
Mami Queen membawakan sarapan untuk Alea.
"Bagaimana, apa tadi malam Alea ngamuk lagi?" tanya Mami Queen.
"Tidak Bu dokter, tadi malam Alea baik-baik saja," sahut perawat.
"Ya sudah, tolong buka kuncinya."
Salah satu perawat pun membuka kunci pintu kamar Alea.
"Kalian lebih baik sarapan dulu, habis itu istirahat biar Alea saya yang jaga."
"Baik Bu dokter."
Kedua perawat wanita itu pun pergi, Mami Queen memang mempekerjakan dua perawat itu untuk menjaga Alea.
Mami Queen melihat Alea yang sedang duduk melamun di atas tempat tidurnya, Mami Queen duduk di hadapan Alea dan menyimpan nampan yang berisi nasi dan juga lauk pauknya itu.
"Sayang, kamu sarapan dulu ya."
Alea menganggukkan kepalanya, Alea bukannya gila tapi Alea hanya trauma dan depresi saja. Di saat Alea sedang tenang, dia bisa bicara dengan normal tapi di saat Alea ingat akan kejadian itu, Alea akan ngamuk, menangis, bahkan teriak-teriak.
Perlahan Mami Queen mulai menyuapi Alea, tapi tiba-tiba Mami Queen melihat kalung yang melingkar di leher Alea. Kalung itu memiliki bandul lonjong berwarna putih, bandul itu akan menyala jika ada orang jahat ataupun bangsa iblis mendekat dan secara replek akan melindungi Alea dan Alea tidak akan bisa di dekati.
"Ini kalung dari siapa, sayang?" tanya Mami Queen.
Alea melihat kalung yang ditunjukan oleh Maminya, dia pun kaget kenapa tiba-tiba dia memakai kalung itu. Alea menggelengkan kepalanya sebagai jawaban untuk Mami Queen.
"Perasaan kemarin kalung ini belum ada, apa jangan-jangan tadi malam ada orang yang masuk ke kamar ini?" seru Mami Queen.
Mami Queen segera memeriksa kondisi kamar, dan Mami Queen sama sekali tidak menemukan hal yang mencurigakan. Bahkan kalau pun ada orang yang masuk ke dalam kamar Alea, pasti jendelanya ada yang rusak tapi ini sama sekali baik-baik saja.
"Tidak mungkin ada orang yang masuk, karena kondisi jendela masih baik-baik saja dan tidak ada barang-barang yang hilang juga," gumam Mami Queen.
Mami Queen hendak melanjutkan kegiatannya menyuapi Alea, tapi sudut matanya tidak sengaja melihat secarik kertas di atas nakas.
Mami Queen perlahan mengambilnya dan membacanya.
"Kalung itu sebagai pelindung untuk Alea, jangan sekali-kali melepaskan kalung itu karena kalau sampai kalung itu lepas, Alea akan ada dalam bahaya."
Tangan Mami Queen bergetar, dia merasa sangat terkejut dengan tulisan itu.
"Siapa yang sudah mengirim surat ini? dan siapa juga yang memasangkan kalung itu ke leher Alea?" batin Mami Queen.
Seketika bulu kuduk Mami Queen berdiri, entah kenapa dia merasa merinding dengan kejadian ini. Sementara itu, Alea tidak bereaksi apa pun dia hanya diam dengan tatapan kosongnya.
Setelah selesai menyuapi Alea, Mami Queen segera keluar dan menemui suaminya. Ia menceritakan hal aneh dan memperlihatkan surat itu.
"Siapa orang ini?" tanya Papi Rifki.
"Mungkinkah diam-diam ada orang yang menjaga Alea? kita ikuti saja apa yang diperintahkan orang ini, toh ini kan demi kebaikan Alea juga," seru Papi Rifki.
"Iya Pi, mudah-mudahan saja orang ini memang orang baik yang akan selalu menjaga Alea."
Siang ini Mami Queen memanggil Dr.Dewi untuk memeriksakan keadaan Alea.
"Bagaimana dok?"
"Dr.Queen, sepertinya Alea harus hidup bebas dan jangan dikurung terus di dalam kamar supaya nantinya Alea akan terbiasa dan mudah-mudahan akan berangsur sembuh. Tapi tentunya jangan dulu ada sosok pria di hadapan Alea, nanti biar kita obati masalah itu step by step biar Alea tidak ngamuk dan tambah trauma," seru Dr.Dewi.
"Tapi bagaimana caranya Alea keluar, sedangkan di sini banyak pria dan mungkin akan sulit untuk Alea," sahut Mami Queen.
Dr.Dewi dan Mami Alea terdiam, mereka memikirkan solusi yang tepat untuk Alea.
"Maaf dokter, apa saya boleh mengusulkan sesuatu?" seru salah satu perawat bernama Neli itu.
"Apa, Neli?"
"Begini dok, saya tinggal di sebuah kampung yang kebetulan penduduknya wanita semua tidak ada pria di sana, mungkin Alea bisa tinggal di sana."
"Hah, serius kamu Neli?" seru Mami Queen.
"Serius dok, nama kampung saya adalah kampung janda."
"Hah, kampung janda? mitosnya apa, kenapa bisa sampai disebut kampung janda?" tanya Dr.Dewi.
"Begini dok, kampung saya itu jauh sekali dari kota dan kampung saya itu sangat terisolir dari dunia luar bahkan kampung saya masih sangat asri dan tidak pernah terjamah oleh orang luar. Karena kampung kami terisolir, para suami dan anak laki-laki di sana memutuskan untuk bekerja jauh di kota tapi kejadian mengerikan menimpa mereka. Mobil yang membawa para suami kita terjatuh ke jurang karena kelebihan penumpang dan semua orang dinyatakan meninggal dunia."
Dr.Dewi dan Mami Queen memperhatikan penjelasan Neli dengan seksama.
"Dari saat itu, otomatis semua wanita di sana menjadi janda secara bersamaan dan sampai sekarang tidak ada di antara mereka yang menikah lagi, mereka fokus mengurus anak mereka. Maka dari itu akhirnya kampung kami dikenal dengan julukan kampung janda," sambung Neli.
"Oh begitu, apa Alea akan betah tinggal di sana?" seru Mami Queen.
"Kita coba saja, di sana Alea akan bebas keluar rumah dan bersosialisasi dengan orang lain sehingga setidaknya Alea akan melupakan kejadian yang menimpa dirinya," sahut Dr.Dewi.
"Baiklah, nanti aku bicarakan dulu dengan suami aku."
Mami Queen pun segera memberitahukan kepada Papi Rifki mengenai rencananya, Papi Rifki tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengizinkan Alea untuk tinggal di sana sementara waktu.
"Papi setuju saja apa yang kamu rencanakan, selama itu akan berdampak baik untuk Alea dan akan membuat Alea sembuh, apa salahnya di coba."
"Terima kasih ya, Pi, mudah-mudahan saja Alea sembuh dan kembali menjadi anak kita yang dulu."
"Amin, semoga."
Mami Queen memeluk Papi Rifki, mereka sangat berharap sekali Alea sembuh.