A NINJA'S REVENGE

A NINJA'S REVENGE
Episode 37 Kabar Bahagia



1 bulan kemudian...


Semenjak kejadian Gabby menolong Ghani, hubungan mereka berdua tidak berubah sama sekali karena Gabby dan Ghani sama-sama tidak tahu harus melakukan apa.


Mereka seperti dua orang yang tidak saling kenal, sementara itu Gaza pun tidak bisa berbuat banyak karena Rara tidak mau berbicara sedikit pun kepada Gaza bahkan Rara terkesan menghindar.


"Ghani, Minggu depan adalah pernikahanmu dan siang ini kamu harus fitting baju bersama Rara," seru Mama Mika hati-hati.


"Mama tahu ukuran baju Ghani, jadi Ghani tidak perlu pergi untuk fitting baju," sahut Ghani dingin.


Ghani hanya fokus makan nasi goreng, setelah dia selesai, dia pun segera pergi dengan sebelumnya berpamitan kepada kedua orang tuanya.


Ghani adalah tipe orang yang tidak bisa marah kepada kedua orang tuanya, walaupun saat ini Ghani sangat marah kepada mereka tapi Ghani tetap menghormati Papa Bian dan Mama Mika.


Semua yang ada di meja makan hanya bisa menghela napas mereka masing-masing, sungguh saat ini keadaannya sangat rumit.


Sementara itu, Gabby menjadi gadis yang semakin pendiam. Mobil yang dikendarai Hirotta sampai di kampus dan bersamaan dengan mobil Ghani yang sama-sama baru sampai.


"Pagi, Pak Dosen!" sapa Hirotta dengan cengirannya.


Ghani hanya melirik dan tidak ada ekspresi sama sekali, suasana hati Ghani saat ini sedang tidak baik-baik saja.


"Al, nanti pulang kuliah aku sama Hirotta ada pertemuan dengan Sensei kita dulu, jadi gak apa-apa kan, kalau aku dan Hirotta pulang duluan?" seru Gabby.


"Ah iya, tidak apa-apa kok aku bisa naik taksi," sahut Alea.


Seperti biasa mata kuliah Ghani berjalan dengan lancar, dan Gabby sama sekali tidak mau menatap Ghani walaupun Gabby tahu kalau Ghani terus saja memperhatikannya.


Hingga waktu pulang pun tiba, Alea berdiri di pinggir jalan menunggu taksi lewat sedangkan Gabby sudah pulang duluan bersama Hirotta. Sebuah mobil berhenti di depan Alea. "Kenapa kamu belum pulang?" tanya Ghani.


"Aku sedang nunggu taksi, Pak."


"Gabby mana?"


"Dia pulang duluan sama Kak Hirotta katanya ada urusan penting."


"Ya sudah, ayo aku antar kamu pulang."


"Ah, tidak usah Pak, aku bisa pulang naik taksi," tolak Alea dengan ramah.


"Gak apa-apa aku antar, sekalian ada sesuatu yang mau aku tanyakan sama kamu."


Alea terdiam sebentar, dia tahu apa yang ingin Ghani tanyakan kepadanya dan sepertinya Alea memang harus meluruskan masalah diantara Gabby dan Ghani.


"Memangnya tidak merepotkan?" seru Alea.


"Tidak, ayo masuk."


Akhirnya Alea pun masuk ke dalam mobil Ghani.


"Kita mampir ke cafe itu dulu ya, aku janji cuma sebentar. Aku juga takut Gavin ngamuk kalau lama-lama mengajak kekasihnya jalan," seru Ghani dengan senyumannya.


Untuk pertama kalinya Alea melihat senyum Ghani, walau itu kelihatan sangat dipaksakan.


"Iya Pak, tenang saja Kak Gavin gak bakalan marah kok."


"Ini di luar kampus jadi kamu tidak usah memanggil aku dengan sebutan Pak."


"Baiklah."


Ghani pun menghentikan mobilnya di sebuah cafe.


"Kamu mau pesan apa, Al?"


"Vanila latte saja, Kak."


Ghani pun segera memesan dua vanila latte, dan tidak membutuhkan waktu lama, pesanan mereka pun datang.


"Kak Ghani mau menanyakan apa?" tanya Alea.


"Al, apa kamu tahu dulu Gabby menghilang ke mana?"


"Kak, mungkin Kakak pernah mendengar apa yang sudah terjadi kepadaku?"


"Iya, aku tahu dari Vira dan aku ikut sedih mendengarnya," sahut Ghani.


Alea mulai menceritakan ke mana Gabby dan Gavin pergi serta apa alasan mereka sampai menghilang membuat Ghani terkejut mendengarnya.


Ghani tidak menyangka kalau kisah hidup Gabby dan Gavin lebih tragis.


"Kak, dulu Gabby memang terkesan cuek tapi satu hal yang harus Kakak tahu, sebenarnya Gabby itu mencintai Kakak."


Lagi-lagi Ghani terkejut mendengar ucapan Alea.


"Makanya Gabby sangat terluka saat Kakak datang di acara reunian dengan membawa seorang wanita yang Kakak perkenalkan sebagai calon istri Kakak."


"Aku benar-benar bingung Al, aku tidak bisa memungkiri kalau cinta aku hanya untuk Gabby tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, bagaimana pun Papa Rara sudah mendonorkan ginjalnya untukku."


"Sudah terlambat Al, Minggu depan aku dan Rara akan menikah."


"Apa?"


Sekarang, giliran Alea yang merasa terkejut entah apa yang akan terjadi kepada Gabby kalau tahu Ghani akan segera menikah.


***


Malam pun tiba...


Alea sudah terlihat dandan dengan menggunakan dress selutut yang membuat Alea sangat cantik.


"Masya Allah, kamu cantik sekali mau ke mana sayang?" tanya Mami Queen yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Alea.


"Kak Gavin mau ngajak Alea jalan, Mami. Boleh kan?"


"Boleh dong sayang."


"Ah iya, Kak Putra mana? Kok dari tadi siang Alea tidak melihatnya."


"Mami juga gak tahu, katanya dia sedang banyak pekerjaan jadi akan pulang sedikit larut malam."


"Oh."


Terdengar suara klakson mobil dari bawah. "Itu sepertinya mobil Kak Gavin, Alea pergi dulu ya, Mi."


"Iya sayang, kamu hati-hati ya."


"Oke, Mami."


Alea pun segera berlari keluar dan Gavin tampak tercengang melihat penampilan Alea yang sangat cantik itu.


"Kamu cantik banget, sayang."


"Ih, gombal."


"Asli, malam ini kamu cantik banget."


"Sudah ah, ayo cepat berangkat nanti keburu ke malaman," seru Alea dengan wajah yang memerah.


Malam ini Gavin akan membawa Alea ke suatu tempat, entah mau ke mana karena Gavin merahasiakannya. Di saat akan sampai di tempat tujuan, Gavin menghentikan mobilnya.


"Kok, berhenti?" tanya Alea.


"Sebentar lagi sampai, jadi kamu harus tutup mata."


"Ih gak asyik, ngapain sih pakai tutup mata segala," kesal Alea.


"Sudah jangan banyak membantah."


Gavin mengeluarkan syal dan menutup mata Alea dengan syal itu. Gavin kembali melajukan mobilnya, hingga tidak lama kemudian mereka pun sampai di sebuah taman yang dulu biasa Gavin dan Alea datangi jika pulang sekolah.


Gavin memapah Alea berjalan, ternyata taman itu sudah di dekorasi sedemikian rupa oleh Gavin dan anak-anaknya yang lainnya.


"Stop, berhenti."


Perlahan Gavin membuka penutup mata Alea, Alea sampai membelalakkan matanya melihat suasana di taman itu. Lampu kerlap-kerlip, banyak bunga.


"Ya Allah, cantik sekali," gumam Alea dengan mata yang berbinar.


Gavin mengambil sebuah kotak cincin dari dalam saku jasnya.


"Al, ini adalah taman yang dulu sering kita datangi setiap pulang sekolah dan taman ini menjadi saksi bisu akan hubungan kita. Malam ini, di taman ini juga aku ingin melamar kamu. Bersediakah kamu menjadi pendampingku dan menua bersamaku?" seru Gavin.


Mata Alea mulai berkaca-kaca. "Tapi Kak, aku bukan wanita yang diidam-idamkan oleh semua pria karena aku sudah tidak perawan lagi," seru Alea dengan menundukkan kepalanya.


Gavin mengangkat dagu Alea, airmata Alea terus saja mengalir di pipinya bahkan Gavin pun tidak sadar sudah meneteskan airmatanya sendiri.


"Aku tidak mempermasalahkan itu Alea, karena kamu seperti itu karena kesalahan aku juga tidak bisa menjaga kamu. Asalkan kamu tahu, kalau aku sampai tidak bisa menikahimu maka aku akan menyesal seumur hidupku. Kita lalui semuanya bersama, susah, senang, kita lalui bersama apalagi aku dan Gabby sekarang sudah tidak punya keluarga lagi jadi hanya kamu dan Tante Queen yang saat ini kita punya. Jadi, mau kan kamu menikah denganku?"


Airmata Alea semakin deras, tapi beberapa saat kemudian Alea pun menganggukkan kepalanya.


Gavin menghapus airmatanya sendiri lalu dengan semangat, dia menyematkan cincin berlian di jari manis Alea. Alea tersenyum dan langsung memeluk Gavin.


"Terima kasih, Kak."


Teman-teman Gavin dan Alea tampak terharu melihatnya, Gavin memang meminta para sahabatnya untuk mendekor taman itu dan saat ini mereka sedang bersembunyi untuk memberi kejutan kepada Alea, termasuk Mami Queen yang awalnya pura-pura tidak tahu padahal kenyataannya ia sudah bersekongkol dengan yang lainnya.


*


*


*


Hallo guys, maaf Author baru bisa up karena Author kemarin tumbang lagi ini juga maksain up. Mungkin mulai besok, Author akan slow up ya, soalnya masih lemas juga dan belum kuat lama-lama lihat hp jadi mohon dimaklum🙏🙏