A NINJA'S REVENGE

A NINJA'S REVENGE
Episode 13 Kepulangan Gavin dan Gabby



Keesokan harinya...


Gavin dan Gabby sudah siap-siap dengan tas ranselnya karena hari ini mereka akan pulang ke Indonesia. Sedangkan Hirotta tampak berdiam diri di pinggir sungai dengan sesekali melempar batu kecil ke sungai.


"Si Hiro ke mana?" tanya Gavin.


"Tuh, di pinggir sungai," sahut Gabby.


Gavin pun segera menghampiri Hirotta yang sedang termenung itu.


"Woi, kamu lagi ngapain di sini?" tanya Gavin dengan ikut duduk di samping Hirotta.


"Aku sedang sedih."


"Idih, gak pantas kamu sedih. Memangnya apa yang sedang kamu sedihkan?"


"Aku bakalan sendiri di sini, kalian sekarang mau pulang bagaimana aku tak sedih," sahut Hirotta.


"Memangnya kamu tidak punya tempat tinggal atau keluarga?" tanya Gavin.


"Aku kan sudah cerita sama kamu, kalau semua keluargaku sudah mati terbunuh makanya aku ikut berlatih menjadi Ninja."


"Ah iya, aku lupa."


Untuk sesaat keduanya terdiam, hingga tidak lama kemudian Gabby pun datang dan bergabung dengan mereka.


"Bagaimana kalau kita bawa Hirotta ikut bersama kita saja, Bang?" usul Gabby.


Mata Hirotta tampak berbinar mendengar ucapan Gabby, seakan mendapatkan Gavin.


"Mau, aku mau ikut kalian. Tidak apa-apa, aku bisa membantu kalian untuk membunuh musuh-musuh kalian," sahut Hirotta dengan senangnya.


Gavin dan Gabby saling berpandangan satu sama lain. "Baiklah, kamu boleh ikut sama kita," seru Gavin.


"Benarkah? terima kasih, Vin."


Hirotta hendak memeluk Gavin tapi dengan cepat Gavin menghalanginya.


"Kebiasaan main peluk-peluk, mau aku lempar kamu ke sungai itu," kesal Gavin.


"Ishh..ishh..ishh..galak banget, oke lah aku mau siap-siap dulu."


Hirotta dengan senangnya segera masuk ke dalam gua untuk membereskan barang-barang dia, sedangkan Gavin dan Gabby masih terduduk di sana.


"Ini saatnya untuk kita membalaskan semua dendam kita, Bang."


"Iya, jangan sampai tersisa satu orang pun, kita harus musnahkan mereka semua," sahut Gavin.


Tatapan Gavin lurus ke depan. "Tunggu aku Alea, aku akan segera kembali dan menemuimu. Aku sangat merindukanmu," batin Gavin.


Akhirnya Gavin, Gabby, dan Hirotta pun pergi dari gua itu. Mereka bingung, di saat tadi pagi mereka bangun, mereka sama sekali tidak menemukan sosok Sensei Geomon di gua itu sampai-sampai dia harus menunggu cukup lama untuk berpamitan tapi sampai siang pun tiba, Sensei Geomon tidak ada di sana.


Mereka bertiga pun akhirnya memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan dahulu kepada orang yang selama satu tahun ini sudah mengajarkan mereka banyak hal.


Mereka bertiga meninggalkan gua itu, tapi tiba-tiba Sensei Geomon muncul dan menatap kepergian ketiganya dengan senyuman.


"Tenang saja, aku akan selalu ada dalam hati kalian. Setiap kalian kesusahan, aku akan hadir," batin Sensei Geomon.


***


Sementara itu di kampung janda, Alea sedang bermain dengan anak-anak kecil di sana dan Alea tampak bahagia sekali bahkan Alea membuat sebuah tempat tinggal untuk anak-anak yang sudah tidak mempunyai orangtua dan kebetulan saat ini ada dua orang anak kecil yang tinggal bersama Alea.


Ibu mereka baru saja meninggal dengan selisih waktu yang lumayan berdekatan.


"Ehmm...hidup dikota itu ada enaknya dan ada juga gak enaknya," sahut Alea.


"Enak dan gak enaknya apa, Kak?" tanya Lusi.


"Enaknya, jika kita ingin beli makanan, kita tidak perlu susah-susah pergi tinggal pesan saja nanti ada orang yang antar begitu pun dengan keperluan yang lainnya tinggal pesan lewat ponsel, beres. Tapi kalau gak enaknya, di kota itu gak bakalan menemukan suasana seperti di kampung yang segar, indah, dan tanpa polusi," sahut Alea.


Kedua anak kecil perempuan itu tampak ngangguk-ngangguk. Sedangkan dari kejauhan Ratu Mustika Arum dan Azura memperhatikan Alea.


"Azura, kamu bisa menyamar menjadi seorang anak kecil untuk mendekati wanita itu dan berusahalah melepaskan kalung yang dia pakai," seru Ratu Mustika Arum.


"Tapi Ratu, bagaimana aku bisa mengambil kalung itu, sedangkan baru dekat saja tubuh aku sudah terpental," sahut Azura.


"Kamu tidak perlu menyentuhnya, kamu cukup suruh dia dan rayu dia supaya mau melepaskan kalungnya."


"Terus, kalau aku menyamar jadi anak kecil, bagaimana kalau dia menyentuhku? dia akan tahu siapa aku sebenarnya?" tanya Azura kembali.


"Aku akan buat kamu seperti punya penyakit kulit yang sangat menular, jadi dia gak bakalan berani menyentuh atau pun mendekati kamu."


Azura menganggukkan kepalanya, pertanda dia mengerti akan apa yang sudah diucapkan oleh Ratu Mustika Arum.


Hingga tidak lama kemudian, Ratu Mustika Arum pun mengubah penampilan Azura menjadi seorang anak kecil perempuan dengan penampilan memakai baju serba tertutup kemudian menghampiri Alea yang sedang mengobrol dengan dua anak lainnya.


"Kak, bolehkah aku minta makan? aku sangat lapar."


Alea menoleh ke arah anak itu dan memperhatikan penampilannya, Alea bangkit dari duduknya dan hendak menghampiri anak itu tapi dia dengan cepat menghindar dan menjauh dari Alea membuat Alea mengerutkan keningnya.


"Jangan dekat-dekat."


"Loh, kenapa?" tanya Alea.


"Aku mempunyai penyakit kulit yang menular Kak, jadi Kakak jangan dekat-dekat sama aku."


Alea melihat tangan anak itu, dan terlihat sekali kalau kulitnya melepuh seperti kena bakar membuat Alea sedikit ngeri.


"Ya sudah, kamu duduk dulu ya biar Kakak bawakan makanan untukmu," seru Alea lembut.


Anak itu pun duduk di bawah pohon nangka, Yuli dan Lusi melihat ke arah Azura yang saat ini sedang menyamar itu, Azura menatap tajam keduanya bahkan matanya sudah memerah membuat Yuli dan Lusi ketakutan lalu memilih pergi masuk ke dalam rumah Alea.


"Al, kamu bawa makanan buat siapa?" tanya Neli yang baru saja datang.


"Oh, ini untuk anak itu," sahut Alea.


Neli melihat seorang anak dengan memakai hoody sedang duduk di bawah pohon nangka, Neli mengikuti Alea dari belakang.


Alea menyimpan makanan itu agak jauh di hadapan Azura.


"Itu makanannya," seru Alea.


Perlahan anak itu mengambil piring makanan yang dibawa oleh Alea dan langsung melahapnya dengan sangat rakus membuat Alea merasa iba.


"Dia kenapa? apa anak itu gila?" bisik Neli.


"Buka gila, katanya dia lapar tapi dia punya penyakit menular jadi aku jangan dekat-dekat sama dia," sahut Alea dengan berbisik juga.


Neli mengerutkan keningnya, dia sama sekali tidak mengenal anak itu dan anak itu bukan orang kampung sana dan yang membuat Neli tak habis pikir, anak itu datang dari mana padahal kampung janda adalah kampung yang jauh dari mana-mana dan terisolir.


"Anak itu datang dari mana?" batin Neli.


Azura menatap ke arah Neli, dia menyunggingkan sedikit senyumannya. Azura memang bisa mendengar ucapan dalam hati semua orang, dan dia tahu yang saat ini sedang dipikirkan oleh Neli.


"Sepertinya orang itu mencurigai ku, aku harus segera menyingkirkannya," batin Azura.