A NINJA'S REVENGE

A NINJA'S REVENGE
Episode 11 Kekhawatiran Mami Queen Dan Papi Rifki



Azura dan anak buahnya memutuskan untuk kembali ke rumahnya, dia akan melaporkan semuanya kepada Papanya. Sementara itu, Xavier saat ini sedang bersemedi menyalurkan semua kekuatannya untuk menerawang di mana saat ini Alea berada.


Samar-samar Xavier melihat Alea di sebuah kampung, tapi Xavier tidak tahu di mana kampung itu berada.


Xavier membuka matanya. "Sial, kenapa aku tidak bisa melihat di mana kampung itu berada? ternyata Alea dan kedua orangtuanya sudah ada yang melindungi, kurang ajar siapa orang itu?" geram Xavier.


Lewat tengah malam Azura sampai di rumahnya, dia hendak melaporkan kepada Papahnya.


"Pa, ternyata----"


"Papa tahu, orangtua wanita itu sudah ada yang melindungi kan?"


"Iya, Pa. Aku tidak bisa mendekatinya bahkan aku selalu mental jika berusaha menyentuhnya."


"Biar ini urusan Papa dan sang Ratu, nanti Papa cari tahu siapa orang yang sudah membantu orangtua wanita itu."


"Baiklah, oh iya Pa, apa Papa sudah mendapatkan wanita malam ini? soalnya aku sudah sangat haus," seru Azura.


"Ada, dia ada di ruangan bawah tanah."


"Oke, terima kasih, Pa."


Azura pun dengan cepat berlari menuju ruang bawah tanah, Azura sudah tidak sabar ingin mengisap darah karena tubuhnya sudah kehabisan tenaga.


Sementara itu, Gavin dan Gabby masih saja berlatih untuk mendapatkan ikan menggunakan tombak dan sekarang mereka sudah mulai berhasil mendapatkan ikan.


Sedangkan Hirotta, duduk di pinggir sungai dengan menyalakan api unggun sembari membakar ikan hasil tangkapan Gavin dan Gabby.


"Gavin, Gabby, sepertinya kalian harus istirahat dulu deh, ikannya sudah banyak ini jangan sampai ikan di sungai itu habis karena kalian yang menangkapnya!" teriak Hirotta.


Gavin dan Gabby tampak ngos-ngosan, sungguh saat ini mereka sedang semangat-semangatnya mencari ikan.


Gavin dan Gabby pun segera naik ke atas dan menghampiri Hirotta.


"Ini sudah tengah malam, memangnya kalian tidak ngantuk dan tidak kedinginan main air terus?" seru Hirotta.


"Ternyata menangkap ikan dengan tombak itu seru," sahut Gabby.


"Seru sih seru, tapi kalian juga harus jaga kesehatan jangan terlalu di porsir tenaganya nanti kalian sakit," seru Hirotta.


Hirotta memberikan Gavin dan Gabby ikan yang sudah di bakar itu dan mereka bertiga pun memakannya dengan lahap.


Sedangkan Sensei Geomon yang memperhatikan dari bibir gua, tampak menyunggingkan sedikit senyumannya.


"Aku tahu kalau kalian akan bisa melakukannya," batin Sensei Geomon.


Setelah kenyang memakan bakar ikan, ketiganya pun merebahkan tubuhnya di samping api unggun itu dengan beratapkan bintang-bintang yang sangat indah.


Gavin dan Gabby menerawang jauh. "Bang, apa kita bisa menemukan orang-orang itu?" tanya Gabby.


"Kita pasti akan menemukan mereka."


Berbeda dengan Gavin yang belum bisa memejamkan matanya.


"Alea, bagaimana kabarmu sekarang? semoga kamu baik-baik saja. Bersabarlah, aku akan kembali setelah aku menjadi petarung yang hebat dan orang pertama yang akan aku temui adalah kamu," batin Gavin.


Gavin mengingat peristiwa pemerkosaan itu, dia masih ingat bagaimana Alea saat itu begitu sangat hancur.


Gavin membalikan tubuhnya membelakangi Gabby dan juga Hirotta, tubuh Gavin mulai bergetar, dia kembali menangis dan dia menutup mulutnya supaya Gabby dan Hirotta tidak mendengarnya menangis.


Hati Gavin benar-benar sakit, ternyata sesakit itu melihat wanita yang sangat dia cintai dan dia jaga dengan sepenuh jiwa raganya menderita dan terluka bahkan dia sama sekali tidak bisa menolongnya.


"Maafkan aku, Alea. Aku janji aku akan memusnahkan mereka semua," batin Gavin.


***


Keesokan harinya...


Mami Queen dan Papi Rifki merasa sangat tidak tenang, apalagi setelah mendengar cerita Mami Queen yang membuat hati Papa Rifki dilanda ketakutan yang luar biasa.


"Bagaimana ini Pi, kita harus pergi ke mana? aku tidak tahu siapa orang itu, tapi yang jelas menurut Mami dia bukan sekedar manusia biasa karena dia bisa merubah wujud dalam sekejap," seru Mami Queen panik.


"Papi tidak habis pikir, kenapa di zaman modern seperti ini masih ada orang yang bersekutu dengan iblis."


"Tapi yang membuat Mami semakin bingung, orang itu tidak bisa menyentuh Mami karena di saat dia mendekat dan ingin menyentuh Mami, orang itu langsung terpental."


"Ini semua benar-benar tidak masuk di otak Papi, semuanya benar-benar aneh."


Mami Queen dan Papi Rifki terdiam, hingga Mami Queen pun mengingat sesuatu.


"Pi, Mami ingat, pasti ini semua ada hubungannya dengan orang yang memakaikan kalung kepada Alea. Siapa orang itu? Mami yakin, pasti orang itu juga sudah melindungi kita makanya tidak ada yang bisa berbuat jahat kepada kita."


"Iya Mi, mudah-mudahan saja Alea juga baik-baik saja," sahut Papi Rifki.


Di sisi lain, Alea saat ini sedang jalan-jalan pagi ditemani oleh Neli. Alea tampak bahagia bahkan untuk pertama kalinya Alea menyunggingkan senyumannya.


"Apa kamu bahagia, Alea?" tanya Neli.


Alea menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


Alea saat ini sudah tinggal di rumah baru yang Mami Queen beli, Alea ditemani oleh Neli karena Neli takut Alea kambuh dan melukai dirinya sendiri.


"Neli, Alea, ayo kita sarapan dulu!" teriak Ibu Neli.


"Ibu sudah buatkan kita sarapan, ayo kita sarapan dulu," ajak Neli.


Lagi-lagi Alea menganggukkan kepalanya, Alea memang susah sekali bicara dia masih sulit untuk berinteraksi dengan orang lain.


Neli mengambilkan nasi goreng yang dibuatkan oleh Ibunya. "Ayo, kamu harus makan yang banyak biar cepat sembuh."


Baru beberapa hari tinggal di kampung janda, wajah Alea tidak pucat lagi dan Alea sudah mulai mau makan walaupun masih sedikit tapi setidaknya ada makanan yang masuk ke tubuhnya.