
Gavin, Gabby, dan Hirotta akhirnya sampai di Indonesia, Gavin mengajak semuanya untuk mencari tempat tinggal karena mereka tidak mungkin tinggal di rumah mereka yang dulu pasti The Blood akan mengetahuinya.
Mereka pun akhirnya memutuskan tinggal di sebuah apartemen milik Mommynya. Dulu Mommy Gea tinggal di sana bersama saudara kembarnya Gio dan Glenn.
"Astaga, kotor sekali apartemen ini," seru Hirotta.
"Apartemen ini memang sudah lama tidak ditinggali, jadi kotor seperti ini," sahut Gavin.
"Kenapa kalian tidak jual saja kalau tidak terpakai?"
"Mommy melarang untuk menjualnya," sahut Gabby.
"Ya sudahlah, jangan banyak pertanyaan mending sekarang kita bersihkan saja apartemen ini," seru Gavin.
Akhirnya mereka bertiga pun bekerja bakti membersihkan apartemen itu, sungguh Hirotta sangat kesal bayangan dia sampai di Indonesia bisa berleha-leha ternyata hancur sudah yang ada mereka justru harus menguras tenaga lagi untuk membersihkan apartemen yang kotornya naudzubillah itu.
2 jam sudah mereka membersihkan apartemen itu, tapi masih saja kotor sedangkan tenaga mereka sudah sangat terkuras.
"Vin, bisa tidak kamu menyuruh jasa orang yang biasa bersih-bersih, palingan berapa sih?" seru Hirotta.
"Astaga, aku lupa. Kenapa kamu gak kasih tahu aku dari tadi, aku kan bisa menyuruh petugas kebersihan," sahut Gavin dengan menepuk jidatnya sendiri.
Hirotta dan Gabby tampak mengeraskan rahangnya saking kesalnya kepada Gavin.
"Bang, Abang belum ngerasain minum air perasan pel ini ya? mau cobain?" kesal Gabby dengan wajah jengkelnya.
"Apaan sih Gab, cukup darah kelelawar dan empedu monyet yang aku minum, kalau minum perasan pel itu yang ada aku masuk rumah sakit," sahut Gavin.
"Sudah jadi Ninja, masih saja lemot. Lama-lama aku celupin juga kepala kamu ke dalam ember ini," kesal Hirotta.
"Yaelah sensitif banget kalian, sebentar aku hubungi petugas kebersihan dulu."
Gavin pun langsung menghubungi petugas kebersihan, dan tidak lama kemudian beberapa orang datang dan dengan cekatan segera memulai pekerjaan mereka.
"Kita ke mini market bawah saja," seru Gavin.
Sore itu mereka bertiga duduk santai di depan kursi yang berada di depan mini market sembari meneguk minuman kaleng dingin sebagai pelepas dahaga.
"Bang, kira-kira bagaimana keadaan Alea sekarang? apa dia baik-baik saja?" seru Gabby.
"Entahlah, Abang juga tidak tahu. Rencananya nanti malam Abang akan ke rumahnya dan mencari tahu bagaimana keadaan dia," sahut Gavin.
"Menurut penglihatan ku, para iblis sedang mengincar wanita itu," seru Hirotta dengan santainya sembari meneguk minuman dinginnya.
"Maksud kamu mengincar Alea? kenapa?" tanya Gavin khawatir.
"Pacar kamu itu mempunyai darah suci yang sangat diinginkan oleh para iblis, dan mereka juga menginginkan bangsa mereka bisa menghamili pacar kamu karena jika salah satu dari mereka bisa membuat pacar kamu hamil, anak yang nanti dilahirkan pacar kamu akan menjadi penyelamat bangsa iblis dan dunia ini akan mereka kuasai," sahut Hirotta.
"Apa?"
Gabby sampai menyemburkan minuman yang ada di mulutnya ke wajah Hirotta saking kagetnya.
"Astaga, maaf-maaf aku tidak sengaja, aku kaget," seru Gabby dengan membersihkan wajah Hirotta dengan tisu.
"Kaget sih kaget, tapi wajahku gak perlu di sembur juga kali," kesal Hirotta.
"Maaf, aku kan sudah minta maaf," sahut Gabby.
Gavin terdiam, jantung dia tiba-tiba berdetak tak karuan mendengar ucapan Hirotta.
"Bagaimana keadaan Alea? mudah-mudahan Alea tidak hamil anak iblis itu," batin Gavin.
Gavin mengepalkan tangannya, sungguh emosi Gavin kembali muncul kala mengingat kejadian dulu.
***
Malam pun tiba....
Alea baru saja selesai masak, Alea memanggil Yuli dan Lusi untuk makan malam bersama.
"Baik, Kak."
Yuli memimpin do'a, setelah selesai mereka bertiga pun langsung melahap makanan hasil masakan Alea.
"Hmm, masakan Kak Alea memang paling the best," seru Yuli dengan mengacungkan jempolnya.
"Terima kasih, makan yang banyak."
Akhirnya mereka bertiga pun makan dengan lahapnya, semenjak ada Yuli dan Lusi, suster Neli tidak tinggal bersama Alea lagi. Lagipula, rumah Alea dan Neli hanya terhalang satu rumah saja jadi Neli masih bisa memantau keadaan Alea.
"Kak Alea, anak yang tadi siang masih ada di luar," seru Lusi.
"Hah, iyakah?"
Alea bangkit dari duduknya, lalu mengintip keluar dari balik jendela. Benar saja, anak perempuan itu masih duduk di bawah pohon nangka dengan duduk bersila.
"Astagfirullah, kasihan sekali dia tapi aku juga tidak bisa menolong dan membawanya masuk ke rumah ini soalnya dia punya penyakit kulit yang menular," batin Alea.
Hati Alea merasa kasihan kepada anak itu tapi Alea juga takut kalau tertular penyakit kulit.
Hingga akhirnya, Alea pun memutuskan untuk segera menyelesaikan makan malamnya dan mengajak Yuli dan Lusi untuk tidur. Entah kenapa Alea merasa takut kepada anak itu, rasanya tatapan anak itu sangat menyeramkan.
Berbeda dengan Alea, Gavin malam ini berpamitan kepada Gabby dan Hirotta untuk pergi ke rumah Alea.
"Yakin kamu mau pergi sendirian?" tanya Hirotta.
"Yakinlah."
"Hati-hati Bang, pokoknya kalau sudah bertemu dengan Alea, cepat pulang karena saat ini nyawa kita sedang dalam bahaya," seru Gabby.
"Siap, kamu tenang saja. Kalau begitu aku pergi dulu ya."
Gavin pun berlari secepat kilat meninggalkan apartemennya, dan dalam hitungan menit Gavin pun sudah sampai di depan rumah Alea.
Gavin memperhatikan rumah yang dulu sering dia datangi.
"Kok rumahnya sepi, ya?" batin Gavin.
Tidak lama kemudian, seorang satpam menghampiri Gavin karena dia merasa curiga kepada Gavin yang dari tadi berdiri di depan rumah majikannya.
"Maaf, anda siapa? dan anda mau apa berdiri di depan rumah ini?" tanya si satpam.
"Pak, apa Bapak satpam baru di sini?"
"Tidak, saya sudah lumayan lama bekerja di sini, memangnya kenapa?"
"Soalnya seingat aku, satpam rumah ini bukan Bapak," sahut Gavin.
"Oh, pemilik rumah ini sudah lama pindah dan sekarang ini pemilik baru namanya Pak Harmoko."
"Apa? kalau boleh tahu pindah ke mana, Pak?" tanya Gavin.
"Saya tidak tahu Mas."
"Ya sudah, terima kasih Pak."
Gavin lemas sekali, sungguh dia sangat merindukan Alea dan berharap saat ini bisa bertemu dengannya tapi ternyata harapannya pupus sudah.
"Alea pindah ke mana?" batin Gavin.
Gavin melangkahkan kakinya dengan gontai, sungguh saat ini dia tidak tahu harus mencari Alea ke mana. Hingga di pertengahan jalan dia mengingat sesuatu.
"Apa Alea pindah ke rumah Neneknya ya, yang di kampung? ah iya, aku yakin mereka pindah ke sana," gumam Gavin.
Gavin pun memutuskan untuk pulang dan akan pergi ke kampung keesokan harinya.