
Pagi ini semua warga mulai bekerja bakti membersihkan rumah yang dibeli oleh Mami Queen. Alea dan Neli hanya melihat dari depan rumah Neli, kebetulan di depan rumah Neli ada bale-bale.
"Alea, apa kamu mau jalan-jalan," seru Neli.
Alea menoleh ke arah Neli dan menganggukkan kepalanya, Neli sangat bahagia akhirnya Alea mau ikut jalan-jalan.
"Kamu jangan khawatir, tidak akan ada pria di sini."
Neli menceritakan banyak hal kepada Alea, dan menunjukkan beberapa tempat yang ada di kampungnya itu.
Neli mengajak Alea ke sebuah sungai yang airnya tampak sangat jernih, mereka berdua duduk di sebuah batu pinggir sungai itu.
"Alea, kamu harus sembuh dan lanjutkan lagi kehidupanmu, aku yakin kamu bisa melewati semua ini," seru Neli.
Tatapan Alea lurus ke depan. "Apa kamu pernah punya orang yang sangat kamu cintai?" tanya Alea dengan tatapan yang masih lurus ke depan.
Neli tersentak kaget, dia tahu maksud Alea adalah pertanyaan mengenai seorang pria.
"Maksud kamu, seorang kekasih?" tanya Neli.
Alea menganggukkan kepalanya, jantung Alea berdetak tak karuan, napasnya mulai sesak kala membayangkan seorang pria.
"Dulu sebelum aku menjadi seorang perawat, aku mempunyai kekasih namanya Wendi dan dia warga kampung ini juga. Kampung ini terisolir dari dunia luar sehingga banyak wanita yang jatuh cinta kepada tetangga sendiri. Tapi di saat kejadian kecelakaan maut itu, semua pria di sini meninggal dunia termasuk Wendi. Dari sana aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke kota demi melupakan Wendi," sahut Neli.
Wajah Alea sudah dipenuhi dengan keringat, bahkan tubuhnya sedikit bergetar.
"Kamu tidak apa-apa, Alea? jangan bicarakan lagi mengenai pria takutnya kamu kenapa-napa," seru Neli khawatir.
"Aku ingin sembuh Nel, tapi otak aku tidak menginginkan itu," sahut Alea dengan memegang tangan Neli.
"Apa kamu punya seseorang yang kamu cintai?" tanya Neli.
Tubuh Alea semakin bergetar hebat, keringat semakin bercucuran. Neli berusaha menenangkan Alea dengan memeluknya dengan sangat erat.
"Aku sangat merindukannya Nel, dia cinta pertamaku tapi kenapa dia menghilang tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Bahkan dia meninggalkanku begitu saja," sahut Alea dengan bibir yang bergetar dan deraian airmatanya.
Neli mengusap punggung Alea, Neli berusaha menenangkan Alea. Butuh beberapa saat untuk bisa menenangkan Alea, setelah Alea tenang Neli pun melepaskan pelukannya dan menghapus airmata Alea.
"Aku yakin, dia punya alasan meninggalkan kamu. Jangan berpikiran yang macam-macam dulu," seru Neli.
Alea terdiam, entah kenapa Alea merasa kalau Gavin akan kembali tapi tidak tahu kapan.
***
Sementara itu, Azura dan anak buahnya sedang dalam perjalanan menuju kampung yang saat ini ditinggali Mami Queen dan juga Papi Rifki. Azura ingin membawa Alea dan memaksanya untuk menjadi istrinya seperti yang diperintahkan oleh Sang Ratu kepadanya.
Sensei Geomon yang sedang duduk bersila sembari memejamkan matanya, tiba-tiba membuka matanya.
"Orangtua Alea dalam bahaya, si anak iblis itu sedang menuju rumah mereka," batin Sensei Geomon.
Sensei Geomon kembali berkonsentrasi, dia kembali melepaskan rohnya dari dalam raganya dan segera pergi ke rumah Mami Queen dan Papi Rifki.
Terlihat Mami Queen dan Papi Rifki sedang berada di ruang tamu bersantai. Sensei Geomon kembali duduk bersila dan memejamkan matanya, dia akan membuat pelindung bagi rumah itu maupun bagi orangtua Alea supaya para iblis tidak bisa mendekati mereka.
Setelah sekian lama, Sensei Geomon pun membuka matanya dan dengan cepat pergi lalu kembali lagi ke dalam raganya.
Hampir menjelang malam, Azura dan anak buahnya sampai di kampung halaman Mami Queen dan juga Papi Rifki.
"Bos, ini adalah rumahnya."
Azura memperhatikan rumah itu, tapi Azura merasa ada yang aneh dengan rumahnya.
"Kok, rumahnya seperti ada pelindungnya," batin Azura.
"Bos!"
"Sial, siapa yang sudah memasang pelindung di rumah itu? sepertinya sudah ada yang tahu dengan kedatanganku," gumam Azura.
Azura segera menghubungi Papanya dan menceritakan semuanya, Papa Xavier tampak terkejut, dia segera menuju ruangan rahasianya dan bersemedi di sana untuk memanggil Sang Ratu.
Tidak lama kemudian, kepulan asap hitam muncul dan Sang Ratu pun muncul di hadapan Papa Xavier.
"Ada apa kamu memanggilku?"
"Ratu, gawat rumah orangtua si gadis suci tidak bisa dimasuki oleh Azura seperti ada yang melindunginya," seru Papa Xavier.
Sang Ratu kemudian memejamkan matanya untuk memastikan semuanya.
"Ada orang yang sudah membuat perlindungan untuk rumah itu."
"Siapa Ratu? kenapa orang itu bisa sampai tahu akan kedatangan Azura?"
"Sayangnya aku belum bisa melihat siapa orang itu, tapi yang jelas orang itu ilmunya sangat tinggi dan kita harus selalu berhati-hati," sahut Ratu Mustika Arum.
"Apa orang ini yang akan menghalangi kita untuk menguasai dunia ini?" tanya Papa Xavier.
"Iya, benar sekali dan kita harus cepat-cepat mendapatkan bayi dari gadis suci itu supaya mereka tidak bisa menghalangi kita."
"Bagaimana caranya, Ratu? bahkan Azura tidak bisa menyentuh rumah itu."
"Pancing saja ke luar, kalau di luar rumah mereka tidak ada kekuatan sama sekali," sahut Sang Ratu.
Papa Xavier mulai mengembangkan senyumannya, dia pun segera menghubungi Azura untuk memancing kedua orangtua Alea keluar.
Azura merubah wujudnya menjadi seorang wanita, dia memanggil nama Mami Queen dan Papi Rifki.
"Bu Wiwin, ada apa Bu?" tanya Mami Queen.
"Bu dokter, tolong anak saya demam."
"Owalah, mari Bu biar saya periksa," seru Mami Queen.
Mami Queen pun mengikuti langkah Bu Wiwin, namun perasaan Mami Queen merasa tidak enak entah kenapa. Di saat sudah berada di jalanan yang sepi, Azura mengubah kembali wujudnya membuat Mami Queen sangat terkejut sampai terjatuh saking terkejutnya.
"Astagfirullah, kamu siapa?" tanya Mami Queen dengan terus menyeret tubuhnya untuk menjauh dari Azura.
"Di mana anak kamu?"
"Alea? kenapa kamu menanyakan Alea? siapa kamu?"
Mami Queen semakin panik, Azura menatap Mami Queen dengan tatapan tajam yang sangat menyeramkan bahkan matanya pun sudah memerah.
Perlahan Azura mendekati Mami Queen, bibir Mami Queen seakan terkunci mau berteriak pun seakan sulit sekali. Tapi, di saat Azura mendekati Mami Queen dan hendak menyentuh Mami Queen, Azura terpental ke belakang membuat Mami Queen semakin tidak mengerti.
"Brengsek, siapa yang sudah melindungi wanita itu?" gumam Azura dengan geramnya.
Azura kembali mendekati Mami Queen kali ini dia ingin menyerang Mami Queen, tapi lagi-lagi Azura terpental sangat jauh.
Mami Queen segera bangkit dan dengan cepat berlari kembali ke rumahnya, Azura dan anak buahnya tidak bisa berbuat apa-apa karena Bosnya saja terpental, apalagi anak buahnya.
"Sial, siapa yang sudah melindungi dia?" geram Azura.
Kali ini Azura sangat marah karena sudah gagal mendekati orangtuanya Alea bahkan Azura pun tidak mengetahui di mana Alea sekarang.