
Malam pun tiba, Gabby sudah bersiap-siap memakai jaket kulitnya dan mengambil helmnya.
"Bang, aku keluar dulu."
"Kamu mau ke mana?" tanya Gavin.
"Cari angin sekaligus coba naik motor lagi karena aku sudah rindu dengan motorku."
"Mau aku antar?" seru Hirotta.
"Tidak usah, aku lagi ingin sendiri."
"Ya sudah, kamu hati-hati dan pulangnya jangan terlalu malam."
"Siap Bang, kalau begitu aku pergi dulu."
Gabby pun dengan cepat pergi dan mengeluarkan motor kesayangannya yang sudah lama tidak dia pakai. Perlahan Gabby melajukan motornya membelah jalanan ibu kota.
Malam ini Gabby sungguh sedang galau, dan dia ingin melupakan sejenak kegalauannya dengan mengendarai motornya.
Tidak jauh berbeda dengan Gabby, saat ini Ghani pun mengendarai mobilnya. Pikiran Ghani sangat kacau, kehadiran Gabby kembali mengusik hati dan pikirannya. Sejak dulu Ghani memang mencintai Gabby, dan sampai saat ini perasaan Ghani tidak pernah berubah.
"Seandainya dulu kamu tidak menghilang, mungkin aku tidak harus menjalani amanat yang diberikan oleh kedua orang tua Rara," gumam Ghani.
Flash back on...
Di saat Gavin mengalami penculikan bersama Alea, Ghani jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Ternyata selama ini Ghani mengalami sakit gagal ginjal, hanya saja Ghani tidak pernah menunjukan rasa sakitnya kepada siapa pun.
"Bagaimana ini Pa, siapa yang mau mendonorkan ginjalnya untuk Ghani," seru Mama Mika.
"Papa sudah berusaha mencari donor yang cocok untuk Ghani tapi Papa belum bisa menemukannya," sahut Papa Bian.
"Pa, Ma, diantara kita berdua hanya ginjal Gaza yang cocok untuk Ghani, jadi ambil saja ginjal Gaza untuk Ghani," seru Gaza.
"Tidak Gaza, Mama tidak mau membuat anak-anak Mama sakit jadi lebih baik Mama dan Papa cari donor ginjal dari orang lain saja," sahut Mama Mika.
Kondisi Ghani sudah semakin mengkhawatirkan, di malam di mana Gabby dan Gavin kabur dari rumah sakit, kondisi Ghani sudah sangat parah.
Sementara itu, di ruangan lain Rara tampak sedih karena kondisi Papanya semakin hari, semakin memburuk.
"Rara, Papa sudah banyak dosa dan selama hidup Papa, Papa sudah banyak melakukan kejahatan jadi Papa minta sama kamu, kalau Papa meninggal nanti Papa ingin memberikan manfaat untuk orang lain."
"Maksud Papa apa?" tanya Rara bingung.
"Waktu hidup Papa sudah tidak lama lagi, kalau bisa berikan semua yang ada dalam tubuh Papa untuk di donorkan kepada orang yang membutuhkan, setidaknya setelah Papa meninggal nanti, Papa akan bisa bermanfaat untuk semua orang itung-itung sebagai penebus dosa atas apa yang sudah Papa perbuat selama hidup Papa."
Rara tampak bingung dengan yang diucapkan oleh Papanya itu, setelah Papanya tidur, Rara pun keluar dari ruangan rawat Papanya. Di luar, Rara melihat satu keluarga tampak kebingungan. "Mereka kenapa?" batin Rara.
Entah ada ikatan apa, Rara merasa harus menghampiri keluarga itu. Rara pun perlahan menghampiri keluarga Ghani.
"Maaf, apa keluarga kalian sedang sakit?" tanya Rara.
"Iya," sahut Garra.
"Kalau boleh tahu, sakit apa?"
"Gagal ginjal, dan malam ini juga harus segera mendapatkan donor ginjal," sahut Gaza.
Rara tampak berpikir, apa ini adalah suatu jalan dari Allah untuk mengabulkan permintaan terakhir dari Papanya.
Rara kembali ke ruangan rawat Papanya, Rara tampak berpikir dan dia pun segera pergi ke ruangan dokter yang menangani penyakit Ghani.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Maaf dok, pasien di sebelah ruangan rawat Papa saya ada yang sedang membutuhkan donor ginjal, apa dokter bisa memeriksa ginjal Papa saya? Soalnya Papa saya ingin mendonorkan bagian dari tubuhnya," seru Rara.
"Baiklah, nanti saya akan periksa."
Singkat cerita, dokter sudah memeriksa keadaan ginjal Papa Rara dan ternyata ginjal Papa Rara sangat cocok dengan ginjal Ghani dan kondisi ginjal Papa Rara pun masih sangat bagus dan sehat.
Papa Bian dan Mama Mika sangat bahagia mendengar ada orang yang mau mendonorkan ginjalnya untuk Ghani.
"Terima kasih Pak, sudah mau mendonorkan ginjalnya untuk anak kami," seru Papa Bian.
"Permintaan apa? kami akan berusaha mengabulkannya," seru Mama Mika.
"Di dunia ini Rara sudah tidak punya siapa-siapa lagi, jadi jika saya meninggal tolong jaga Rara."
Kedua orang tua Ghani menyetujuinya, dan benar saja tidak lama Papa Rara mengucapkan itu, ia pun menghembuskan napas terakhirnya.
Kedua orang tua Ghani memang tidak memaksa Ghani untuk menikahi Rara, tapi Ghani berusaha membalas budi Papanya yang sudah menolongnya dan menyelamatkan nyawanya lagipula Rara adalah wanita yang sangat baik.
Flash back off...
Cekiiiiitttt....
Ghani terkejut dan menghentikan mobilnya karena tiba-tiba saja segerombolan orang menghadang mobilnya.
"Keluar, kamu!"
Ghani yang memang tidak merasakan takut sedikit pun, langsung keluar dari dalam mobilnya.
"Ada apa?" tantang Ghani.
"Kamu sepertinya orang kaya, minta uang."
"Minta uang? makanya kerja," ledek Ghani.
"Kurang ajar, habisi orang ini!"
Segerombolan orang itu menyerang Ghani, tentu saja dengan sigap Ghani melawannya. Beberapa saat berkelahi, membuat Ghani kewalahan karena lawannya sangat banyak hingga salah satu dari orang itu berhasil memukul Ghani dan Ghani pun tumbang.
Bersamaan itu, Gabby melintas. "Astaga, ada orang di keroyok," gumam Gabby.
Gabby dengan cepat menghentikan motornya dan melepas helmnya.
"Hentikan! beraninya main keroyokan!" teriak Gabby.
Orang-orang itu menghentikan aksinya dan menoleh ke arah Gabby, begitu pun dengan Ghani yang terlihat sudah babak belur itu.
"Gabby."
"Kak Ghani," batin Gabby.
"Wah, ada wanita cantik sepertinya kamu mau menyerahkan diri kamu kepada kita? Dengan senang hati kita akan menerimanya," seru salah satu orang itu.
"Pergi Gab, ini terlalu bahaya untukmu," seru Ghani.
Gabby tampak menyunggingkan sedikit senyumannya, Ghani tidak tahu kalau saat ini Gabby sudah menjadi seorang ninja.
"Sini maju, kalian beraninya hanya main keroyokan," ledek Gabby.
"Biar aku yang lawan dia."
Salah satu dari mereka maju dan melawan Gabby, tapi hanya dalam hitungan detik saja Gabby bisa mengalahkannya bahkan Ghani sampai tercengang melihatnya.
"Cuma segitu kemampuan kalian," ledek Gabby.
"Kurang ajar, hajar wanita itu!"
Semuanya langsung maju untuk menyerang Gabby dan dengan senang hati Gabby meladeni mereka. Satu persatu mulai tumbang, hingga beberapa saat kemudian Gabby pun bisa mengalahkan semuanya dan mereka kabur meninggalkan Gabby dan Ghani.
Gabby melangkahkan kakinya menuju motornya tanpa memperdulikan Ghani yang saat ini masih terduduk di jalanan. Gabby segera memakai helmnya dan Ghani berusaha berdiri.
"Tunggu, Gabby."
Gabby terdiam tanpa mau menoleh ke arah Ghani.
"Terima kasih sudah menolongku."
"Sama-sama."
Gabby segera menaiki motornya dan pergi meninggalkan Ghani. Ghani hanya bisa menatap kepergian Gabby dengan hati yang sakit.
Ghani memukul dadanya sendiri. "Sialan, kenapa dada ini terasa sesak, kenapa hati aku begitu sakit," gumam Ghani.