A NINJA'S REVENGE

A NINJA'S REVENGE
Episode 35 Sebuah Permohonan



Gabby melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, airmata Gabby mengalir di balik helm full facenya.


Gabby sama sekali belum pernah berpacaran, tapi di saat dia menyukai seorang pria, dia harus merasakan sakit hati.


"Kenapa hatiku sesakit ini? Memangnya dia siapa? Pacarku saja bukan, kenapa aku mesti sakit hati seperti ini," batin Gabby.


Dulu memang Gabby sudah memiliki perasaan kepada Ghani, tapi Gabby harus membuang perasaan itu jauh-jauh karena Gabby terpaksa harus pergi bersama Abangnya.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Gabby pun sampai di rumah. Beruntung karena keadaan rumah sudah sepi, mungkin Gavin dan Hirotta sudah tidur.


Gabby menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia menangis sejadi-jadinya. Tidak jauh berbeda dengan Gabby, Ghani pun sampai di rumahnya. Ghani berjalan tertatih-tatih menahan rasa sakit fisik akibat terkena pukulan ditambah rasa sakit hati yang begitu sangat menyiksanya.


"Kamu dari mana saja jam segini baru pulang?" tanya Garra.


Ghani tidak menghiraukan Garra, dia terus saja melangkahkan kakinya sembari memegang perutnya membuat Garra merasa curiga dengan keadaan Ghani.


"Kamu kenapa, Ghan?" tanya Garra dengan menahan lengan Ghani.


Ghani menoleh ke arah Garra, dan betapa terkejutnya Garra saat melihat wajah Ghani yang babak belur bahkan Ghani terlihat menahan rasa sakit.


"Lepaskan!"


"Astaga, kamu kenapa? Siapa yang sudah melakukan semua ini kepadamu?" tanya Garra khawatir.


"Apa kamu tuli? Aku bilang, lepaskan!" teriak Ghani.


Garra sampai tercengang melihat Ghani, mata Ghani terlihat memerah pertanda Ghani saat ini sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


"Katakan Ghan, siapa yang sudah membuat kamu seperti ini?" tanya Garra kembali.


Ghani yang emosi pun langsung memukul Garra sampai-sampai Garra tersungkur ke lantai.


"Kenapa kamu begitu bawel, jangan pernah kamu ikut campur dengan urusanku!" teriak Ghani.


Teriakan Ghani membuat Gaza dan kedua orang tuanya bangun.


"Astaga Ghani, apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu memukul Garra?" sentak Papa Bian.


"Kalian jangan pernah memperdulikan aku lagi, selama ini kalian hidup dengan enak tanpa memikirkan perasaanku. Kalau kalian mau, percepat saja pernikahan aku dan Rara biar kalian semua puas!" teriak Ghani.


Ghani dengan cepat pergi meninggalkan semuanya. Garra dan Gaza sangat mengerti dengan perasaan Ghani tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena itu sudah menjadi perjanjian antara kedua orang tuanya dan juga almarhum Papanya Rara.


Ghani membanting pintu kamarnya membuat Mama Mika kaget bahkan sampai meneteskan airmatanya.


"Ya Allah Pa, apa selama ini kita sudah menjadi orang tua yang jahat untuk Ghani?" seru Mama Mika dengan deraian airmatanya.


Papa Bian memeluk istrinya itu, di satu sisi mereka memang tidak mau memaksakan kehendak anak-anak mereka, tapi di sisi lain mereka juga terpaksa melakukan perjanjian itu karena mereka tidak mau membuat salah satu anaknya kesakitan dan meninggal.


Ghani berteriak di dalam kamarnya dan melempar semua yang ada di hadapannya, Garra dan Gaza hanya bisa diam.


"Kenapa kalian tidak membiarkan aku mati saja, hidup pun percuma karena aku tidak akan bahagia!" teriak Ghani.


***


Keesokan harinya...


"Hiro, Gabby mana? Kok belum turun?" tanya Gavin.


"Mana aku tahu."


Gavin bangkit dari duduknya dan pergi ke kamar Gabby. Perlahan Gavin membuka pintu kamar Gabby dan terlihat Gabby masih bergelung dengan selimutnya.


"Gab, kok belum bangun? Memangnya kamu gak kuliah?" seru Gavin.


Tidak ada pergerakan sama sekali dari Gabby, Gavin pun mendekati Gabby dan membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh adiknya itu dan betapa terkejutnya Gavin saat melihat wajah Gabby yang terlihat pucat itu.


"Astaga, kamu kenapa Gab?"


Gavin menyentuh kening Gabby dan ternyata tubuh Gabby demam.


"Kamu demam, kita ke rumah sakit ya."


Gabby menahan lengan Gavin dan menggelengkan kepalanya.


"Tapi kamu demam, Gab."


"Please, Bang."


Gavin tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Gavin pun akhirnya memanggil Hirotta dan menyuruh Hirotta menjaga Gabby. Gavin tidak bisa jaga Gabby karena hari ini ada pekerjaan penting.


"Hiro, tolong kamu jaga Gabby ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku."


"Siap Vin, tapi bagaimana dengan Alea?"


"Biar aku aja yang antar ke kampus, mumpung aku masih punya waktu."


Gavin pun dengan cepat pergi menuju rumah Alea, Alea yang sedang menunggu kedatangan Hirotta sangat terkejut saat melihat Gavin yang datang bukan Hirotta.


"Pagi, sayang."


"Kak Gavin, Kak Hirotta mana?"


"Hiro lagi jagain Gabby, dia demam. Jadi, pagi ini aku saja yang antar kamu ke kampus."


"Ya Allah, perasaan kemarin Gabby baik-baik saja. Nanti pulang dari kampus, aku langsung ke rumah Kakak saja, ya."


"Iya."


Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di kampus.


"Kak, aku masuk dulu ya."


"Oke, hati-hati dan jangan nakal, kalau ada yang macam-macam sama kamu, langsung hubungi aku."


"Siap, Bos."


Gavin pun memeluk Alea terlebih dahulu dan mencium kening Alea. Sungguh Alea sangat bahagia bisa mempunyai kekasih yang sangat mencintai dan menyayanginya.


Alea pun keluar dari dalam mobil Gavin dan Gavin segera pergi dari kampus Alea.


Sementara itu, Gaza sudah sejak pagi sampai di depan rumah Rara. Gaza menunggu Rara keluar dari dalam rumahnya, Rara termasuk turunan keluarga yang serba berkecukupan dan sekarang Rara bekerja di sebuah perusahaan yang lumayan besar.


Setelah satu jam lebih menunggu, akhirnya Rara pun keluar dan Gaza dengan cepat keluar dari dalam mobilnya.


"Gaza."


"Ra, bisakah kita bicara sebentar."


"Tapi hari ini aku harus segera pergi ke kantor, aku takut telat," sahut Rara.


"Kamu tidak usah ke kantor, nanti biar aku yang bicara dan izin kepada atasan kamu."


Rara terdiam, Rara tidak bisa menolak karena dia juga penasaran dengan apa yang mau Gaza bicarakan kepadanya. Akhirnya Rara pun menganggukkan kepalanya dan ikut bersama Gaza.


Gaza membawa Rara ke sebuah coffee shop...


"Apa yang mau kamu bicarakan denganku?" tanya Rara.


"Lepaskan Ghani!"


"Apa?"


"Ghani tidak mencintaimu Ra, dia mencintai wanita lain. Meskipun kamu nanti menikah dengan Ghani, aku yakin Ghani tidak akan bisa membuatmu bahagia karena hatinya hanya untuk Gabby."


"Tapi aku hanya ingin menjalankan amanat yang diberikan oleh Papa saja."


"Papa kamu hanya mengamanatkan untuk menikah dengan salah satu dari kami bertiga dan tidak mengamanatkan untuk menikah dengan Ghani. Jadi, kalau kamu mau menjalankan amanat yang diberikan oleh Papa kamu, biarkan aku saja yang menikahi kamu," seru Gaza.


Rara tampak membelalakkan matanya, dia tidak menyangka kalau Gaza akan mengatakan hal seperti itu.


"Aku mohon, lepaskan Ghani kasihan dia, biarkan dia memilih kebahagiaannya sendiri dan kebahagiaan Ghani hanya ada pada Gabby," seru Gaza.


Rara terdiam, dia menatap Gaza dengan tatapan terkejutnya.