A NINJA'S REVENGE

A NINJA'S REVENGE
Episode 17 Kematian Neli



Kekuatan Azura semakin lemah, setelah kemarin seharian dia menyamar jadi anak kecil ternyata membuat kekuatannya melemah karena Azura tidak meminum darah.


Darah gadis adalah minuman sekaligus kekuatan Azura, maka dari itu jika Azura tidak meminum darah sehari saja, dia akan lemah.


"Sial, di sini semuanya janda tidak ada gadis sama sekali," batin Azura.


Tidak lama kemudian, Neli keluar dari rumah Alea dan Azura kembali menyamar menjadi anak kecil yang duduk di bawah pohon itu.


Azura mulai memperhatikan Neli, dan seketika senyumannya tersungging kala mengetahui kalau Neli masih gadis.


"Bagus, ternyata masih ada gadis. Siap-siap, nanti malam kamu akan menjadi targetku," batin Azura dengan seringainya.


***


Malam pun tiba...


Tidak seperti biasanya, suasana malam di kampung janda itu sedikit mencekam. Terdengar suara lolongan an**ng yang sangat menakutkan.


"Kak, aku takut," seru Yuli."


"Iya Kak, aku juga takut," sambung Lusi.


"Ya sudah, malam ini kalian tidur sama kakak saja," sahut Alea.


Gavin dan Hirotta masih terduduk di ruang tamu.


"Kak Haruka dan Kak Gina, bisa tidur di kamar sebelah," seru Alea.


"Iya Alea, kita belum ngantuk jadi kalian saja yang tidur duluan," sahut Hirotta.


"Baiklah, kalau begitu aku dan anak-anak tidur duluan. Selamat malam."


Alea pun masuk ke dalam kamarnya bersama Yuli dan juga Lusi.


"Astaga, ternyata bicara seperti wanita sangat pegal," bisik Hirotta.


"Aku masih beruntung pura-pura bisu, soalnya aku gak bisa kalau harus bicara seperti itu," sahut Gavin dengan berbisik pula.


Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang membuat Gavin dan Hirotta secara bersamaan menoleh ke luar, Gavin dengan cepat mengintip dari balik gorden.


"Hiro, dia itu iblis bukan anak kecil," bisik Gavin.


"Iya Vin, aku juga tahu. Kita harus awasi dia karena menurut feeling aku, malam ini dia akan beraksi jangan sampai kita kecolongan karena dia sedang mengawasi Alea," bisik Hirotta.


Sementara itu di rumah Neli, dia tampak gelisah bahkan malam ini tidak seperti biasanya dia sulit sekali untuk tidur.


"Astaga, kenapa aku gak bisa tidur sih? padahal tadi siang aku banyak sekali kegiatan," gumam Neli.


Gavin dan Hirotta duduk di depan kamar Alea, Gavin pun membuka sedikit pintu kamar Alea supaya tahu kalau Alea baik-baik saja, mereka salah yang dalam bahaya itu bukan Alea tapi Neli.


Malam pun semakin larut, Gavin dan Hirotta mulai merasakan ngantuk. Hingga beberapa saat kemudian, saking ngantuknya mereka pun akhirnya tertidur dengan posisi terduduk.


Azura mulai merubah wujud aslinya, perlahan dia menghampiri rumah Neli. Neli semakin merinding karena sampai larut malam pun, Neli masih belum bisa tertidur.


Azura sudah berada dalam kamar Neli, dan Neli belum menyadarinya. Neli pun membalikan tubuhnya dan betapa terkejutnya Neli saat melihat pria memakai baju serba hitam sedang berdiri di hadapannya dengan mata yang menyala.


"Si-siapa kamu?" seru Neli ketakutan.


Neli beringsut dari tempat tidurnya, semilir angin menyapu wajahnya dan membuat tubuh Neli seketika kaku tidak bisa digerakkan hanya bola mata saja yang bisa Neli gerakan.


Perlahan tapi pasti, Azura mendekati Neli dan tanpa menunggu lama Azura pun langsung menggigit leher Neli. Tubuh Neli mulai kejang-kejang, hingga beberapa saat kemudian Neli pun mulai terjatuh dan tewas seketika.


"Akhirnya aku sudah mulai ada tenaga lagi," batin Azura.


Dengan cepat Azura menghilang dari kamar Neli, Gavin tersentak dan dia segera melihat Alea ternyata Alea masih tertidur dengan lelapnya.


Perlahan Gavin bangkit dari duduknya dan melihat ke luar, Gavin dengan jelas melihat Azura yang sedang merubah dirinya menjadi anak kecil lagi.


Betapa terkejutnya Gavin setelah melihat siapa wujud asli dari anak kecil itu, bayangan dulu mulai terlintas di otak Gavin.


"Brengsek, jadi anak kecil itu adalah jelmaan dari orang yang dulu pernah memperkosa Alea, aku harus bunuh dia sekarang juga," geram Gavin.


Gavin hendak keluar, tapi tiba-tiba Hirotta menahannya.


"Jangan gegabah Vin, masalahnya dia bukan manusia kita harus cari cara untuk memusnahkan dia," bisik Hirotta.


"Tapi aku sudah tidak sabar ingin membunuh dia, Hiro."


"Iya, aku tahu tapi sekarang belum saatnya karena kita belum tahu kelemahan dia. Lebih baik sekarang kita tidur dulu, aku yakin dia tidak akan berani mendekati Alea karena aku lihat Alea menggunakan kalung."


"Hah, kalung? kalung apa?"


"Sepertinya itu kalung pemberian Sensei, maka dari itu dia terus saja diam di sana supaya dia bisa membujuk Alea untuk melepaskan kalung itu," seru Hirotta.


"Awas saja, aku akan memusnahkan mu dan juga semua pengikutnya," seru Gavin.


Malam itu Gavin tidak bisa tidur, dia bahkan bergadang sampai pagi. Berbeda dengan Hirotta yang tertidur dengan lelapnya tanpa memikirkan apa pun.


***


Menjelang subuh, Gavin justru mengantuk tapi tiba-tiba terdengar suara teriakan minta tolong membuat semuanya kaget dan menghambur keluar.


Ibu Neli berteriak-teriak sembari menangis mengatakan kalau anaknya sudah meninggal. Alea kaget, dia segera masuk ke rumah Neli dengan diikuti oleh Gavin dan juga Hirotta.


"Astagfirullah, kenapa Neli bisa meninggal seperti itu," seru Alea.


Alea sangat ketakutan, dia pun tanpa sadar bersembunyi di balik tubuh Gavin.


"Iblis itu mulai beraksi, kurang ajar aku tidak boleh membiarkan dia berkeliaran di sini. Selain membahayakan Alea, dia juga pasti akan membahayakan masyarakat di sini," batin Gavin.


Alea menangis di punggung Gavin membuat Gavin membalikan tubuhnya dan memeluk Alea, Gavin yang memang dari awal ingin memeluk Alea akhirnya bisa memeluknya juga.


"Neli adalah sahabat aku Kak, aku gak rela kalau Neli meninggal dengan cara seperti ini," seru Alea dengan tangisannya.


Gavin mengusap punggung Alea, mencoba menenangkan Alea. Semenjak tidak ada sosok pria di kampung janda itu, akhirnya setiap ada yang meninggal mereka hanya simpan begitu saja jasad manusia itu di sebuah tanah yang luas di dalam hutan. Tidak lupa mereka menyimpan beberapa benda dan tanaman yang mereka percaya bisa menghalau binatang buas untuk memakan jasad manusia itu.


Di saat semua orang sedang mengantarkan jasad Neli ke tempat peristirahatannya yang terakhir, Gavin dan Hirotta memutuskan untuk tidak ikut. Mereka perlahan mendekati Azura yang sedang menyamar menjadi anak kecil itu.


Gavin dan Hirotta berjongkok di hadapan Azura, dan menatap Azura dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Kakak-kakak jangan terlalu dekat dengan aku, karena aku mempunyai penyakit kulit yang menular," seru Azura.


"Pergi dari sini, atau aku musnahkan kamu," ancam Gavin.


Seketika mata Azura melotot menatap Gavin, dia memang sudah curiga kalau dua orang yang menyamar jadi wanita itu mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.