
1 Minggu kemudian...
Alea dan para sahabatnya sudah mulai sibuk mengurus persiapan pernikahan Alea dan Gavin yang tinggal 2 Minggu lagi. Vina dan kawan-kawan sangat antusias karena mereka nantinya akan menjadi Bridesmaids di pernikahan Alea dan Gavin.
Hanya Gabby yang terlihat murung karena esok hari adalah pernikahan Ghani dan Rara.
"Gab, itu minumanmu tumpah," seru Aleena.
Gabby sampai tersentak kaget melihat minumannya yang tumpah ke celananya.
"Astaga, celana aku jadi basah," keluh Gabby.
Gabby bangkit dari duduknya. "Aku ke toilet dulu sebentar ya."
Gabby dengan cepat pergi ke toilet, saat ini mereka sedang berada di sebuah Mall karena mereka baru saja mengukur baju di butik dan mereka merasa lapar maka dari itu mereka mampir dulu ke sebuah restoran.
Gabby berjalan dengan menundukkan kepalanya karena sembari mengeringkan celananya dengan tisu.
Bruuukkk...
Gabby menabrak seseorang, sehingga tubuh Gabby oleng tapi orang itu dengan sigap menangkap tubuh Gabby sehingga Gabby tidak terjatuh. Untuk sesaat, keduanya saling tatap satu sama lain hingga beberapa saat kemudian Gabby tersadar dan melepaskan diri dan sedikit memundurkan langkahnya.
"Maaf."
Gabby pun memutuskan untuk segera pergi.
"Tunggu, Gabby!"
Langkah Gabby akhirnya terhenti karena Ghani memanggilnya. Ya, ternyata orang yang Gabby tabrak adalah Ghani.
"Aku ingin bicara sebentar sama kamu."
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi," sahut Gabby dingin.
"5 menit saja, aku hanya butuh waktu 5 menit untuk bicara sama kamu karena kalau aku tidak mengatakannya sama kamu, aku akan menyesal seumur hidup aku," seru Ghani.
Gabby terdiam, dia sama sekali tidak tahu harus bagaimana. Di satu sisi, Gabby tidak mau berbicara dengan Ghani tapi di sisi lain Gabby juga merasa penasaran dengan apa yang ingin Ghani katakan kepadanya.
"Please, sebentar saja," mohon Ghani.
"Baiklah, tapi aku tidak bisa lama-lama karena anak-anak sedang menungguku."
"Aku janji, ini hanya sebentar."
Raut wajah Ghani terlihat sangat sumringah, entah apa yang mau Ghani katakan. Lalu Ghani mengajak Gabby duduk di sebuah kursi.
"Cepat, apa yang ingin Kakak katakan kepadaku?"
"Kamu tahu kan, kalau besok adalah hari pernikahanku?"
Gabby menatap tajam ke arah Ghani. "Maksud Kakak apa mengatakan itu? Apa Kakak mau pamer?" geram Gabby.
Gabby bangkit dari duduknya hendak pergi tapi Ghani dengan cepat menahan lengan Gabby.
"Kamu jangan salah faham, maksud aku bukan begitu justru aku merasa tersiksa dengan pernikahan ini. Saat ini aku hanya ingin memastikan sesuatu yang selama ini aku pendam dan belum sempat aku tanyakan kepadamu."
Gabby menghempaskan tangan Ghani. "Jangan banyak basa-basi, ayo cepat katakan karena anak-anak saat ini sedang menungguku."
"Kamu sudah tahu kalau sejak dulu aku menyukaimu dan asalkan kamu tahu, sampai saat ini rasa cinta aku untukmu tidak pernah hilang. Aku cuma ingin mendengar dari mulut kamu sendiri, apa kamu juga mencintaiku atau tidak?"
Seketika Gabby Gabby diam mematung, jantungnya kembali berdegup tak karuan, dan bahkan bibirnya terasa sangat kaku.
"Jawab Gabby, apa kamu juga memiliki perasaan yang sama terhadapku? aku harus tahu sebenarnya bagaimana isi hatimu terhadapku."
"Apa itu penting, Kak? Aku cinta atau tidak sama Kakak, untuk saat ini itu semua tidak ada gunanya karena besok Kakak sudah mau menikah, jadi buat apa Kakak memikirkan hal yang tidak penting seperti ini," seru Gabby.
Gabby membalikan tubuhnya dan kembali melangkahkan kakinya.
"Tapi jawaban darimu sangatlah penting untukku, jadi aku mohon jawab pertanyaan ku itu!" teriak Ghani.
Gabby sempat menghentikan langkahnya, tapi sedetik kemudian Gabby kembali melanjutkan langkahnya dengan airmata yang menetes tapi Gabby dengan cepat menghapusnya dengan kasar.
***
Keesokan harinya...
Pagi ini Ghani dan Rara akan melakukan ijab kabul, Gavin dan yang lainnya datang untuk melihat ijab kabul Ghani.
"Gab, kalau kamu gak kuat kita keluar aja yuk!" bisik Alea.
"Tidak Al, aku tidak apa-apa kok," sahut Gabby dengan tatapan sedihnya.
Alea merangkul Gabby untuk memberinya kekuatan.
Saat ini Ghani sudah duduk di hadapan penghulu dengan menundukkan kepalanya, dia sama sekali tidak mau mengangkat wajahnya apalagi melihat wajah Gabby karena itu membuatnya sakit.
Tidak lama kemudian, Rara pun masuk ke dalam gedung itu dengan dipapah oleh Vira. Gabby menatap Rara dengan tatapan sedih, akhirnya hari ini pria yang sangat dia cintai akan menikah dengan wanita lain dan Gabby harus siap-siap melupakan Ghani.
Rara terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya putih, Vira mengantar Rara sampai duduk di samping Ghani. Rara sedikit menoleh ke arah Ghani, terlihat kalau Ghani sama sekali tidak mau melihat ke arahnya.
"Al, aku keluar dulu ya," seru Gabby.
"Aku temani."
Gabby dan Alea bangkit dari duduknya hendak pergi dari ruangan itu, bagaimana pun Gabby tidak bisa harus pura-pura kuat karena kenyataannya hatinya saat ini hancur.
"Saudara Gaza, apa anda siap untuk menikah dengan saudara Rara?" tanya penghulu di depan mik.
Gabby dan Alea yang hendak pergi seketika terdiam saat penghulu memanggil nama Ghani dengan sebutan Gaza.
"Nama saya Ghani Pak, bukan Gaza," sahut Ghani dingin.
"Loh, tapi di berkas ini yang tertera nama Gaza Ganendra bukan Ghani Ganendra," seru Pak Penghulu.
Ghani mengerutkan keningnya, dia pun ikut melihat berkas itu dan benar saja itu adalah berkas Gaza kembarannya bukan dia.
Gabby dan yang lainnya pun ikut bingung juga, bahkan Gabby dan Alea sudah saling tatap satu sama lain. Tidak lama kemudian, pintu ruangan pun terbuka dan semua orang langsung melihat ke arah pintu masuk.
"Astaga Ghani, ngapain kamu duduk di situ? Hari ini kan yang nikah aku bukan kamu, barusan aku dari toilet dulu soalnya aku gugup banget sampai sakit, perutku," seru Gaza cengengesan.
Ghani bengong, begitu pun dengan yang lainnya tak kalah bingung. Garra ikut menghampiri Ghani dan menepuk pundak Ghani berkali-kali.
"Gaza dan Rara memutuskan untuk menikah, Rara sudah tahu kalau kamu saat ini mencintai wanita lain jadi dia tidak mau menikah denganmu dan memutuskan untuk menikah dengan Gaza," seru Garra.
Ghani menoleh ke arah Rara, terlihat Rara tersenyum manis kepadanya. Rara bangkit dari duduknya dan menghampiri Ghani.
"Aku tahu kamu mencintai Gabby, jadi kejarlah cintamu jangan mikirin aku karena mulai sekarang aku akan belajar mencintai Gaza. Toh, wajah kalian mirip kok jadi mau nikah sama siapa pun juga gak jadi masalah untukku yang penting pria itu bertanggung jawab," seru Rara dengan senyumannya.
Mata Ghani sampai berkaca-kaca, Ghani langsung memeluk Rara.
"Terima kasih ya Ra, maaf selama ini aku sudah jahat sama kamu."
"Tidak apa-apa, sudah sana kejar cintamu jangan sampai gagal lagi."
Ghani melepaskan pelukannya, tatapan Ghani dan Gabby langsung bertemu entah apa yang sedang ada dalam hati masing-masing.
"Anjir, sebentar lagi adegan di Drakor bakalan muncul aku harus rekam momen langka ini," seru Alexa heboh.
Alexa langsung mengeluarkan ponselnya, Ghani mulai melangkahkan kakinya menghampiri Gabby dan Gabby masih terdiam mematung.
Tanpa ini itu, Ghani langsung menarik tangan Gabby dan membawanya keluar dari ruangan itu membuat Alea dan kawan-kawan berteriak histeris saking bahagianya.
"Aku juga mau dong kaya gitu," seru Dira.
"Aku juga ma---"
Ucapan Vina terhenti karena Vina melihat Langit dengan tatapan tajamnya seolah-olah Langit memarahinya dengan tatapan.
Semuanya kembali duduk tenang, menyaksikan acara ijab kabul antara Gaza dan Rara sedangkan Ghani entah membawa Gabby ke mana.