
*Flashback mode on
"Lo yang namanya Rangga?" Lelaki yang bertubuh tinggi itu menghampiriku.
Tampak di belakang dirinya komplotan yang selalu bersembunyi di belakangnya.
"Iya, lo mau apa?" jawabku sambil membalas dorongannya.
Dorongannya begitu kuat. Dengan tangannya yang besar dan kuat membuat dadaku terasa sedikit sakit. Aku memperahatikan teman-teman yang di belakangnya melihatku dengan tatapan sinis. Diriku sedikit gentar dengan kedatangan mereka. Baju SMP milikku kusut karena pegangan eratnya di kerah bajuku.
"Bro, bawa dia ke belakang." Teman-temannya menyeretku dengan paksa.
Teriknya panas yang biasa kami gunakan untuk beristirahat sebelum menerima pelajaran tambahan, mengingat kami sekitar tiga bulan lagi akan menghadapi UN. Aku memberontak menolak untuk dibawa mereka. Badanku yang kecil membuatku tidak bisa melawan.
"Jadi lo yang ngedeketin Rere?" katanya sambil melemparkanku ke tanah.
Di sini sunyi tidak ada orang kami. jadi tidak ada yang bisa menolongku.
"Enggak, sumpah ... enggak," jawabku dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Aku dan Rere memang kelihatan dekat dan akrab jika berdua. Sikapnya yang manis dan terbuka membuatku nyaman di dekatnya. Bukan bermaksud untuk mendekatinya.
"bohong lo!" Kepalan tangan itu tepat melesat ke pipi ku. Aku tak berhenti menahan sakit.
Teman-temannya yang lain hanya diam sambil menertawakanku. Aku mencoba melawan. Tanganku yang tak berisi membuat pukulanku tidak terasa baginya. Aku mencoba lari. Namun setiap aku mencoba lari, aku di lempar kembali ke tanah.
Pukulan keduanya begitu sakit terasa. Aku mencoba menahan sakit yang luar biasa ini. Aku menutupi wajahku yang tengah tersungkur di tanah. Ia berlari mencoba menendangku dengan tendangan keras. Aku bersiap menerima serangan itu. Tubuhku menyiapkan otot-otot nya untuk menerima serangan yang menurutku sangat kuat.
Brukkkk!!!!
Bunyi tubuhnya tersungkur ke tanah. Bunyinya terdengar jelas olehku. Erangan orang yang mematahkan serangannya sempat terdengar olehku. Aku membuka tanganku yang tadi melindungi kepalaku. Mataku melihat ke atas. Sinar matahari yang begitu terik membuat mataku silau. Wajahnya hanya kelihatan kehitaman. Dengan gagah dan tegap ia berkata sama orang-orang yang sedari tadi tertawa melihatku di serang.
"Woi lo apain nih anak? Berani kroyokan." Telunjuknya menunjuk mereka satu persatu.
Rio kembali tegak dan berlari menyerang orang yang menolongku tadi. Namun, ia kembali bisa mematahkan serangan Rio kembali. Ia hanya menghindari dan menahan serangannya. Dengan mudah dirinya mengunci tangan Rio hingga Rio merintih kesakitan. Aku merasa bahwa ia telah menguasai teknik bela diri sejak lama hingga ia bisa melawannya tanpa menyerangnya sedikit pun.
"Lo kalau sekali lagi gangguin ni anak. Bakalan gua buat lo kaya gini lagi." Kuncian ke tangan Rio semakin kuat dan Rio merintih kesakitan yang luar biasa.
Teman-temannya yang tadi mendukung Rio tidak bisa membantunya, mereka sudah kalah mental karena gertakan tadi.
"Iya-iya ampun. Ga bakalan deh," katanya dengan gagap.
Rio hanya bisa pergi dengan kesal. Kekesalan itu begitu jelas terlihat di wajahnya. Aku beruntung bisa selamat berkat pertolongan cowok baik itu. Ia mengulurkan tangannya membantuku untuk tegak. Wajahnya yang tadi kehitaman terlihat karena mataku silau oleh sinar matahari, kini terlihat jelas.
Dengan senyum yang bijaksana ia memperkenalkan dirinya. "Nama gua Dede. Dede Haryanto. Anak kelas 93. Lain kali jangan cari masalah dengannya."
"Iya makasih ya udah nolongin gua. Kalau ga ada lo, mungkin gua udah bonyok mungkin. Makasih sekali lagi."
Ingatan itu kembali terputar oleh tidurku. Tak terasa sudah tiga puluh menit aku tertidur di kamarku. Alarm yang aku setting di handphoneku, membangunkanku barusan. Aku segera bergegas pergi ke Base Camp.
Di sana mereka telah berkumpul seperti biasanya. Zaki dan Dede tumben tidak bermain catur. Mungkin mereka bosan kalah menang dalam bermain catur. Bagaimana tidak, mereka hampir setiap hari melakukannya. Vena mengganggu Rere dengan menekan-nekan luka yang barusan membuat lecet lututnya. Kakiku melangkah ke pondok tempat mereka berkumpul.
Kayu itu yang baru saja aku pijak mengeluarkan bunyi berdecit. Aku mainkan sehingga bunyi decit itu terdengar berkali-kali.
"Woi, Rangga punya gebetan baru." teriak zaki lalu ia tertawa.
"Apaan sih!" Aku duduk bersila di samping Rere.
"Iyaa beneran? Siapa? Kasih tau dong. Sama kita-kita aja kok tau nyaa," kata mereka dengan serentak dan berulang.
Mereka sibuk dengan pertanyaan yang mereka lemparkan kepadaku. Rere tetap saja diam tidak bertanya seperti yang lain. Wajahnya yang datar tak seperti biasanya. Biasanya ia yang paling sibuk kalau soal yang seperti ini. Mungkin ia masih memikirkan lukanya tadi. Maklum, itu luka pertama di lututnya.
Dede menggoyang-goyangkan tubuhku untuk memaksa memberitahukan siapa yang dimaksud dari pernyataan Zaki barusan. Vena mengacak-acak rambutku. Rambut yang tadi telah di poles oleh pomade dan disisir klimis rusak oleh acakan tangan Vena. aku hanya tersipu malu mendengar pertanyaan mereka. Zaki hanya tertawa melihatku di kerumuni oleh Dede dan Vena yang tengah penasaran.
"Kalian mau tau?" tanyaku pada Dede dan Vena. "Tanya aja tuh sama Zaki." .
Zaki tertawa kecil sejenak. "Gebetan baru Rangga itu Raisa, anak cheers."
"Gila lo Ngga. Tinggi banget selera lo." Dede menepuk pundaku.
"Ga apa-apa. Yang penting kamu ga jomblo lagi. Ya kan Re?" tanya Vena sambil menolehkan kepalanya ke Rere.
Rere terdiam sejenak. Perlahan-lahan senyumnya terpancar perlahan-lahan. Matanya menyipit seraya berkata. "Iya, betul juga kamu Vena."
Mendengar pernyataan Rere, hatiku menjadi ikut senang. Teman-temanku mendukungku untuk mendapatkan hati Raisa. Walaupun Raisa itu termasuk anak berkelas di sekolah, aku akan berusaha keras. Teman-temanku ada yang mendukung di belakang. Dukungan mereka menjadi pemberi semangat yang begitu istimewa.
"Tenang aja, gua ahli dalam hal ini." Zaki memberikan semangatnya padaku.
***