
1 Minggu kemudian....
Hubungan antara Alea dan Gavin semakin dekat, bahkan Alea sudah berani bersikap manja kepada Gavin karena Alea mengira kalau Gavin itu seorang wanita dan Alea sudah menganggap Gavin seperti kakaknya sendiri.
"Kak Alea kita belajar lagi yuk!" ajak Yuli.
"Oke, ayo."
Alea pun mengajarkan kedua anak kecil itu untuk membaca dan berhitung, tidak jarang anak-anak yang lain pun ikut bergabung untuk belajar bersama.
"Vin, awas jangan terlalu dekat sama Alea nanti kamu khilaf loh," goda Hirotta.
"Astaga, memangnya kamu pikir aku ini cowok apaan?" kesal Gavin.
"Cowok jadi-jadian," sahut Hirotta.
"Sembarangan, aku berpenampilan seperti ini karena aku ingin wanita yang aku cintai sembuh mudah-mudahan saja saat nanti aku berubah menjadi Gavin yang asli, Alea jadi terbiasa dan tidak trauma lagi," seru Gavin.
"Oh iya Vin, sudah satu Minggu tidak ada pergerakan dari para iblis itu."
"Baguslah, Alea jadi aman."
"Aman bagaimana? justru karena tidak ada pergerakan, kita harus hati-hati takutnya mereka menyerang kita dalam keadaan lengah," sahut Hirotta.
Baru saja Hirotta selesai bicara, tiba-tiba ada beberapa kucing yang berlari-larian menghampiri Alea dan anak-anak. Bahkan tidak jarang, kucing-kucing itu pun berkelahi membuat Alea dan anak-anak tidak nyaman.
"Astaga, kucing-kucing ini kenapa sih? kok malah berkelahi di sini?" keluh Alea.
Gavin dan Hirotta mulai memperhatikan kucing-kucing itu dengan seksama, terlihat beberapa kucing itu berusaha mendekati Alea dan mencoba mengambil sesuatu dari Alea.
"Vin, kamu sadar tidak kalau kucing-kucing itu berkelakuan aneh?" tanya Hirotta.
"Aneh bagaimana?"
"Lihatlah, mereka kok deketin Alea terus dan sepertinya kucing-kucing itu ingin mengambil kalung yang di pakai Alea."
Gavin memusatkan pikirannya, dan terlihat salah satu dari kucing itu adalah iblis.
"Hiro, kucing hitam itu bukan kucing biasa, tapi iblis."
Benar dugaan Gavin, kucing hitam itu adalah jelmaan dari Azura. Azura adalah anak iblis, maka dari itu dia bisa merubah wujudnya menjadi apa pun yang dia mau.
"Brengsek, tapi kalung itu bisa melindungi Alea dan para iblis tidak bisa mendekati Alea karena kalung itu," sahut Hirotta.
Beberapa kucing biasa itu sudah Azura hipnotis supaya bisa mengambil kalung yang di pakai Alea.
Gavin langsung menghampiri Alea dan mengusir kucing-kucing yang dari tadi mengerubungi Alea membuat Alea ketakutan. Alea langsung berlari menghampiri Hirotta dan berdiri di samping Hirotta dengan napas yang ngos-ngosan.
"Gila, kucing-kucing itu kenapa? kok semuanya mengerubungi aku sih?" seru Alea.
"Tidak apa-apa, lebih baik sekarang kamu masuk saja dengan Yuli dan Lusi, biar Gavin yang urus kucing-kucing itu," sahut Hirotta keceplosan.
"Apa, Gavin? maksud Kak Haruka apa?" tanya Alea kaget.
"Ah, maksud aku Gina maaf tadi salah sebut orang," sahut Hirotta gugup.
Alea menatap Haruka dengan tatapan curiga, hingga beberapa saat kemudian Alea pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Ternyata kamu masih hidup, aku kira kamu sudah mati dan tidak akan kembali lagi ke sini," seru Gavin.
"Aku tidak akan mati semudah itu, luka yang kamu berikan tidak akan ada apa-apanya karena Ratu bisa dengan mudah menyembuhkan luka itu," seru Azura yang masih berwujud kucing itu.
"Tapi aku akan memusnahkan kalian semua."
"Jangan mimpi, kamu tidak akan bisa mendapatkan Alea karena aku tidak akan membiarkan kamu dan para iblis mendekati Alea," seru Gavin.
Gavin mengeluarkan shurikennya kembali membuat Azura memundurkan langkahnya.
"Awas kamu, aku akan kembali lagi sampai aku bisa mendapatkan Alea."
Azura pun berlari dengan cepat masuk ke dalam hutan.
"Saat ini aku harus waspada, karena iblis itu akan datang kapan saja jangan sampai aku kecolongan," gumam Gavin.
Sementara itu di dalam kamar Alea, Alea tampak terdiam. Dia memikirkan apa yang barusan Hirotta ucapkan.
"Apa maksud dari ucapan Kak Haruka? tidak mungkin dia sampai salah sebut nama, dari Gina ke Gavin kan, itu sangat jauh. Apa jangan-jangan Kak Gina adalah-----"
Alea merasa sangat aneh, bukan tanpa alasan dia curiga dengan ucapan Hirotta, Alea juga memang dari awal bertemu dengan Gavin merasakan sesuatu yang beda. Bahkan tatapan Gavin kepada Alea adalah tatapan yang tidak asing lagi buat Alea.
Tok..tok..tok..
Di saat Alea sedang melamun, tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk. Alea bangkit dari duduknya dan membukakan pintu, tapi betapa terkejutnya Alea saat melihat Gavin yang sudah berdiri di hadapannya.
Gavin menyunggingkan senyumannya, tapi Alea justru memperhatikan penampilan Gavin dari atas hingga bawah dan Alea merasa bodoh karena baru menyadarinya.
Alea hendak menutup pintu kamarnya tapi Gavin dengan cepat menahannya dengan kaki.
"Aku mau istirahat, jadi Kakak lebih baik pergi dan jangan ganggu aku," seru Alea dengan bibir yang bergetar.
Gavin bisa melihat ada yang aneh dengan Alea, bukannya pergi Gavin malah masuk ke dalam kamar Alea dan segera menutup pintu kamar Alea.
Alea memundurkan tubuhnya dengan mata yang berkaca-kaca. Gavin menuliskan sesuatu di buku kecilnya itu dan memperlihatkannya kepada Alea.
📝"Kamu kenapa?"
Alea memperhatikan tulisan Gavin, airmata Alea menetes dengan sendirinya membuat Gavin semakin khawatir.
"Tidak, ini tidak mungkin," seru Alea dengan terus memundurkan langkahnya.
Gavin hendak menyentuh Alea tapi Alea menepis tangan Gavin.
"Jangan mendekat, aku sudah tahu semuanya dan aku dengan bodohnya tidak bisa memperhatikan siapa kamu sebenarnya," seru Alea dengan deraian airmatanya.
Gavin mengerutkan keningnya merasa tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Alea.
"Kamu Kak Gavin, kan?" sentak Alea dengan deraian airmatanya.
Gavin tampak membelalakkan matanya, Gavin terkejut kenapa Alea bisa mengenalinya.
"Kenapa kamu membohongiku? pasti kamu kaget kan, kenapa aku tahu? karena aku baru sadar, seandainya kalau tadi Kak Haruka tidak salah sebut namamu mungkin aku tidak akan tahu siapa kamu sebenarnya. Apa jangan-jangan Kak Haruka juga bukan nama yang sebenarnya dan kalian berdua sudah membohongiku!" teriak Alea.
Hirotta, Yuli, dan Lusi sampai terkejut mendengar teriakan Alea.
"Kak Alea kenapa, Kak?" tanya Yuli.
"Kakak juga tidak tahu, kalian masuk dulu ke kamar kalian biar Kakak yang cari tahu kenapa Kak Alea seperti itu," sahut Hirotta. Pak
"Baiklah."
Yuli dan Lusi pun masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Hirotta terdiam.
"Mungkinkah Alea sudah mengetahui semuanya? astaga, pasti ini gara-gara aku tadi salah sebut nama. Bagaimana ini, pasti Gavin bakalan marah besar sama aku," batin Hirotta.