A NINJA'S REVENGE

A NINJA'S REVENGE
Episode 16 Penyamaran Gavin



Pagi ini Mami Queen mengantarkan Gavin menuju kampung janda, Mami Queen membawa banyak sekali daster untuk Gavin dan Hirotta gunakan nanti.


Sementara itu, Gabby memutuskan untuk tinggal di rumah Mami Queen karena Gavin ingin Gabby menjaga Mami Queen dan Papi Rifki.


"Astaga kita gak salah Vin, pakai daster ini," seru Hirotta dengan melihat penampilannya.


"Sudah jangan banyak ngeluh, pengorbanan demi cinta," sahut Gavin.


"Kamu enak, nanti pada akhirnya bisa dapatkan hati pacar kamu, lah aku pakai baju daster ini jaminannya apa?" kesal Hirotta.


"Kalau kamu gak mau, ya sudah kamu kembali lagi sama jangan ikutin aku."


"Yaelah, aku kan besti kamu Vin, kita tidak bisa terpisahkan," sahut Hirotta dengan merangkul pundak Gavin.


Gavin menghempaskan tangan Hirotta. "Jangan rangkul-rangkul pundakku bisa korengan kalau di rangkul sama kamu," kesal Gavin.


"Ah, aku do'akan semoga pundak kamu benar-benar korengan biar Alea jijik lihat kamu."


"Astaga, amit-amit kamu memang menyebalkan, Hirotta."


Gavin memiting leher Hirotta, mereka di dalam mobil tampak bertengkar membuat Mami Queen yang duduk di kursi depan tampak terkekeh.


Hingga beberapa jam kemudian, mobil yang dikendarai Pak Darta itu mulai memasuki kawasan hutan.


"Tante, kok masuk hutan?" tanya Hirotta.


"Iya, kampung janda itu lokasinya persis di bawah kaki gunung ini dan kampung janda merupakan kampung yang terisolasi," sahut Mami Queen.


Hingga tidak lama kemudian, mobil Mami Queen pun sampai di kawasan kampung janda. Gavin dan Hirotta memakai wig terlebih dahulu dan memasang tompel di wajah mereka masing-masing.


"Ayo keluar."


"Iya, Tante."


Mami Queen pun keluar dari dalam mobil bersama Gavin dan juga Hirotta, kedua pria tampan itu tampak tidak nyaman dengan pakaian yang mereka pakai.


Alea baru saja memberikan makan kepada Azura yang menyamar jadi anak kecil. Gavin bisa melihat punggung Alea, mata Gavin mulai berkaca-kaca saking bahagianya bisa melihat dan bertemu lagi dengan Alea.


"Al, itu ada Dr.Queen," seru Neli.


Alea menoleh, senyumannya yang indah membuat Alea semakin cantik dan itu yang membuat Gavin selalu merindukan Alea.


"Mami."


Alea berlari dan langsung memeluk Maminya itu.


"Bagaimana keadaanmu, sayang?" tanya Mami Queen.


"Alhamdulillah Alea baik-baik saja," sahut Alea.


Gavin tidak melepaskan pandangannya kepada Alea, sungguh saat ini Gavin sangat merindukan Alea dan ingin sekali rasanya Gavin memeluk Alea.


Alea baru sadar dengan dua orang yang berada di belakang Maminya itu.


"Mami, mereka siapa?" tanya Alea.


Gavin tersadar dan dia dengan cepat menghapus airmatanya yang tanpa sadar sudah menetes.


"Ah iya, kenalkan mereka yatim piatu. Orangtua mereka sudah meninggal, mereka awalnya datang ke rumah untuk mencari pekerjaan tapi Mami saat ini sedang tidak butuh pekerja jadi Mami bawa saja ke sini, kali aja mereka bisa bantu-bantu kamu di sini sekalian bisa menemani kamu juga biar tidak kesepian," sahut Mami Queen.


Hirotta mengulurkan tangannya kepada Alea. "Kenalkan nama aku Haruka," seru Hirotta dengan suara yang dibuat-buat menyerupai wanita.


"Hallo, aku Alea."


Alea menoleh ke arah Gavin dan menyunggingkan senyuman manisnya, membuat jantung Gavin berdetak sangat kencang.


Gavin melihat ke arah uluran tangan Alea, perlahan Gavin pun membalas uluran tangan Alea. Seketika keduanya saling pandang satu sama lain, membuat Alea merasakan perasaan yang aneh.


Cukup lama Alea dan Gavin berjabat tangan membuat Alea mengerutkan keningnya merasa heran.


"Nama kamu siapa?" tanya Alea kembali.


Gavin tersentak, dia pun menginjak kaki Hirotta sebagai pertanda dan yang lebih hebatnya lagi, Hirotta cepat tanggap dan mengerti akan kode yang diberikan oleh Gavin.


"Ah iya, maaf aku lupa. Dia namanya Gina, dia bisu tidak bisa bicara," dusta Hirotta.


"Astagfirullah, kasihan sekali. Ya sudah, sekarang kita ke rumah dulu," seru Alea.


Alea pun merangkul Maminya, sedangkan Gavin dan Hirotta mengikuti dari belakang. Gavin dan Hirotta menghentikan langkahnya saat melewati Azura yang sedang menyamar itu, Gavin dan Hirotta bersamaan menatap Azura dengan tatapan tajam mereka.


"Vin, apa kamu merasakan apa yang aku rasakan?" bisik Hirotta.


"Iya."


Gavin dan Hirotta kemudian meninggalkan Azura dan menyusul Alea serta Mami Queen masuk ke dalam rumah yang ditempati Alea.


"Siapa kedua orang itu? kenapa mereka menatapku dengan tatapan seperti itu? tapi anehnya, kok aku tidak bisa memprediksi siapa mereka biasanya kalau aku bertemu orang asing, aku akan tahu siapa mereka tapi anehnya ini sama sekali tidak bisa terprediksi," batin Azura.


Di saat dirasa sudah tidak ada orang, Azura pun segera menghilang dari tempat itu.


Gavin dan Hirotta masuk ke dalam rumah Alea.


"Aku harus panggil Kakak, Mba, atau Ibu ini?" tanya Alea.


"Panggil Kakak saja," sahut Hirotta.


"Baiklah, apa kalian sudah makan? kebetulan aku sudah masak banyak, jadi lebih baik sekarang kalian makan dulu," seru Alea.


Gavin kembali menoleh ke arah luar dan ternyata Azura sudah tidak ada di sana.


"Sepertinya anak itu bukan manusia, soalnya aku merasakan kalau dia seorang iblis," batin Gavin.


"Kak Gina, ayo makan dulu," seru Alea dengan senyumannya.


Lagi-lagi Gavin merasa sangat sakit melihat Alea. "Aku merindukanmu Alea, aku ingin sekali memelukmu," batin Gavin.


Mami Queen menepuk pundak Gavin sembari tersenyum. "Bersabarlah, nanti akan ada waktunya kalian bisa kembali bersama," bisik Mami Queen.


Gavin menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, akhirnya mereka pun makan bersama. Disela-sela makan, Gavin tidak henti-hentinya curi-curi pandang kepada Alea.


"Maafkan aku Alea, karena aku tidak ada di saat masa-masa sulitmu tapi aku janji mulai sekarang aku akan selalu berada di sampingmu dan melindungimu dari para Iblis yang ingin menguasai tubuhmu," batin Gavin.


Tidak terasa waktu sudah sore, Mami Queen berpamitan pulang dan Mami Queen menitipkan Alea kepada Gavin dan juga Hirotta.


Gavin duduk di bale-bale yang ada di depan rumah, sedangkan Hirotta tampak sedang asyik mengobrol dengan Neli. Neli memang sudah tahu kalau dia seorang pria yang sedang menyamar menjadi wanita.


"Kak Gina sedang apa?" tanya Alea yang membuat Gavin tersentak kaget.


Alea duduk di hadapan Gavin, lalu Alea meraih tangan Gavin dan memberikan sebuah buku kecil beserta pulpennya.


"Ini buku dan pulpen, nanti kalau Kak Gina ingin mengatakan sesuatu, Kak Gina tulis saja di sana biar aku mengerti," seru Alea dengan senyumannya.


Gavin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kenapa aku merasa tidak asing dengan tatapan itu? bahkan jantungku terasa berdetak lebih kencang," batin Alea.


Alea memang merasakan perasaan aneh saat tadi siang mereka bertemu, Alea tidak tahu kalau orang yang berada di hadapannya itu adalah Gavin sang kekasih yang sangat dia rindukan dan cintai.