
Seketika tangan Azura mencekik leher Gavin membuat Gavin terkejut, tapi Hirotta dengan sigap menepis tangan Azura.
Saat ini mereka bertiga saling pandang satu sama lain, bahkan Azura sudah mulai merubah wujudnya sebagai Azura yang asli.
"Siapa kalian sebenarnya? kenapa kalian bisa mengetahui aku?" geram Azura.
"Kita adalah orang yang akan memusnahkan kamu dan keluarga kamu, khususnya The Blood kalian semua harus musnah dari muka bumi ini!" geram Gavin.
"Jangan harap kalian bisa memusnahkan kami, karena kami sangat kuat dan tidak akan ada yang bisa menghancurkan kami," sahut Azura dengan sombongnya.
Seketika Azura pergi dengan secepat kilat, tapi Gavin dan Hirotta tidak tinggal diam, mereka pun dengan cepat mengejar Azura.
Azura pergi ke dalam hutan, dan dikejar oleh Gavin dan Hirotta. Hingga Gavin pun melancarkan serangannya membuat Azura seketika terjatuh.
"Brengsek, siapa kalian sebenarnya?" seru Azura.
"Kamu tidak perlu tahu siapa kita, yang jelas kita adalah orang yang akan memusnahkan kalian semua dari muka bumi ini," sahut Hirotta.
Azura menyunggingkan senyumannya. "Jangan mimpi kalian, justru kami yang akan memusnahkan kalian dan menguasai dunia ini," seru Azura.
"Aku tahu, kamu yang sudah membunuh Neli dan apa tujuan kamu menyamar menjadi anak kecil? apa kamu pikir, kamu bisa mendapatkan Alea? jangan mimpi kamu," seru Gavin.
"Kalian sudah menghancurkan rencanaku, jadi sekarang kalian harus menanggung akibatnya!" geram Azura.
Gavin sudah sangat emosi, dia langsung melancarkan serangannya dan perkelahian pun tidak bisa terelakan lagi.
Ketiganya sangat gesit, berlari ke sana ke mari menghindari serangan demi serangan. Cukup lama mereka bertiga berkelahi, hingga akhirnya Azura tidak sadar dengan keberadaan Gavin yang ada di belakang tubuhnya. Gavin mengeluarkan shurikennya dan melemparnya ke arah Azura, seketika Azura tumbang karena shuriken milik Gavin menancap di punggung Azura.
Azura terlihat kesakitan, darah langsung mengalir dari punggung Azura. Azura dengan cepat kabur dan menghilang di dalam hutan itu.
"Brengsek, dia kabur Vin," seru Hirotta.
"Biarkan saja, setidaknya dia butuh waktu beberapa hari untuk memulihkan tubuhnya dan Alea akan merasa aman untuk beberapa hari ke depan," sahut Gavin.
Gavin dan Hirotta pun kembali ke perkampungan dengan memanjat pohon dari satu pohon ke pohon yang lain. Alea tampak celingukan mencari keberadaan Gavin dan Hirotta.
Gavin dan Hirotta dengan cepat menghampiri Alea.
"Astaga, Kak Gina dan Kak Haruka dari mana kok menghilang begitu saja?" tanya Alea.
"Ah, kita tadi habis jalan-jalan saja," sahut Hirotta.
"Kalian jalan-jalan ke mana? sampai berkeringat seperti itu?" tanya Alea.
"Berkeliling kampung ini saja," sahut Haruka.
"Oke."
Alea pun dengan cepat memasak nasi goreng dibantu oleh Yuli dan Lusi, sedangkan Gavin dan Hirotta bergantian mandi. Setelah selesai mandi, mereka pun sarapan bersama.
Gavin tampak menyunggingkan senyumannya kala melihat Alea yang sangat bahagia saat ini.
"Semoga hidup kamu selalu bahagia Alea, dan aku janji akan selalu membahagiakan kamu," batin Gavin.
Setelah selesai sarapan, Gavin pun memutuskan untuk berdiam diri di belakang rumah Alea dan kebetulan di belakang rumah Alea itu terdapat pesawahan yang masih sangat asri.
Hirotta justru bermain dengan Yuli dan Lusi, Hirotta bercerita mengenai kehidupannya di Jepang dan kedua anak itu sangat antusias. Alea baru saja selesai mandi dan setelah berganti baju, dia pun menghampiri Hirotta.
"Kak Haruka, Kak Gina mana?" tanya Alea.
"Ada di belakang."
"Ya sudah, aku ke belakang dulu ya."
Alea pun menghampiri Gavin dan duduk di samping Gavin, membuat Gavin sedikit kaget.
"Kakak sedang apa di sini?" tanya Alea.
Gavin segera mengeluarkan buku kecil dan pulpen yang diberikan oleh Alea dan Gavin menuliskan sesuatu di sana.
📝"Sedang santai saja."
Alea tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, Gavin mulai menulis lagi dan memberikannya kepada Alea.
📝"Apa saat ini kamu sudah bahagia?"
"Alhamdulillah, Kak. Sekarang aku sedikit lebih bahagia, meski pun kejadian masa lalu masih selalu datang dalam pikiranku," sahut Alea dengan tatapan lurus ke depan.
Gavin kembali menuliskan sesuatu. 📝"Apa saat ini ada seseorang yang sedang kamu rindukan?"
Alea sedikit kaget melihat tulisan Gavin, lalu dia menghembuskan napasnya dengan perlahan.
"Ada seseorang yang aku tunggu, tapi aku tidak tahu orang itu ada di mana? bahkan aku juga tidak tahu apa orang itu masih mengingatku atau tidak," sahut Alea dengan mata yang berkaca-kaca.
Hati Gavin sangat sakit mendengar jawaban Alea, ingin sekali saat ini dia memeluk Alea dan mengatakan permintaan maafnya tapi dia takut kalau Alea akan kambuh dan malah membenci Gavin.
"Ini aku Gavin, Al. Selama ini tidak sedetik pun aku melupakanmu, bahkan aku sangat merindukanmu. Maafkan aku yang sudah pergi tanpa pamit dan membiarkanmu menjalani hidupmu yang berat itu sendirian," batin Gavin.
Alea dan Gavin akhirnya hanya saling diam dengan pikiran masing-masing.