A NINJA'S REVENGE

A NINJA'S REVENGE
Episode 33 Saling Menguatkan



Gabby membuka bukunya, begitu pun dengan Alea. Ghani masuk ke dalam kelas dan Gabby sama sekali tidak mau melihat ke arah Ghani membuat Ghani menghela napasnya.


Selama proses belajar-mengajar, Ghani terus memperhatikan Gabby namun sayang Gabby lebih tertarik dengan buku tulisnya dibandingkan wajah Ghani.


Ghani kesal, dia pun melempar penghapus ke arah Gabby membuat Gabby terkejut dan semua orang melihat ke arah Gabby.


"Saya paling tidak suka kalau ada mahasiswi yang tidak memperhatikan penjelasan yang saya ajarkan!" tegas Ghani.


Gabby mengambil penghapus yang dilempar oleh Ghani, dan maju ke depan lalu menyimpannya di meja Ghani.


"Maaf Pak, telinga saya masih normal jadi saya bisa mendengarkan apa yang Bapak jelaskan," seru Gabby.


Untuk sesaat mereka saling pandang, Ghani bisa melihat ada tatapan kebencian dari Gabby untuknya. Gabby pun dengan cepat meninggalkan Ghani dan kembali duduk, Alea tidak berani mengajak bicara Gabby karena Alea tahu kalau Gabby sedang tidak baik-baik saja.


Waktu pulang pun tiba...


"Gab, anak-anak ngajak nongkrong apa kamu mau ikut?" tanya Alea.


"Boleh."


Alea dan Gabby pun segera menuju mobil, ternyata Hirotta ketiduran di dalam mobil.


"Astaga, nih orang malah molor," gerutu Gabby.


Gabby pun dengan kencangnya mengetok kaca mobil membuat Hirotta kaget dan bangun seketika.


"Ya ampun Gab, bisa tidak kamu ketuknya pelan-pelan, kaget tahu," kesal Hirotta dengan membuka kaca mobilnya.


"Kalau ketuknya pelan-pelan, mana kedengaran sama kamu, kamu kan kalau tidur kaya pingsan susah buat dibangunin."


Alea dan Gabby pun masuk ke dalam mobil.


"Kak Hirotta, antarkan kita ke cafe xxx," seru Alea.


"Siap."


Hirotta mulai melajukan mobilnya, lagi-lagi Ghani hanya bisa melihat kepergian Gabby dengan tatapan yang sulit diartikan entah apa yang saat ini sedang terjadi dengan Ghani.


Sesampainya di cafe yang dituju, kedua gadis cantik itu pun keluar dari dalam mobil.


"Kak Hirotta mau ikut masuk?" tanya Alea.


"Tidak Al, kalian mau lama gak?"


"Sepertinya lama deh."


"Kalau begitu aku pulang aja ya, nanti kalau kalian mau pulang, telpon saja," seru Hirotta.


"Baiklah."


Hirotta pun memutuskan untuk pulang, sedangkan Alea dan Gabby segera masuk ke dalam cafe itu. Di dalam cafe, Vira, Dira, Aleena, Vina, dan Alexa sudah menunggu mereka memang sudah janjian mau nongkrong bersama.


"Maaf kita telat," seru Alea.


"Tidak apa-apa Al, kita juga baru datang kok," sahut Vina.


"Gak apa-apa, biasa aja kok," sahut Gabby.


Setelah memesan makanan, mereka berbincang-bincang dan tertawa bersama.


"Aleena, kemarin aku kaget loh melihat Kak Arsya bisa berubah seratus persen kaya gitu," seru Vira.


"Heem, jadi alim banget," sambung Alexa.


"Alhamdulillah, cinta kan memang butuh pengorbanan apalagi setiap keputusan Abi tidak bisa di ganggu gugat jadi mau tidak mau Kak Arsya memang harus mengikuti apa yang Abi inginkan," sahut Aleena.


"Sepertinya dalam waktu dekat ini kalian akan menikah ya? Soalnya kan kata Abi Aleena gak boleh pacaran harus langsung menikah, iya kan?" Vina.


"Do'akan saja yang terbaik, tapi kalau menurut aku yang akan duluan menikah diantara kita itu kayanya Alea sama Kak Gavin deh, soalnya mereka sudah the best couple banget," seru Aleena.


"Setuju," sahut Dira.


"Kak Gavin adalah pria idaman setiap wanita dan Alea beruntung bisa meluluhkan hati Kak Gavin," seru Vira.


"Iya, dan dia juga pria yang sangat baik karena masih mau menerima aku walaupun pada kenyataannya aku sudah tidak perawan lagi," sahut Alea dengan menundukkan kepalanya.


Semua teman-temannya bangkit dari duduknya dan memeluk Alea secara bersamaan.


"Jangan bicara seperti itu Al, itu semua bukan keinginan kita," seru Alexa.


"Kata Abi aku, cinta terbaik bukan dia yang datang karena kelebihanmu tapi cinta terbaik adalah dia yang siap bertahan walaupun tahu kekurangan dalam dirimu," seru Aleena.


"Benar apa yang dikatakan si anak Abi," seru Vina dengan deraian airmatanya.


"Terima kasih ya guys, kalian adalah penguat untukku," seru Alea.


"Kamu wanita kuat Al, kalau seandainya itu semua menimpa diriku mungkin aku sudah bunuh diri," seru Vira.


Semuanya saling berpelukan sembari meneteskan airmata, sungguh mereka merasakan sakit dengan apa yang menimpa Alea.


Tidak terasa sudah sore, dan mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


***


Di kediaman Ghani, saat ini ia sedang duduk termenung di pinggir kolam berenang tiba-tiba Garra dan Gaza menghampiri Ghani.


"Kamu kenapa Ghan? akhir-akhir ini kamu jadi sering melamun?" tanya Garra.


"Tidak apa-apa."


"Jangan bohong, kita itu kembar jadi kita juga bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Apa semua ini berhubungan dengan Gabby?" seru Gaza.


Ghani terdiam lalu dia menundukkan kepalanya.


"Aku bingung, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa membohongi diri aku sendiri kalau di dalam hati aku masih terukir nama Gabby, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Rara," lirih Ghani.


Garra menepuk pundak Ghani. "Kita yakin, semuanya akan berakhir dengan bahagia dan kita juga selalu ada di belakang kamu untuk mendukung kamu karena kita akan selalu menghargai apa pun yang menjadi keputusan kamu," seru Garra.


Ghani menghela napasnya, sungguh saat ini dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Di satu sisi, cinta Ghani hanya untuk Gabby tapi di sisi lain Ghani juga tidak bisa meninggalkan Rara karena Ghani tidak bisa mengingkari janjinya.