
Keesokan harinya....
Mami Queen sudah bangun sejak subuh, entah kenapa Mami Queen merasakan perasaan yang sangat tidak enak.
"Loh, Mami kenapa pagi-pagi sudah melamun?" tanya Alea.
"Perasaan Mami tidak enak Al, Mami ingat terus sama Papi kamu."
"Mami jangan takut-takutin Alea dong."
"Bukan nakut-nakutin kamu, tapi memang perasaan Mami pagi ini agak berbeda."
Gabby keluar dari kamar bersamaan dengan Gavin dan juga Hirotta.
"Ada apa, Tante?" tanya Gabby.
"Gab, bisa tidak sekarang kita pulang? soalnya perasaan Tante gak enak, Tante takut terjadi kenapa-napa sama Mas Rifki."
"Baiklah, kita pulang sekarang."
"Alea ikut, Mi."
"Yakin kamu mau ikut? apa kamu sudah bisa bertemu dengan Papi kamu?"
"Insya Allah, trauma Alea sudah sembuh."
"Baiklah kita semua pulang, tapi bagaimana dengan Yuli dan Lusi?" tanya Gavin.
Alea segera menghampiri Yuli dan Lusi. "Yuli, Lusi, Kak Alea mau pulang dulu ya, kalian bisa ditemani oleh Ibunya Kak Neli nanti biar Kak Alea yang bilang sama ibu kak Neli."
"Iya, Kak."
Akhirnya pagi itu semuanya pulang ke kota, selama dalam perjalanan Mami Queen benar-benar tidak bisa diam dan Alea hanya bisa memeluk Maminya itu.
"Kita berdo'a saja, mudah-mudahan Papi baik-baik saja," seru Alea.
"Amin."
Butuh waktu lumayan lama untuk sampai di rumah mereka, hingga menjelang sore mereka pun sampai di rumah. Mami Queen dan Alea segera berlari masuk ke dalam rumah.
"Papi, Papi!" teriak Alea.
"Kok rumah kelihatan sepi sih? Pak Darna ke mana?" gumam Mami Queen.
Alea segera menuju kamar Papinya itu, Alea dengan cepat membuka pintu kamar itu dan betapa terkejutnya Alea saat melihat Papinya sudah tergeletak di lantai dengan tubuh yang kaku dan pucat.
"Papiiiiiiii!"
Alea menghampiri Papinya, Mami Queen tampak membelalakkan matanya tangannya bergetar hebat saat menyentuh suaminya.
"Mas, bangun Mas jangan tinggalkan aku," seru Mami Queen dengan deraian airmata.
"Papi bangun Pi, ini Alea sudah kembali," seru Alea dengan deraian airmata.
Gavin, Hirotta, dan Gabby tampak membelalakkan matanya, lagi-lagi mereka kecolongan.
"Brengsek, iblis itu harus segera dimusnahkan kalau tidak, akan banyak korban yang berjatuhan," batin Gavin dengan mengepalkan kedua tangannya.
Gavin menepuk pundak Hirotta untuk segera mengikutinya.
"Gab, kamu jaga mereka dan urus semuanya," bisik Gavin.
"Oke, Bang."
Gavin dan Hirotta pun segera pergi, tapi di tengah-tengah perjalanan, Gavin menghentikan langkahnya.
"Sial, kita harus cari para iblis itu ke mana?" seru Gavin.
Hirotta dan Gavin memejamkan matanya dan memusatkan pikiran mereka untuk mencari tahu di mana keberadaan mereka. Hingga beberapa menit kemudian, kedua membuka mata dan saling tatap satu sama lain.
"Aku sudah gak sabar ingin memusnahkan mereka," sahut Gavin.
Gavin segera melesat meninggalkan Hirotta membuat Hirotta geleng-geleng kepala.
"Astaga, ngapain tadi ngajak aku kalau ujung-ujungnya dia ninggalin aku," kesal Hirotta.
Hirotta pun dengan kesalnya segera menyusul Gavin, mereka melesat dan berlari secepat kilat sampai-sampai jarak yang sangat jauh itu, bisa mereka tempuh dalam waktu beberapa menit saja.
Gavin dan Hirotta sampai di depan rumah Xavier.
"Busyet, rumahnya gede banget," seru Hirotta.
"Penjaganya iblis semua, apa penghuni rumah ini juga iblis?" seru Gavin.
"Kamu lupa ya, cerita Sensei Geomon? pemilik rumah ini penganut sekte sesat yang bersekutu dengan iblis, dan anaknya setengah iblis dan setengah manusia, jadi itu artinya si pemilik rumah ini manusia asli," sahut Hirotta.
"Aku ingin melihat seperti apa wajah pemilik rumah ini, orang yang sudah membantai seluruh keluargaku," geram Gavin dengan mengepalkan tangannya.
Para penjaga rumah Xavier mulai sadar akan kehadiran Gavin dan juga Hirotta, mata mereka langsung memerah dan giginya pun langsung keluar taring.
"Mereka sudah menyadari kehadiran kita, Vin."
Para penjaga langsung menyerang Gavin dan juga Hirotta, tentu saja mereka dengan sigap melawan para iblis-iblis itu.
"Siapa kalian? kenapa kalian datang ke rumah Tuan kami," seru salah satu iblis itu.
"Jangan banyak ngomong, kita tidak perlu memberitahukannya kepada kalian, dasar para iblis bodoh," sahut Hirotta.
"Apa kamu bilang? kami bodoh?"
"Memang bodoh, mau saja di perintah dan dijadikan budak sama manusia," cibir Hirotta.
"Kurang ajar, bunuh mereka!"
Gavin mulai mengeluarkan samurainya, tanpa kesulitan yang berarti Gavin pun bisa memusnahkan para iblis itu dengan sangat mudah.
Sementara itu, Xavier dan Azura yang saat ini sedang bersemedi dengan di hadapan mereka seorang korban wanita yang darahnya sudah mereka ambil dan mereka simpan di sebuah mangkok itu perlahan tersentak kala merasakan ada aura kuat yang datang ke kediaman mereka.
"Sepertinya ada yang datang, Pa," seru Azura.
"Brengsek, siapa yang berani datang ke rumahku? sepertinya dia ingin menyerahkan nyawanya sendiri," sahut Papa Xavier.
Papa Xavier dan Azura bangkit dari duduknya, lalu keluar dari rumah dan segera menuju ke teras rumahnya. Di sana Gavin dan Hirotta sudah menyambut kehadiran Papa Xavier dan Azura.
"Siapa kalian? berani sekali kalian masuk ke dalam rumahku?" sentak Papa Xavier.
Azura celingukan dan membelalakkan matanya. "Pa, penjaga rumah kita ke mana? kok gak ada."
Papa Xavier ikut memeriksanya dan benar saja sudah tidak ada satu pun penjaga yang ada di sana.
"Sial, siapa kalian sebenarnya?" geram Papa Xavier.
"Kamu lupa, aku adalah anak dari Gea dan Victor, orang yang kamu bunuh dengan kejinya bahkan paman aku pun kalian bantai beserta keluarganya dan sekarang aku datang ke sini untuk memusnahkan para iblis peliharaan kamu dan memutuskan rantai The Blood supaya tidak ada lagi korban yang berjatuhan akibat ulahmu," seru Gavin dengan tatapan tajamnya.
Gavin mengeluarkan samurainya membuat Papa Xavier panik dan memundurkan langkahnya.
"Azura, kamu lawan dia," seru Papa Xavier.
Azura sedikit panik karena waktu itu pun dia sempat kalah dan berakhir dengan terluka, tapi Azura tidak mau menyerah dia pun kembali menyerang Gavin.
"Biar dia jadi urusanku," seru Gavin.
Gavin dan Azura saling serang satu sama lain, sedangkan Papa Xavier memilih kabur ke dalam rumah karena dia sadar kalau dia itu hanya manusia biasa yang sama sekali tidak mempunyai kekuatan.
Hirotta tampak menyunggingkan senyumannya. "Pak tua payah, malah kabur dia."