
Sesampainya di toilet, Gabby bukannya masuk ke dalam toilet tapi justru membalikan tubuh Hirotta supaya membelakanginya. Gabby menenggelamkan wajahnya ke punggung Hirotta, tubuh Gabby mulai bergetar hebat.
"Jangan ditahan, nangislah kalau mau berteriak lah," seru Hirotta.
Gabby tidak mendengarkan ocehan Hirotta, dia terus saja menangis sampai sesenggukan.
"Kenapa dia berubah?" lirih Gabby.
"Apa pria tadi pacar kamu? Bisa-bisanya dia datang bawa wanita lain, sepertinya dia belum tahu rasanya pukulan aku," kesal Hirotta.
Gabby langsung memukul punggung Hirotta dengan sangat kerasnya.
"Wadaw, kenapa aku dipukul?" seru Hirotta.
Gabby dengan cepat menghapus airmatanya. "Awas kalau kamu berani macam-macam sama dia?"
"Lah, kok kamu malah membela dia? Bucin banget jadi cewek."
"Bukannya bucin, dia memang bukan pacar aku jadi kamu gak boleh sembarangan memukul orang," kesal Gabby.
"Ckckck...kalau dia bukan pacar kamu, ngapain kamu mewek? Kurang kerjaan aja," ledek Hirotta.
Gabby kembali mengangkat tangannya hendak memukul Hirotta membuat Hirotta reflek pasang kuda-kuda.
"Jangan kepo jadi orang," kesal Gabby.
Gabby pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Hirotta.
"Yaelah, wanita memang ribet," gumam Hirotta.
Gabby dan Hirotta pun kembali berkumpul dengan teman-temannya.
"Loh Gab, kok mata kamu bengkak? Apa Kak Hirotta melukaimu?" tanya Alea.
Gavin langsung berdiri dan mencengkram kaos Hirotta.
"Kamu apain, Gabby?"
"Astaga, aku gak ngapa-ngapain Gabby."
"Terus kenapa matanya bengkak kaya gitu?" kesal Gavin.
"Tadi ada binatang terbang masuk ke matanya," sahut Hirotta asal.
"Binatang apaan?" tanya Gavin bingung.
"Tanya aja sama dia."
Gavin pun melepaskan cengkeramannya dan beralih menatap Gabby.
"Kamu kenapa, Gab?"
"Yang dikatakan Hirotta benar, tadi ada binatang kecil masuk ke mataku, Bang."
Ghani hanya diam, dia dengan santainya makan makanan yang tersaji di sana membuat Gabby semakin kesal kepada pria yang dulu mengejar-ngejarnya itu.
"Ya sudah, lebih baik makan dulu," seru Putra.
Akhirnya semuanya pun mulai melahap makanan masing-masing, terlihat Rara menyuapi Ghani membuat Gabby kembali dilanda rasa cemburu.
Setelah selesai makan, mereka pun kembali berbincang-bincang.
"Iya, aku dan Gabby di bawa sama Hirotta," sahut Gavin.
"Busyet, apa kamu punya jurus seribu bayangan seperti di film-film kartun itu?" tanya Putra.
"Bisa."
"Wuidih, Bang Gavin hebat," seru Alexa antusias.
"Ih, aku kira ninja itu hanya ada di film saja ternyata di dunia nyata pun ada," seru Vira.
"Iya Vir, aku juga ngiranya seperti itu, keren banget Kak Gavin jadi pengen punya kekasih bisa ilmu Ninja, kamu banget Al," sambung Aleena.
Arsya yang mendengar ucapan Aleena merasa kesal.
"Vin, ajarin aku ilmu Ninja biar Aleena senang," seru Arsya.
"Mana ada ninja pakai sarung, yang ada kalau nanti kamu loncat dari pohon satu ke pohon yang lain sarung kamu nyangkut," ledek Gavin.
"Heem, nanti bukannya keren yang ada muka mu hancur nyungsep di tanah," sambung Hirotta.
Semua orang sampai tertawa mendengar jawaban Gavin dan Hirotta.
"Sudahlah, ngapain kamu belajar Ninja, lebih baik kamu belajar marawis saja," ledek Putra.
Arsya mendelikan matanya ke arah Putra dan Gavin, kedua sahabatnya itu bukannya mendukung malah meledeknya.
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, mereka memutuskan untuk pulang karena sudah sangat malam.
***
Keesokan harinya...
Seperti biasa, Alea dan Gabby berangkat ke kampus dengan diantar oleh Hirotta. Ada yang berbeda dengan Gabby, sekarang Gabby kembali lagi sebagai Gabby yang dulu, dingin dan tidak banyak bicara.
"Kamu kenapa, Gab?" tanya Alea.
"Tidak apa-apa."
"Kamu baik-baik saja, kan?"
"Iya."
Alea menoleh ke arah Hirotta dan Hirotta hanya mengangkat kedua pundaknya. Hirotta menghentikan mobilnya karena lampu merah, dan ternyata mobil yang dikemudikan Hirotta bersebelahan dengan mobil Ghani.
Ghani menoleh ke samping, diperhatikannya Gabby dengan seksama dan Ghani tidak bisa memungkiri kalau rasa cinta itu masih sangat besar untuk Gabby tapi sayangnya saat ini ada hati yang harus Ghani jaga.
Lampu pun berubah jadi hijau dan kedua mobil itu langsung menancap gas, tidak membutuhkan waktu lama akhirnya mereka sampai di kampus bersamaan.
Untuk sesaat Gabby dan Ghani saling pandang satu sama lain, hingga beberapa menit kemudian Gabby memutuskan untuk pergi tanpa menyapa Ghani.
"Gab, tunggu! Pak, maaf aku duluan," seru Alea.
Alea pun segera berlari menyusul Gabby, Ghani menatap Hirotta lalu Ghani pergi dari sana. Tapi baru saja beberapa langkah, Ghani menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya menghadap Hirotta membuat Hirotta mengerutkan keningnya.
"Tolong jaga Gabby, jangan sampai dia terluka," seru Ghani.
Ghani pun dengan cepat pergi meninggalkan Hirotta, Hirotta menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Mereka itu kenapa sih?" gumam Hirotta.