A NINJA'S REVENGE

A NINJA'S REVENGE
Episode 31 Reunian Part II



Langit datang ke restoran itu bersamaan dengan Putra yang baru selesai dari toilet. Tiga pria tampan itu saling berpelukan satu sama lain, melepas rindu karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu.


Bahkan Langit pun berpelukan dengan Gabby, memang mereka sudah sangat dekat jadi mereka sudah tidak sungkan-sungkan lagi.


Tapi di saat Langit ingin memeluk Alea, Gavin langsung memperlihatkan kepalan tangannya kepada Langit.


"Yaelah, masih saja kamu posesif Vin," seru Langit.


"Dilarang menyentuh milikku," sahut Gavin.


"Al, aku turut sedih atas apa yang sudah menimpa kamu dan Om Rifki," seru Langit.


"Iya Kak, terima kasih."


Mereka bercanda bersama dan tertawa bersama, hingga tawa mereka terhenti kala melihat Vira datang dengan menggandeng seorang pria yang mereka kenal.


"Busyet, si Vira sama Kak Garra sekarang?" seru Vina.


"Halo guys, apakabar!" sapa Vira.


"Sejak kapan kalian berhubungan?" tanya Alexa.


"Sudah lama kali, kalian aja yang tidak tahu," sahut Vira.


"Tidak tahulah, soalnya kamu keluar dari grup WA," seru Gabby.


"Bukanya keluar, ponsel aku hilang waktu itu jadi aku kehilangan kontak kalian semua."


Garra bertos ala pria kepada Gavin dan yang lainnya.


"Apakabar, bro!"


"Baik."


"Ke mana kembaran kamu yang lainnya?" tanya Gavin.


"Masih di jalan, katanya Ghani sama Gaza juga mau ke sini," sahut Garra.


Deg...


Jantung Gabby kembali berdetak tak karuan saat mendengar kalau Ghani akan datang juga ke sana.


"Gak nyangka kamu bisa pacaran sama Kak Garra, setahu kita dulu waktu SMA kalian gak pernah akur," seru Alea.


"Itulah yang namanya cinta Al, kita tidak tahu kepada siapa akan berlabuh," sahut Vira.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Aleena dan Disa datang bersamaan...


"Huawaaa...si anak Abi sudah datang!" teriak Alexa.


Suasana di restoran itu semakin ramai, apalagi geng para wanita cantik terlihat sangat heboh dan berisik.


"Tunggu, perasaan gak lihat Kak Arsya, ke mana dia?" seru Vina.


Disa dan Aleena saling pandang satu sama lain sembari tersenyum seperti ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Semua orang menganga melihat kedatangan Arsya, bahkan Gavin yang ingin memasukan makanan ke mulutnya sampai terjatuh saking terkejutnya melihat penampilan Arsya.


"Ini beneran Kak Arsya, kan?" seru Vira.


"Kamu sehat kan, Sya? apa kamu pernah mengalami kecelakaan? kali aja otakmu jadi geser," seru Gavin bingung.


Arsya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, bagaimana teman-temannya tidak bingung saat ini Arsya memakai baju koko dan sarung, tidak lupa dia juga memakai kopiah.


Gabby beranjak dari duduknya dan langsung memegang kening Arsya membuat Arsya terkejut dan memundurkan langkahnya.


"Astagfirullah Gab, jangan pegang-pegang kita bukan mahram," seru Arsya.


Lagi-lagi mereka tercengang dengan ucapan Arsya.


"Kamu kenapa sih, Sya? jangan bilang kamu jadi anggota aliran sesat," seru Langit.


"Saat ini Kak Arsya sedang mendalami ilmu agama, karena dia mendapat tantangan dari Abinya Aleena. Kak Arsya ingin menikahi Aleena, tapi Abinya Aleena memberikan tantangan supaya Kak Arsya merubah sikap," seru Disa.


Akhirnya semuanya ngangguk-ngangguk pertanda mengerti dengan apa yang terjadi kepada Arsya.


"Ciee..mau dinikahi Kak Arsya," goda Alea.


"Apaan sih Al," sahut Aleena dengan malu-malu.


"Kak Arsya gak pegal apa nunduk terus?" celetuk Vina.


"Kata Abi Aleena, aku harus menjaga pandangan jangan sembarangan melihat kepada yang bukan mahram kita," sahut Arsya.


Putra sampai tersedak mendengar perkataan Arsya, sungguh cinta bisa mengubah Arsya yang dulu konyol, urakan, menjadi sosok yang alim dan agamis seperti itu.


Ternyata selama bertahun-tahun tidak bertemu, sudah menjadikan mereka yang awalnya anak-anak nakal menjadi pria-pria dan wanita-wanita yang dewasa.


"Maaf kita telat."


Semua orang langsung menoleh, Ghani datang bersama Gaza. Tapi ada yang membuat Gabby kecewa, ternyata Ghani saat ini datang bersama seorang wanita.


"Wuidih, si kembar baru datang," seru Langit.


"Astaga, tumben rambut mu licin amat," ledek Gavin kepada Ghani.


"Kak, ternyata Kak Ghani itu dosen aku sama Gabby di kampus," seru Alea.


"Apa? hebat kamu, perasaan di sekolah dulu kamu siswa paling telat dalam menangkap pelajaran tapi kok bisa, sekarang malah jadi dosen? Pasti kamu sogok pemilik kampus ya, supaya kamu bisa di terima di sana?" ledek Gavin.


"Enak saja, kalau aku di terima di kampus jadi dosen itu artinya IQ aku itu di atas rata-rata hanya saja waktu SMA dulu aku tidak menunjukannya kepada semua orang kalau aku itu pintar," ketus Ghani.


"Masa? Perasaan yang kutu buku itu si Gaza, tapi kok yang jadi dosen malah kamu," ledek Putra.


"Masya Allah, Gavin, Putra, kalian jangan bicara seperti itu, takdir manusia itu tidak ada yang tahu jadi jangan meledek Ghani," seru Arsya.


"Busyet, calon mantu si Abi bicaranya bijak sekali," seru Langit.


Ghani melirik ke arah Gabby, tapi Gabby malah membuang pandangannya.


"Oh iya, kenalkan ini Rara calon istriku," seru Ghani.


"Halo, aku Rara."


Semuanya menyambut Rara dengan ramah, kecuali Gabby. Dia menundukkan kepalanya bahkan saat ini Gabby berusaha menahan airmatanya supaya tidak menetes.


Hirotta tahu apa yang sedang dirasakan oleh Gabby, Hirotta pun tiba-tiba bangkit dari duduknya.


"Semuanya maaf, Gabby bilang perutnya sakit jadi aku mau antar Gabby ke toilet dulu," seru Hirotta.


"Hai, jangan pegang-pegang tangan Gabby kalian bukan mahram, lagipula Gabby kan bisa ke toilet sendiri ngapain kamu antar," seru Arsya.


Hirotta langsung melepaskan tangan Gabby. "Maaf, di sini aku adalah sebagai bodyguardnya Gabby jadi aku harus mengikuti ke mana pun Gabby pergi takutnya ada yang mau mencelakai Gabby. Ayo Gab!"


Gabby dan Hirotta pun pergi, Ghani hanya bisa terdiam melihat kepergian Gabby.