnya aku tidak boleh sakit apa," lirih Gabby.
"Bukanya begitu, kalau kamu sakit itu tandanya ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan. Coba cerita sama kita, kali aja kita bisa membantumu," seru Vina.
Alea menggenggam tangan Gabby. "Gab, kita sahabatan sudah lama jadi kamu tidak bisa membohongi kita karena kita tahu kalau saat ini kamu sedang banyak pikiran," seru Alea.
"Apa ini semua ada hubungannya dengan Kak Ghani?" seru Alexa.
Gabby terdiam, dia hanya bisa menundukkan kepalanya dan tidak mau menatap sahabat-sahabatnya itu.
"Apa kamu mencintai Kak Ghani?" tanya Alea.
Gabby terdiam, dia semakin menundukkan kepalanya.
"Tapi Kak Ghani sekarang sudah punya calon istri," seru Aleena.
"Sebenarnya Kak Ghani tidak mencintai Rara, dia terpaksa menjalani hubungan itu," celetuk Vira.
"Apa?"
Semuanya tampak terkejut termasuk juga Gabby.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Dira.
"Aku kan pacarnya Garra, jadi dia banyak cerita sama aku. Dulu, Kak Ghani sempat masuk rumah sakit dan semua orang tidak tahu kalau Kak Ghani punya penyakit."
"Apa?"
Gabby benar-benar kaget mendengarnya, setelah itu Vira pun menceritakan semuanya kepada Gabby membuat semua orang terkejut.
"Astagfirullah, kasihan sekali Kak Ghani," seru Aleena.
"Terus sekarang bagaimana?" tanya Dira.
"Entahlah, kasihan Kak Ghani."
Gabby terdiam, dia tidak menyangka kalau Ghani akan mengalami hal seperti itu.
***
Malam pun tiba...
Gabby dan Ghani sama-sama galau dengan perasaan mereka. Gabby merasa sangat bersalah karena sudah menuduh Ghani yang macam-macam, sedangkan Ghani merasa serba salah karena tidak bisa mendapatkan cinta Gabby.
"Apakah harus seperti ini akhir dari kisah cintaku?" batin Ghani.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, ternyata aku baru sadar kalau aku memang mencintai Kak Ghani," batin Gabby.
Kedua insan itu saat ini sedang dilanda kegalauan yang teramat luar biasa.