A NINJA'S REVENGE

A NINJA'S REVENGE
Episode 38 Momen Mengharukan



Gabby, Alexa, Aleena, Vina, Vira, dan Dira mengusap airmata mereka masing-masing, sungguh mereka sangat terharu dengan cinta Gavin dan Alea.


"Akhirnya mereka bisa bersatu juga, setelah sekian lama mengalami banyak sekali rintangan," seru Gabby.


"Iya, aku sedih tahu melihat mereka," sambung Vina.


"Kok sedih sih, sayang?" tanya Langit.


"Karena aku pengen seperti mereka," sahut Vina dengan kesalnya.


"Astaga, kirain apa," seru Langit dengan santainya.


"Santai banget jawabannya, mikir dan kerja yang benar biar bisa melamar aku kaya Kak Gavin," seru Vina mencubit perut Langit dengan gemasnya.


"Aw, sakit sayang."


"Ya ampun, kalian bisa diam tidak? Rusuh banget," kesal Putra.


Sementara itu, di saat semua orang sedang sibuk dengan perasaan masing-masing, Arsya justru memanfaatkan situasi dengan sedikit demi sedikit menggeser tempat untuk mendekati Aleena.


Di saat Arsya sudah tepat berada di belakang Aleena dan Aleena sama sekali tidak menyadarinya, yang menyadari tingkah Arsya hanyalah Hirotta.


"Hayo loh, mau ngapain dekat-dekat sama Aleena? Bukanya kata kamu tidak boleh dekat-dekat dengan wanita kalau belum sah menikah," celetuk Hirotta.


Seketika semua orang melihat ke arah Arsya, bahkan Aleena tampak kaget yang baru menyadari kalau saat ini Arsya sudah tepat berada di belakangnya.


"Astagfirullah, Kak Arsya ngapain dekat-dekat sama aku? Kalau sampai Abi aku tahu, Kak Arsya bisa dihukum," seru Aleena yang langsung mengubah posisinya menjauh dari Arsya.


"Hayo, gak bakalan jadi menantu Abi loh nanti," goda Garra.


"Diam, kamu!"


Alea tampak celingukan. "Itu kok kaya suara anak-anak," seru Alea.


"Memang, semua ini sebenarnya anak-anak yang nyiapin," sahut Gavin.


"Ya ampun."


"Woi, keluar kalian!" teriak Gavin.


Akhirnya semuanya pun keluar termasuk Mami Queen juga.


"Mami, kok Mami ada di sini?" tanya Alea kaget.


"Mami disuruh mereka Al," sahut Mami Queen dengan senyumannya.


"Selamat ya Al, kita bahagia banget," seru Dira.


"Terima kasih."


Satu persatu teman-teman Alea memeluk Alea dengan bahagianya, begitu pun dengan Putra dan Langit mereka memang sudah menganggap Alea seperti adik mereka sendiri.


Arsya hanya bisa mengusap dadanya sendiri berusaha tenang dan menahan diri.


"Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah," gumam Arsya.


"Pengen peluk juga ya? Jangan, bukan mahram," bisik Hirotta meledek Arsya.


"Dasar bule sipit, awas kamu," geram Arsya.


"Selamat ya, Al."


Hirotta menghampiri Alea ingin memeluknya juga, tapi dengan cepat Gavin menjewer telinga Hirotta.


"Mau apa kamu?"


"Mau peluk juga Vin, mau ngucapin selamat sama Alea," sahut Hirotta dengan sengirannya.


"Sini, aku wakilin aja."


"Ya Allah Kak, kasihan Kak Hirotta," seru Alea.


"Kamu jahat Vin, masa Putra sama Langit aja boleh peluk sedangkan aku gak boleh peluk Alea," keluh Hirotta.


"Karena kamu bukan spesies kita, makanya kamu gak boleh peluk Alea," goda Gavin.


"Ya sudahlah."


Hirotta berjongkok membelakangi semuanya dan menggaruk-garuk tanah dengan sebuah batang kayu.


"Idih lucu, bule sipit ngambek!" teriak Alexa.


"Baperan, gitu aja baperan," ledek Gavin.


"Jangan gitu Kak, kasihan," seru Alea.


Alea pun menghampiri Hirotta dan menarik tangan Hirotta supaya berdiri, lalu memeluk Hirotta membuat Hirotta tersenyum.


"Terima kasih ya, Kak Hirotta. Karena selama ini sudah ikut menjaga aku," seru Alea.


"Sama-sama, Al."


Tanpa sadar airmata Hirotta justru menetes membuat semua orang terkejut. Alea melepaskan pelukannya dan menghapus airmata Hirotta.


"Kak Hiro kenapa nangis?" tanya Alea.


"Aku ingat sama adik Perempuanku yang sudah meninggal Al, kalau masih ada mungkin saat ini dia sudah seumuran kamu," sahut Hirotta.


Vina langsung berlari menghampiri Hirotta dan memeluk Hirotta.


"Cup-cup, jangan nangis Kak sipit aku mau kok jadi adik angkat kamu," seru Vina.


Langit dengan kesalnya menghampiri Vina dan menjewer telinga Vina, sampai-sampai Vina melepaskan pelukannya.


"Kebiasaan, main peluk aja," kesal Langit.


"Ih apaan sih yang, sakit tahu. Kelemahan pacarmu ini kan gak bisa lihat pria tampan, pengennya nemplok Mulu mohon dimengerti," seru Vina.


"Dasar, baiklah besok aku bakalan nikahin kamu biar aku bebas bisa melarangmu dan mengurungmu di rumah," kesal Langit.


Semua orang yang ada di sana hanya bisa tertawa, kelakuan mereka memang random jadi pasti ada aja hal konyol yang muncul saat mereka kumpul bersama.


Malam semakin larut, mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Gavin dan Alea masih dalam perjalanan, selama dalam perjalanan Alea terus saja melihat cincin yang sekarang sudah tersemat di jari manisnya itu.


"Aku benar-benar gak nyangka kalau pada akhirnya kita akan melangkah sejauh ini, Kak."


"Namanya juga jodoh Al, sejauh apa pun kita berpisah pada akhirnya akan bersatu juga."


"Sekali lagi maafkan aku Kak, aku bukanlah wanita idaman Kakak karena aku sudah tidak---"


"Jangan dilanjutkan lagi, sudah cukup," seru Gavin memotong ucapan Alea.


"Tapi Kak, aku selalu merasa malu dan bersalah sama Kakak karena tidak bisa menjaga semuanya."


Gavin menghentikan mobilnya, dia menghadap ke arah Alea dan menggenggam kedua tangan Alea.


"Al, sejak denganmu, aku sama sekali tidak tertarik kepada wanita mana pun bukan karena kamu sempurna, tetapi bersamamu sudah lebih dari cukup untukku karena sejak awal aku sudah berniat memilihmu untuk menjadi teman hidupku."


Airmata Alea lagi-lagi menetes, sungguh Gavin adalah pria yang benar-benar Alea butuhkan dan inginkan.


"Sudah jangan menangis lagi, sekarang saatnya kita hidup bahagia dan aku adalah pria yang akan membuatmu bahagia selamanya."


Alea tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Sekarang kita pulang, sudah larut malam. Aku tidak mau kamu sakit karena sebentar lagi pernikahan kita akan segera dilaksanakan."


Gavin perlahan mulai melajukan mobilnya mengantarkan Alea pulang, saat ini hati Alea benar-benar merasa tenang dan bahagia tidak ada lagi rasa was-was dan rasa takut.