
Keesokan harinya, Gavin memutuskan untuk pergi ke kampung Neneknya Alea. Awalnya dia mau pergi sendiri, tapi Gabby dan Hirotta ingin ikut jadi Gavin pun akhirnya pergi bersama mereka.
Sensei Geomon memang memberikan suatu kekuatan dalam tubuh mereka bertiga, sehingga Xavier dan Azura tidak akan bisa mengetahui siapa mereka sebenarnya. Bahkan Xavier dan Azura tidak akan bisa menembus pikiran dan isi hati ketiganya.
Ketiganya berangkat menggunakan kereta api, hingga beberapa jam kemudian mereka pun sampai di kampung halaman Nenek Alea.
"Apa Abang tahu di mana rumah Neneknya Alea?" tanya Gabby.
"Tahu, dan Abang masih ingat."
Mereka bertiga berjalan beriringan, banyak warga di sana yang memperhatikan ketiganya bahkan para gadis di sana sudah kegirangan melihat Gavin yang sangat tampan itu, begitu pun Hirotta yang terlihat sekali wajah Jepangnya yang sangat mempesona.
"Vin, jantung aku deg-degan kalau para gadis itu memperhatikanku," seru Hirotta.
"Percaya diri sekali kamu, memangnya mereka sedang memperhatikanmu? bisa jadi kan, mereka sedang memperhatikan ke arah lain," kesal Gabby.
Hirotta merangkul pundak Gabby dengan senyumannya. "Kamu cemburu ya, makanya kamu kesal seperti itu?" goda Hirotta.
Gabby semakin kesal, dia menyikut perut Hirotta membuat Hirotta meringis kesakitan.
"Enak saja, sembarangan kalau bicara," kesal Gabby.
Tidak lama kemudian, Gavin pun sampai di depan rumah Nenek Alea. Gavin menghentikan langkahnya, dan berdiri mematung di depan rumah itu.
"Apa ini rumahnya, Bang?"
"Iya."
"Kamu yakin Vin? kok kayanya rumah ini sepi banget," seru Hirotta.
Tidak lama kemudian, Mami Queen pun keluar dengan membawa sapu lidi. Sepertinya Mami Queen ingin membersihkan halaman rumahnya yang sudah dipenuhi dedaunan kering itu.
Gavin, Gabby, dan Hirotta masih berdiri mematung memperhatikan kegiatan Mami Queen, Mami Queen masih belum sadar kalau saat ini ada tiga pasang mata yang sedang memperhatikannya.
Hingga beberapa saat kemudian, Mami Queen selesai membersihkan halaman rumahnya, Mami Queen tidak sengaja menoleh ke luar gerbang.
Mami Queen membelalakkan matanya, bahkan sapu lidi yang dia pegang pun sampai terjatuh melihat kedatangan Gavin.
"Ga-gavin," seru Mami Queen terbata-bata.
Perlahan Gavin melangkahkan kakinya, Gavin sangat merindukan Mami Queen. Mami Queen adalah sosok ibu yang sangat baik, bahkan dulu Mami Queen tidak pernah melarang dia untuk main ke rumah.
Mata Mami Queen berkaca-kaca, begitu pun dengan Gavin. Gavin berdiri di hadapan Mami Queen.
"Tante."
Mami Queen menyentuh wajah Gavin dengan sangat lembut, airmata Mami Queen menetes dengan sendiri.
"Ya Allah, apa ini benar kamu, Gavin?" seru Mami Queen dengan bibir yang bergetar.
"Iya Tante, aku Gavin."
Airmata Mami Queen semakin deras, Mami Queen pun langsung memeluk Gavin dengan sangat erat.
"Ya Allah, kamu ke mana saja Nak? Tante sangat khawatir dengan keadaan kamu dan Gabby, kalian menghilang begitu saja tanpa kabar sama sekali."
"Maafkan Gavin, Tante. Gavin pergi tanpa pamit."
Cukup lama mereka berpelukan, hingga Mami Queen pun melepaskan pelukannya. Mami Queen menoleh ke arah Gabby yang saat ini masih berdiri mematung dengan airmata yang tak henti-hentinya menetes di pipinya.
"Tante, Gabby sangat merindukan Tante."
"Tante juga merindukanmu, Nak."
Akhirnya sore itu menjadi momen hari bagi mereka semua.
"Tante, kenalkan ini teman Gavin dan Gabby namanya Hirotta."
"Hallo, Tante."
"Hallo, ayo masuk Om Rifki pasti sangat bahagia melihat kalian ada di sini," ajak Mami Queen.
Mami Queen pun membawa ketiganya masuk ke dalam rumah, dan seperti ucapan Mami Queen kalau Papi Rifki begitu sangat bahagia bahkan saking bahagianya, Papi Rifki pun sampai meneteskan airmatanya.
Gavin pun menceritakan bagaimana dia pergi dan ke mana dia pergi, membuat Papi Rifki dan Mami Queen terkejut bahkan mereka merasa tidak percaya.
"Apa di zaman modern seperti ini masih ada hal seperti itu? Om pikir, Ninja itu hanya ada di film-film."
"Awalnya Gavin juga berpikiran seperti itu Om, tapi setelah Gavin menjalaninya ternyata dunia Ninja memang ada," sahut Gavin.
"Alea mana Tante, kok gak kelihatan?" seru Gabby.
Mami Queen dan Papi Rifki saling pandang satu sama lain, hingga mereka berdua pun terdiam dengan memperlihatkan wajah sedihnya.
"Kenapa? Alea baik-baik saja, kan?" tanya Gavin panik.
"Semenjak kejadian itu Alea mengalami depresi hebat, bahkan Alea sering teriak, menangis, dan tertawa secara tiba-tiba. Alea mengalami Androphopia," seru Mami Queen.
"Andro Phobia, apa itu?" tanya Gavin.
"Ketakutan yang sangat luar biasa kepada pria, bahkan kepada Papinya sendiri Alea merasa takut."
Gavin dan Gabby sangat terkejut, apalagi Gavin yang sangat emosi mendengar penjelasan Mami Queen mengenai kondisi Alea.
"Terus, sekarang Alea di mana?" tanya Gavin.
"Alea kami asingkan di kampung janda, kampung itu isinya wanita semua dan sangat aman untuk kondisi psikis Alea. Kami berharap, Alea akan cepat sembuh karena menurut suster yang menemaninya sekarang Alea sudah sangat baik dan kondisinya pun bagus," seru Mami Queen.
"Di mana letak kampung itu? Gavin ingin bertemu dengan Alea, Tante."
"Vin, Alea belum bisa bertemu dengan pria kecuali kalau kamu mau menyamar menjadi seorang wanita," seru Mami Queen.
Gavin terdiam, dia tidak menyangka kalau Alea akan mengalami hal seberat itu. Gavin semakin merasa bersalah dan bertekad untuk melindungi Alea sampai titik darah penghabisan.
"Tidak apa-apa Tante, demi Alea akan Gavin lakukan karena ini semua juga akibat kesalahan dari Gavin."
"Baiklah, Tante hubungi Neli dulu biar dia nanti tahu penyamaran kamu."
Mami Queen pun segera menghubungi Neli dan memberitahukan bahwa nanti Gavin akan ke sana dan menyamar menjadi wanita.
"Semoga saja Alea bisa sembuh dengan kehadiran kamu, Vin," seru Papi Rifki.
"Amin, Om."
Gavin sudah tidak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan Alea, karena Gavin sudah sangat merindukan wanita yang sangat dia cintai itu.