A NINJA'S REVENGE

A NINJA'S REVENGE
Episode 19 Alea Dan Gavin



Azura pulang ke rumah dengan luka di punggungnya.


"Astaga Azura, kamu kenapa?" tanya Papa Xavier panik.


Azura tidak bisa bicara, rasa sakit di punggungnya sangat terasa sekali. Xavier mencabut shuriken yang menancap di punggung Azura.


"Siapa yang sudah melakukan ini?" tanya Papa Xavier.


"Azura tidak tahu Pa, kedua orang itu sangat hebat," sahut Azura terbata-bata.


Papa Xavier membawa Azura ke kamarnya, lalu Papa Xavier memejamkan matanya untuk memanggil Ratu Mustika Arum. Dan tidak membutuhkan waktu lama, Ratu Mustika Arum pun datang.


"Ada apa kamu memanggilku?" tanya Ratu Mustika Arum.


"Azura terluka," sahut Papa Xavier.


Ratu Mustika Arum membelalakkan matanya, lalu dia menghampiri Azura yang saat ini sedang tidur dalam posisi tengkurap. Perlahan Ratu Mustika Arum mengusap punggung Azura dengan memejamkan matanya sembari bibirnya komat-kamit dan ajaibnya, luka di punggung Azura langsung menghilang tak berbekas.


"Bangunlah, lukamu sudah sembuh," seru Ratu Mustika Arum.


Azura pun bangkit dan duduk di atas tempat tidurnya.


"Siapa mereka? kenapa mereka mempunyai senjata ini? seperti Ninja?" tanya Papa Xavier.


"Azura tidak tahu Pa, mereka sangat hebat bahkan Azura tidak bisa mengetahui dan memprediksi apa yang akan mereka lakukan, dan Azura yakin kalau mereka bukan orang biasa-biasa," sahut Azura.


Ratu Mustika Arum mengambil Shuriken yang dipegang oleh Papa Xavier, lalu memperhatikannya dengan seksama.


"Mereka sudah muncul," seru Ratu Mustika Arum.


"Siapa?" tanya Azura dan Papa Xavier bersamaan.


"Titisan Black Phantom, mereka sudah muncul dan sepertinya pertarungan akan segera dimulai."


"Maksudnya bagaimana, Ratu?" tanya Azura.


"Dulu banyak yang bilang kalau Black Phantom adalah titisan Dewa penyelamat yang akan menyelamatkan dunia ini dari para iblis dan memang benar, dulu para iblis kalah dan mereka yang menang. Tapi puluhan tahun lalu, banyak manusia yang memuja para iblis sehingga dunia iblis pun kembali bangkit sampai sekarang. Kalian tidak boleh kalah, sekarang dunia iblis yang harus menang dan kalian juga harus memusnahkan kedua orang itu," seru Ratu Mustika Arum.


***


Saat ini Gavin dan Hirotta sedang duduk bersama di depan rumah Alea, sedangkan Alea, Yuli, dan Lusi tampak sedang menjemur pakaian mereka.


"Pantas saja kamu bucin sekali, ternyata Alea memang cantik aku juga sepertinya jatuh cinta sama Alea," celetuk Hirotta.


Gavin langsung menatap tajam ke arah Hirotta.


"Oh, berani kamu mau merebut wanitaku," seru Gavin dengan meremas tangannya sendiri.


"Astaga, aku cuma bercanda Vin jangan dimasukan ke dalam empedu," sahut Hirotta dengan cengirannya.


"Awas saja, berani kamu macam-macam sama Alea, aku lempar kamu ke kandang harimau," ancam Gavin.


"Harimau tidak akan suka sama daging aku Vin, daging aku pahit kebanyakan minum darah kelelawar dan empedu monyet," sahut Hirotta dengan entengnya.


Seketika perut Gavin terasa sangat mual mendengar Hirota menyebutkan minuman menjijikan itu.


"Jangan diungkit-ungkit blo'on, perutku mual kalau ingat minuman itu," seru Gavin dengan menoyor kepala Hirotta dengan gemasnya.


"Apa memang manfaatnya?" tanya Gavin.


"Para iblis itu suka minum darah perawan, tapi mereka tidak akan suka minum darah kita karena darah kita pahit," sahut Hirotta.


Gavin menaikan satu alisnya dan menatap Hirotta dengan gemasnya.


"Gak nyambung sekali ucapanmu bego, apa hubungannya darah kita yang jadi pahit sama para iblis itu? mereka kan cuma minum darah perawan, memangnya kita perawan?" seru Gavin kesal.


Hirotta tampak berpikir sejenak, hingga tidak lama kemudian dia pun nyengir dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Benar juga ya, apa hubungannya?" sahut Hirotta dengan cengirannya.


"Kak Haruka, Kak Gina, kami mau pergi ke kaki gunung itu sama warga di sini untuk mencari sayur-sayuran dan buah-buahan yang bisa di makan, apa kalian mau ikut?" teriak Alea.


"Tentu saja," sahut Hirotta.


Gavin dan Hirotta pun ikut bersama mereka untuk mencari bahan makanan yang bisa dimakan. Selama dalam perjalanan, Alea merangkul lengan Gavin membuat Gavin tersenyum.


"Apa Kak Gina sudah punya pacar?" tanya Alea.


Gavin menganggukkan kepalanya dengan cepat, membuat Alea tersenyum.


"Apa Kak Gina sangat mencintainya?"


Lagi-lagi Gavin menganggukkan kepalanya, Alea menghela napasnya dan terlihat sekali wajah sedih Alea sehingga Gavin merasa sangat bersalah kepada Alea.


Gavin mengeluarkan buku kecilnya dari dalam kantong dasternya lalu menuliskan sesuatu di sana.


📝"Apa kamu juga punya pacar?"


Alea tiba-tiba murung dan menghentikan perjalanannya, lalu duduk di bawah pohon sedangkan yang lainnya sudah berjalan duluan di depan.


"Aku sebenarnya bingung dan takut Kak, di satu sisi aku dan dia memang belum putus tapi di sisi lain, aku sangat takut dengan trauma yang aku rasakan saat ini. Dia memang sekarang pergi entah ke mana, tapi di saat nanti dia kembali, apa aku sanggup bertemu dengannya? rasa takut terhadap pria masih belum sepenuhnya sembuh, lagipula kejadian masa lalu pasti akan membuat dia tidak mau berhubungan denganku lagi buktinya dia menghilang tanpa kabar dan tanpa pamit terlebih dahulu berarti itu tandanya dia sudah jijik dan tidak mau bertemu lagi denganku," seru Alea.


Airmata Alea tiba-tiba menetes dan Gavin dengan cepat menghapusnya, untuk sesaat keduanya saling menatap satu sama lain.


Gavin kembali menuliskan sesuatu di buku kecil itu.


📝"Jangan berpikiran yang macam-macam, dia pasti akan kembali untukmu karena aku yakin kalau dia itu sangat mencintaimu dan orang yang tulus mencintaimu, akan menerima kamu apa adanya jadi kamu jangan menutup hatimu untuk dia, bisa jadi trauma kamu akan sembuh jika bertemu dengannya."


Alea menggelengkan kepalanya. "Trauma seorang wanita itu, bukanlah takut membuka hatinya kembali, tetapi dia takut akan ditinggalkan lagi," sahut Alea dengan senyumannya.


Alea menghapus airmatanya dan bangkit dari duduknya.


"Maaf ya Kak, Kakak jadi harus mendengarkan curahan hati aku. Ya sudah, ayo kita jalan lagi sepertinya kita sudah tertinggal jauh," seru Alea.


Alea mulai melangkahkan kakinya, sedangkan Gavin masih berdiri terdiam mematung melihat punggung Alea.


"Yang takut itu aku Al, aku takut di saat kita bertemu nanti kamu akan membenciku karena sudah meninggalkanmu sekian lama," batin Gavin.


Gavin pun segera menyusul Alea, dari kejauhan Ratu Mustika Arum memperhatikan Gavin.


"Oh, ternyata dia orangnya yang merupakan titisan Black Phantom, kamu tidak akan bisa melawanku karena pengikutku jauh lebih banyak dan kamu hanya dua orang, kalian tidak akan sanggup melawan kami dan para iblis akan segera menguasai dunia ini," gumam Ratu Mustika Arum dengan tawanya yang mengerikan itu.