A NINJA'S REVENGE

A NINJA'S REVENGE
Episode 5 Keadaan Alea



Kondisi Alea semakin hari semakin mengkhawatirkan, Alea sering teriak-teriak, tertawa tiba-tiba, dan menangis dalam waktu bersamaan membuat Mami Queen dan Papi Rifki semakin dilanda kesedihan yang teramat dalam.


Saat ini Mami Queen dan Papi Rifki sudah membawa Alea ke kampung halaman Nenek Arini untuk menghindari orang-orang jahat yang sudah menghancurkan kehidupan Alea bahkan Papi Rifki sudah memutuskan untuk pensiun sebelum waktunya karena sering sakit-sakitan.


Papi Rifki sering sakit-sakitan karena melihat kondisi putrinya seperti itu, ditambah Alea mengalami trauma yang takut akan sosok pria.


"Bagaimana ini, Pi? Mami tidak tega kalau harus melihat Alea terus-terusan seperti itu, apalagi Alea harus terus disuntik obat penenang, hati Mami sangat sakit, Pi," seru Mami Queen dengan deraian airmatanya.


"Papi lebih sakit, Mami masih mending bisa melihat Alea dan memeluknya, sedangkan Papi jangankan memeluk, melihatnya saja tidak bisa. Papi benar-benar sangat merasa berdosa karena gara-gara Papi tidak bisa menolong Alea, dia jadi harus mengalami hal seberat ini," sahut Papi Rifki dengan terus memukul kepalanya sendiri.


Mami Queen memegang tangan suaminya dan langsung memeluknya dengan tangisan yang sangat memilukan.


"Ini bukan kesalahan Papi, mungkin sudah takdirnya Alea harus mengalami ini semua."


"Kenapa harus Alea, Mi? lebih baik mereka bunuh Papi, daripada harus melihat Alea kehilangan masa depannya seperti itu."


Mami Queen memeluk suaminya dengan sangat erat, keduanya menangis tanpa henti.


Setelah puasa menangis, Papi Rifki memilih masuk ke dalam kamarnya sedangkan Mami Queen melihat keadaan Alea di sebuah kamar.


Terlihat Alea sedang tertidur, setelah disuntikan obat penenang oleh perawat yang sengaja Mami Queen sewa untuk menjaga Alea.


"Kamu harus kuat sayang, kamu harus sembuh demi Mami. Kamu adalah anak yang sangat Mami tunggu-tunggu, dan Mami tidak marah sama kamu, Mami tidak benci sama kamu, Mami akan menerima kamu apa pun kondisi dan keadaan kamu, jadi sembuhlah demi Mami," seru Mami Queen dengan mengusap kepala Alea.


Setelah melihat Alea, Mami Queen pun memutuskan untuk pergi.


"Tolong jaga Alea."


"Baik, dok."


Pintu kamar itu segera di kunci, sedangkan Alea tampak meneteskan airmatanya sembari memejamkan mata. Alea memang mendengar apa yang barusan Maminya ucapkan tapi Alea tidak bisa berbuat apa-apa, bayangan pemerkosaan itu selalu muncul di benak Alea.


Mami Queen menyusul suaminya ke kamar dan duduk di atas ranjang.


"Pi, Mami kepikiran Gavin dan Gabby, mereka ke mana, ya?"


"Untuk saat ini sepertinya hanya Gavin yang bisa menyembuhkan Alea, karena menurut para perawat kalau malam, Alea selalu mengigau menyebut nama Gavin."


Papi Rifki terdiam lalu mengusap wajahnya kasar, saat ini dia tidak tahu harus melakukan apa sedangkan menurut anak buahnya. Penjahat itu adalah sebuah rantai kejahatan yang sempat booming belasan tahun silam dan kemungkinan ini adalah masih komplotan mafia itu.


***


Malam pun tiba...


Alea terbangun di tengah malam, kali ini dia tidak ngamuk. Alea duduk di atas tempat tidur dengan memeluk kedua kakinya, pandangannya sangat kosong.


Kenangan Alea bersama Gavin mulai memenuhi memorinya, di saat sekolah, terus mondok di sebuah pesantren, lalu kencan berdua membuat tanpa sadar Alea menyunggingkan senyumannya.


"Kak Gavin," lirih Alea.


Tubuh Alea mulai bergetar hebat, detak jantung Alea berdetak sangat kencang, bahkan saat ini keringat sudah mulai keluar dari wajah Alea.


Entah kenapa disaat Alea mengingat kejadian pemerkosaan itu Alea sangat takut akan laki-laki bahkan sekedar membayangkannya saja, Alea sudah berkeringat dingin dan tubuhnya bergetar.


Tapi ajaibnya, di saat Alea mengingat Gavin perasaan takut itu tidak ada sama sekali justru Alea tanpa sadar akan menyunggingkan senyumannya. Sehebat itukah kekuatan cinta, kadang-kadang saking mahadahsyatnya cinta semua orang akan melakukan hal diluar nalar.


Begitu juga dengan Gavin, selisih waktu Jepang dan Indonesia adalah 2 jam. Jepang 2 jam lebih cepat dibandingkan dengan Indonesia, di saat Indonesia pukul 12 malam, berarti di Jepang pukul 2 dini hari.


Gavin terbangun, dia masih belum terbiasa tidur dengan beralaskan daun pisang berbeda dengan Gabby yang memang sudah terlelap mungkin karena di kecapean.


Gavin keluar dari gua itu dan duduk di bibir gua, sembari melihat bintang-bintang yang bertebaran di langit sangat indah.


"Alea maafkan aku, tunggu aku. Aku janji akan membalaskan semua rasa sakit kamu dan aku juga berjanji mereka harus membayar semua hutang nyawa mereka terhadapku. The Blood, aku pastikan ini adalah keturunan terakhir dari kalian karena aku akan memusnahkan kalian semua sampai ke akar-akarnya," gumam Gavin.


Alea turun dari atas tempat tidurnya dan berdiri di depan jendela.


"Kak Gavin, masih jelas teringat pelukanmu yang hangat seakan semua tak mungkin menghilang, kini hanya kenangan yang telah kamu tinggalkan sampai tak tersisa lagi waktu bersama. Walaupun kamu pergi begitu saja, tetap masih ada sisa rasa yang tak akan hilang sampai kapan pun. Kak Gavin, apa aku akan mampu bertahan saat kamu tak ada lagi di sisiku?" batin Alea dengan deraian airmatanya.


Hati Alea benar-benar sangat sakit, kenapa Gavin pergi di saat dia sangat membutuhkan sosok Gavin. Memang benar apa kata Mami Queen, untuk saat ini hanya Gavin yang Alea butuhkan untuk menyembuhkan rasa traumanya.