
*
*
*
*
*
- Gavin Trey Camberra-
"Bertemu atau tidak, bersama atau tidak, kamu tetap mempunyai tempat teristimewa di hatiku, karena aku menyayangimu selalu. Sampai bertemu di titik terbaik menurut takdir."
- Alea Saputra Darwis -
"Perpisahan yang paling menyakitkan adalah perpisahan yang tak terucap. Tiba-tiba hilang tanpa kabar, tiba-tiba tidak ada, lalu meninggalkan banyak tanya. Jika tidak menginginkanku lagi, pamit lah dengan baik selayaknya seperti kau hadir dalam kehidupanku. Kali ini aku benar-benar ikhlas dan pasrah, menunggu apa selanjutnya rencana semesta untukku."
*
*
*
*
Alea dan Gavin di bawa ke rumah sakit, mereka berdua mendapat penanganan dan penjagaan ketat dari pihak kepolisian.
Gavin di jaga oleh adiknya Gabby, malam itu Gavin sudah sadarkan diri.
"Bagaimana kondisi, Alea?" tanya Gavin.
"Alea masih belum sadarkan diri, Bang."
"Kamu merasa tidak, kalau ini semua direncanakan?"
"Maksud Abang, apa?"
"Ada orang yang sengaja membunuh Mommy dan Daddy kita, mungkin ada sistem balas dendam di sini."
"Tapi siapa, Bang?"
"Abang juga tidak tahu, mungkin orang dari masa lalu Mommy dan Daddy."
"Kita tahu, dulu Mommy dan Daddy memang seorang penjahat tapi aku gak terima Bang, mereka membunuh Mommy dan Daddy dengan cara seperti itu," seru Gabby dengan bibir yang bergetar.
"Malam ini juga, kita harus pergi Gab. Abang yakin, orang itu akan terus mengincar kita dan kita tidak punya persiapan apa pun. Abang tidak bisa mati dulu, sebelum Abang menemukan siapa pembunuh Mommy dan Daddy."
"Aku juga ingin tahu siapa orang itu, dan aku tidak akan melepaskan mereka. Aku akan puas, kalau aku bisa membunuh mereka juga karena bagaimana pun, nyawa harus di bayar dengan nyawa," seru Gabby dengan mengepalkan tangannya.
Gavin melepaskan jarum infus yang menempel di tangannya dengan paksa, malam ini dia dan Gabby harus segera pergi bagaimana pun caranya.
"Gab, kamu alihkan perhatian para polisi di depan sana."
"Baik, Bang."
Gabby keluar dari ruangan rawat Gavin, dia pura-pura pergi untuk membeli minuman dan tidak membutuhkan waktu lama, Gabby pun segera kembali dengan membawa satu botol minuman dingin.
"Pak, tadi aku melihat di bawah ada orang yang mencurigakan soalnya aku dengar, dia mencari nama Alea anaknya Pak Rifki," dusta Gabby.
"Serius kamu?"
"Aku serius, Pak."
Kedua polisi itu segera pergi dari depan ruangan rawat Gavin, Gabby dengan cepat masuk dan mengajak Gavin untuk segera pergi lewat jalan yang lain.
"Ayo, Bang!"
"Gab, Abang harus pamitan dulu kepada Alea."
"Bang, ruangan rawat Alea dijaga ketat kalau kita ke sana, kita gak bakalan bisa pergi."
"Tapi, Gab."
"Bang, waktu kita gak banyak. Aku yakin, Alea akan mengerti."
"Maafkan aku Al, aku janji akan segera kembali," batin Gavin.
Gavin dan Gabby pun segera pergi dari rumah sakit itu, mereka kembali ke rumah mereka untuk mengambil barang-barang yang mereka butuhkan.
"Gab, jangan terlalu lama, bawa barang-barang yang penting saja, kita harus segera ke Bandara."
"Baik, Bang."
Malam itu menjadi malam yang sangat menegangkan, The Blood mengintai rumah sakit, mereka belum tahu kalau Gavin dan Gabby berhasil kabur tanpa sepengetahuan mereka.
Gabby dan Gavin berlari masuk ke dalam Bandara, kebetulan saat ini ada penerbangan terakhir menuju Perancis. Gabby dan Gavin berencana akan menemui uncle mereka Glenn dan Gio.
Selama dalam perjalanan menuju Perancis, Gabby dan Gavin hanya diam saja. Gavin melihat ke luar jendela, perasaannya sungguh sangat sakit.
"Maafkan aku Al, aku harus pergi tanpa pamit dulu sama kamu tapi aku janji akan kembali untukmu. Sampai bertemu kembali di titik terbaik menurut takdir," batin Gavin.
***
Keesokan harinya...
Alea terbangun dengan berteriak ketakutan, bahkan Alea melempar semua barang-barang yang ada di dekatnya ke arah semua pria yang ada di dalam ruangan itu termasuk Papinya sendiri.
"Pergi kalian, jangan dekati aku!" teriak Alea.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Mami Queen.
"Alea tidak mau ada laki-laki di sini, Alea takut Mami."
Tubuh Alea bergetar hebat, bahkan matanya memerah dengan airmata yang terus mengalir. Mami Queen memeluk Alea dengan sangat erat, Mami Queen memang sudah tahu tentang kondisi Alea karena Mami Queen memeriksa keseluruhan tubuh Queen.
Mami Queen sangat sakit, saat melihat selaput dara putri satu-satunya itu sudah robek. Awalnya Mami Queen tidak mengetahui masalah itu, tapi Mami Queen melihat ada bercak darah di celana Alea. Karena Mami Queen curiga, akhirnya ia memeriksanya dan ternyata kenyataan pahit telah menimpa putri kesayangannya itu.
"Tenang sayang, saat ini kamu aman," seru Mami Queen dengan deraian airmata.
Papi Rifki hanya bisa menangis melihat keadaan putrinya, sungguh dia sangat merasa bersalah karena tidak bisa menjaga putrinya.
"Pagi, Komandan."
"Pagi, ada apa?"
"Komandan, pasien bernama Gavin sudah tidak ada di kamarnya."
"Apa?"
Papi Rifki segera berlari menuju ruang rawat Gavin dan benar saja, Gavin sudah tidak ada di sana.
"Ke mana dia? apa kalian sudah mengecek ke rumahnya?"
"Sudah Komandan, dan rumah itu terlihat kosong."
"Ke mana dia? jangan sampai dia tertangkap, pokoknya tambah personil untuk menjaga rumah Gavin, takutnya ada apa-apa dengan Gavin. Dan kalian harus segera menghubungi saya kalau ada kabar mengenai Gavin."
"Baik, Komandan."
Papi Rifki sangat khawatir dengan keadaan Gavin dan juga Gabby, ia takut mereka tertangkap.
Setelah melakukan perjalanan yang lumayan panjang, Gavin dan Gabby segera menuju kediaman Glenn dan Gio. Gavin dan Gabby memakai penutup wajah supaya tidak ada yang mengenalinya.
Mereka berdua segera masuk ke dalam taksi menuju kediaman uncle mereka, dan di saat mereka sampai ternyata kediaman uncle mereka sudah terpasang garis polisi dan sudah banyak sekali polisi yang berjaga-jaga.
"Ada apa ini, Bang?" tanya Gabby panik.
"Abang juga tidak tahu."
Gavin menghampiri seorang polisi dan bertanya, betapa terkejutnya Gavin dan Gabby saat mengetahui uncle, Onty, dan juga anak-anaknya tewas terbunuh oleh orang yang tidak dikenal.
Gavin dan Gabby semakin frustasi, mereka semakin yakin kalau ini semua sudah direncanakan.
"Brengsek, siapa sebenarnya yang melakukan semua ini? kenapa semua keluarga kita dibunuh secara brutal seperti ini?" teriak Gavin dengan sangat emosi.
Gabby hanya bisa menutup wajahnya dengan tangannya, Gabby menangis tanpa suara. Hatinya benar-benar remuk mengetahui kenyataan yang sangat menyakitkan ini.
"Bang, kita harus balas dendam dan kita harus cari siapa orang-orang itu, aku gak rela mereka hidup tenang di atas penderitaan kita," geram Gabby.
Gavin dan Gabby sudah sangat emosi, terlihat sekali dalam tatapan mereka tersirat rasa dendam yang sangat besar.
*
*
*
Bagi pencinta Ninja, tolong jangan samakan cerita aku ini soalnya ini adalah cerita Ninja ala-ala aku. Ini juga genre fantasi jadi jangan heran jika ceritanya banyak diluar nalar otak kalian, jika tidak suka skip saja jangan tinggalkan komentar yang menjatuhkan mental🙏🙏