A NINJA'S REVENGE

A NINJA'S REVENGE
Episode 21 Maafkan Aku, Alea



Gavin sudah tidak bisa mengelak lagi, Alea memang sudah mengetahui akan penyamarannya.


Gavin pun melepaskan wig dan tompel yang saat ini dia pakai.


"Iya, ini aku Al, Gavin," seru Gavin.


Alea menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya kalau orang yang selama ini dekat dengannya adalah Gavin. Tubuh Alea mulai bergetar hebat, jantungnya berdetak sangat cepat, bahkan keringat sudah memenuhi wajahnya.


"Al, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Gavin panik.


"Ja-jangan mendekat."


Alea terus memundurkan langkahnya, kakinya sudah sangat lemas dan tidak kuat menopang tubuhnya hingga Alea pun terjatuh. Gavin panik, dia hendak menghampiri Alea tapi lagi-lagi Alea menahannya.


"Aku bilang jangan mendekat!" teriak Alea.


Alea terduduk di pojokan dengan memegang kedua lututnya, tubuhnya bergetar hebat dan keringat pun sudah membasahi seluruh wajahnya.


"Aku mohon jangan mendekat," seru Alea dengan deraian airmata.


Gavin tidak kuasa menahan kesedihannya, airmata Gavin menetes dengan sendirinya melihat keadaan wanita yang dicintainya seperti itu.


Gavin tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi Alea saat pertama kali dia tinggalkan, pasti sangat parah.


"Al, maafkan aku, aku mohon kamu boleh marah sama aku kalau mau kamu bisa memukul aku, tidak apa-apa aku akan terima tapi tolong maafkan aku dan jangan membenci aku," seru Gavin dengan deraian airmatanya.


Alea hanya bisa menangis, dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Tolong jangan hukum aku seperti ini Al, aku memang sudah bersalah karena meninggalkanmu tanpa pamit tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku pergi karena aku ingin memantapkan diri untuk bisa melawan orang-orang yang sudah membuat kehidupanku hancur," seru Gavin.


Sementara itu Hirotta tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya Hirotta menghubungi Mami Queen untuk segera datang ke sana.


"Selama bertahun-tahun aku hidup dengan rasa bersalah dan itu sangat menyiksaku Al, kamu menjadi seperti ini karena aku tidak bisa menyelamatkanmu dan aku adalah seorang pecundang!" teriak Gavin.


Alea semakin bergetar, Gavin sudah tidak bisa melihat Alea tersiksa seperti itu lagi. Dia pun nekad menghampiri Alea dan memeluk Alea dengan sangat erat, tentu saja Alea berontak.


Hati Alea memang merindukan Gavin, tapi otaknya tidak bisa diajak kompromi. Hati dan otaknya sangat bersebrangan, dan Alea bereaksi seperti itu di luar kemauannya sendiri.


"Tolong jangan sentuh aku, jangan dekati aku, aku takut!" teriak Alea dengan terus berusaha melepaskan pelukan Gavin.


"Aku tidak akan menyakitimu Alea, aku Gavinmu, pria yang selalu mencintaimu," seru Gavin dengan deraian airmatanya.


"Lepaskan Kak, aku takut."


"Lawan rasa takutmu Alea, aku mencintaimu jadi aku tidak mungkin menyakitimu. Aku mohon sembuhlah, aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi," seru Gavin dengan deraian airmatanya.


Gavin terus memeluk Alea sembari menghujani ciuman di pucuk kepala Alea, sedangkan Alea tubuhnya semakin bergetar hebat saking takutnya, akhirnya Alea jatuh tak sadarkan diri.


"Al, Alea."


Gavin mengangkat tubuh Alea dan merebahkan tubuh Alea di atas tempat tidur.


"Hirotta!" teriak Gavin.


Hirotta yang sedang bengong tersentak kaget mendengar teriakan Gavin, bahkan ponselnya pun hampir saja terjauh kalau dia tidak sigap menangkapnya.


"Aduh, matilah aku," gumam Hirotta.


Hirotta pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Alea, dan betapa terkejutnya Hirotta saat melihat Alea pingsan.


"Alea kenapa, Vin?" tanya Hirotta khawatir.


"Dia pingsan."


"Maafkan aku Vin, tadi aku keceplosan menyebut nama kamu," seru Hirotta menundukkan kepalanya.


Hirotta sampai menganga mendengar ucapan Gavin, dia mengira kalau Gavin akan memukulnya dan melemparnya ke kandang harimau atau buaya tapi ternyata perkiraannya salah.


"Aku sudah menghubungi Tante Queen dan sebentar lagi dia akan ke sini bersama Gabby."


Menjelang sore, Mami Queen dan Gabby sampai di kampung janda. Gabby yang sudah mengemudikan mobilnya menuju kampung itu, Mami Queen tampak panik dia pun segera masuk disusul oleh Gabby.


"Bagaimana keadaan, Alea?" tanya Mami Queen panik.


"Dari tadi Alea belum sadarkan diri, Tante," sahut Gavin.


Mami Queen segera memeriksa Alea, dia pun menyuntikan obat untuk Alea hingga perlahan mata Alea mulai terbuka. Di saat mata Alea terbuka, Alea kembali histeris kala melihat Gavin dan Hirotta yang sudah berubah menjadi pria sebenarnya tidak memakai daster lagi.


"Pergi kalian, jangan dekati aku!" teriak Alea.


Alea beringsut ke pinggiran ranjang, dia kembali histeris melihat Gavin dan Hirotta.


"Sayang tenang, itu Gavin dia bukan orang jahat. Bukanya kamu sangat merindukan Gavin? dia tidak akan melukaimu sayang," seru Mami Queen.


Gabby yang baru bisa melihat keadaan Alea tampak meneteskan airmatanya, bahkan Gabby sampai bersembunyi di balik punggung Hirotta karena tidak kuasa menahan sakit melihat sahabat baiknya seperti itu.


"Al, ini aku Gavin. Aku bukan orang jahat," seru Gavin lembut.


"Jangan dekati aku, Kak."


"Vin, cobalah kamu dekati Alea biar kami keluar terlebih dahulu. Kamu harus lembut dan santai jangan terbawa emosi dan perasaan," seru Mami Queen.


"Baik, Tante."


Mami Queen pun membawa Gabby dan Hirotta untuk keluar dari kamar Alea. Tubuh Alea kembali bergetar, Gavin duduk di ujung ranjang.


"Sayang, ini aku Gavin tenanglah jangan takut."


Alea terus saja menangis, sebenarnya dia ingin sekali memeluk Gavin tapi otaknya berkata lain. Tubuh Alea bereaksi diluar kesadaran Alea sendiri.


"Kamu tahu Al, aku tidak bisa melupakanmu walaupun itu cuma sedetik saja. Aku merasa sangat tersiksa saat berada jauh darimu, dan sekarang saat aku sudah dekat denganmu, kamu malah takut kepadaku dan itu jauh lebih menyakitkan. Aku mohon, lawan rasa takutmu kembalilah menjadi Alea yang dulu. Alea yang ceria dan periang, aku sangat merindukanmu sayang, aku mohon kembalilah seperti Alea dulu."


Airmata Alea terus saja mengalir, bayangan-bayangan kebersamaan dirinya dan Gavin dulu berputar di otaknya. Bayangan saat dia jalan-jalan bersama, bahkan saat dia berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.


Alea memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut.


"Aw, sakit," lirih Alea.


"Kamu kenapa Al?" tanya Gavin panik.


Gavin perlahan mengulurkan tangannya ke arah Alea.


"Peganglah tanganku Al, aku yakin kamu bisa melawan rasa takutmu."


Alea menatap tangan Gavin, tangan yang dulu selalu menggenggam tangannya itu. Cukup lama Alea menatap tangan Gavin, hingga Alea pun mulai luluh.


Perlahan tangan Alea terulur, Gavin bisa melihat kalau tangan Alea bergetar hebat.


"Ayo Al, kamu pasti bisa melawan rasa takutmu."


Perlahan tapi pasti, akhirnya Alea bisa menyentuh tangan Gavin walaupun tangan Alea terlihat masih bergetar hebat tapi Alea berusaha untuk melawan rasa takutnya sendiri.


Gavin menggenggam tangan Alea dan menyunggingkan senyumannya.


"Aku tahu kamu wanita hebat dan kamu bisa melawan rasa takutmu."


Sementara itu, di balik pintu Mami Queen meneteskan airmatanya sembari tersenyum.


"Memang hanya Gavin yang bisa menyembuhkan Alea," batin Mami Queen.