
*Sudut pandang Rere
Tidak terasa sudah tiga bulan ini aku menjalin hubungan dengan "mantan" orang paling popular di sekolah.
Kenapa disebut "mantan"? semuanya pasti ada pengganti. Ia telah tamat dari SMA kami. Adik kelasnya akan menggantikan titel "cowok paling keren" yang sebelumnya pernah ia sandang. Entah siapa yang memberi penilaian tentang itu, namun itulah yang menjadi perbincanngan di antara anak-anak cewek di sekolah.
Setelah ia masuk ke perguruan tinggi, waktu yang kami habiskan tidak sebanyak sewaktu ia masih di sekolah. Ditambah lagi dengan kerja paruh waktu untuk menambah uang sakunya, itu semakin menyita banyak waktu.
"Sampai kapan aku harus minta sama orang tua?" jawabnya kalau aku tanya kenapa ia mencari kerja tambahan, sedangkan ia memiliki orang tua yang serba berkecukupan.
Namun bagi kami sering menghabiskan waktu bersama tidaklah terlalu penting, yang penting adalah quality time setiap kami ketemuan.
Malam ini malam minggu. Malam dimana kami membutuhkan quality time yang sesungguhnya. Rasa rinduku semakin menggebu-gebu akan pria bergitar itu. Sudah seminggu aku dan ia hanya berhubungan lewat telepon. Telinga ini merindukan manisnya suaranya. Rambutku butuh belaian kasih dari tangannya. Aku akan tampil cantik untuk ia seorang.
"Re, kamu dimana? Temenin makan dong, Raisa ga bisa keluar malam ini. Nasi goreng Tugu Pahlawan yah. Kita udah lama ga ke sana." Rangga mengirim pesan singkatnya.
Aku mematikan layar handphone. Sudah tiga pesan yang masuk ke handphoneku, namun tidak satupun yang aku balas.
Kamu ga pernah ngerti ya, kita udah punya pasangan masing-masing, ga mungkin aku makan berdua dengannya kaya dulu lagi.
Aku kadang heran dengan sikap Rangga yang selalu seperti dulu. Ia tidak pernah berpikir kalau Raisa bisa saja cemburu jika aku terlalu dekat, ataupun kak Panji yang akan merasakan hal yang sama.
Salahkah kalau aku berubah menjauhi Rangga?
Kadang keadaan yang membuat perubahan itu.
Mainan kucing di dalam mobil kak Panji menarik mataku untuk memerhatikan kepalanya yang terus mengangguk. Lucu rasanya saat kepalaku mengikuti anggukan kepala mainan kucing itu. Setiap ada goncangan pada mobil, maka anggukan itu akan semakin kencang. Kak Panji meperhatikan kelakuan lucuku. Tangan kanannya sibuk mengendalikan mobil agar tidak keluar dari jalurnya. Kakinya kokoh menginjak pedal gas. Tangan kirinya memainkan gigi mobil agar memperlaju kecepatan mobilnya.
Aku mengambil benda kecil yang ada di dalam tas kecilku. Bentuknya kecil namun seseorang pernah mengatakan aku bertambah cantik ketika memakai itu. Aku menarik Rambut ke belakang dan mulai memakaikan ikat rambut berwarna ungu. Di layar handphone aku dapat berkaca melihat keadaan rambutku yang sudah sempurna. Aku ingin tampil menarik ketika bersanding jalan berdua dengan kak Panji.
Kak Panji tampak tampan walaupun hanya menggunakan kaos dan celana jeans hitam. Gayanya tidak terlalu high seperti cowok-cowok popular pada umumnya. Ia tetap percaya diri dengan kesederhanaannya. Kesederhanaan dalam hal bergaya walaupun sebenarnya ia hidup berkecukupan.
"Kamu cantik kalau rambutnya terikat," sebut kak Panji.
Kamu cantik kalau rambutnya terikat. Kalimat itu pernah aku dengar sebelumnya dari seseorang yang pernah berbekas dihati. Namun bekas itu mulai memudar di telan waktu.
"Oh ya? Kamu pandai deh." Aku menyubit kegemasan pipi mulusnya itu.
Mata sipitnya menyipit senang dengan cubitan mesraku itu. Kadang aku bisa memberikan cubitan manja ke orang yang aku suka, namun bisa juga berupa cubitan yang Rangga bilang adalah cubitan yang paling menyakitkan di dunia, sewaktu-waktu kak Panji pasti akan merasakannya juga.
"Apalagi kalau pakai kacamata, bisa kena diabetes aku nih karna saking manisnya." Ia memasangkan kacamataku.
Dunia memang begitu indah ketika senyum itu datang. Aku menyandarkan diri, sementara tangan kak Panji masih mengelus manja rambutku. Sungguh nyaman rasanya. Aku rasa aku bisa belajar mencintainya perlahan.
Aku menyedot pipet dari minuman yang baru saja kami pesan di café Panda. Terakhir aku kesini saat bertemu dengan redaksi majalah Warna. Pada saat itu juga berharap Rangga datang kesini. Namun ia malah sibuk dengan Raisa.
Aku mengambil handphonenya yang tergeletak di atas meja. Dari tadi sudah berdering beberapa kali. Namun tangannya belum menyentuh handphone itu sama sekali. Tangannya masih sibuk dengan nasi goreng di hadapannya.
"Ini temen kamu nge-sms dari tadi." Aku menunjukkan deretan pesan singkat dari temannya.
"Kamu ga ngejenguk Pram?" Aku membaca pesan masuk dari salah satu teman band kak Panji.
"Tunggu dulu siapa itu Pram?" tanyaku lagi. Ada banyak yang pesan masuk yang berisikan maksud yang sama.
"Loe ga ngejenguk Pram? Kami udah ngumpul."
"Kamu baca apaan sih?" Ia mengambil kembali handphonennya.
Gerakannya cepat hingga ke tanganku. Aku membiarkan ia merebutnya. Alis tebalnya meneduhkan pandangannya ke layar handphone. Bibirnya masih terselip sedotan jus. Dua kali tegukan, ia kembali sibuk dengan layar handphonenya.
"Siapa itu Pram?" tanyaku kembali.
"Temen aku, dia lagi sakit. Jadi rencananya temen band aku mau ngejenguk dia." Matanya tetap fokus dengan handphone di tangannya.
Sesekali ia mengetik di layar handphone itu untuk membalas pesan yang dari tadi belum ia balas.
"Kayaknya aku ga bisa ngantar kamu pulang deh. Temen aku udah ngumpul semua."
"Trus aku pulang dengan siapa dong?"
"Aku pinta Zaki buat ngantar kamu. Aku antar kamu ke rumahnya. Rumahnya kan dekat dari sini," katanya sambil menyedot jus dari sedotannya.
Tatapan kami berdua membentuk garis lurus. Sebenarnya aku kecewa dengan kak Panji yang merusak malam minggu kali ini. Aku ingin menciptakan setiap malam minggu kami adalah malam minggu yang sempurna.
tanganku mengetik nama Rangga di layar handphone dan mengirimnya pesan singkat untuk menjemputku disini. "Ga usah, aku sama Rangga aja."
"Rangga? Jangan. Dia pake motor, ntar kalau kehujanan gimana? Kalau kamu tabrakan gimana?"
"Loh kok kamu ngatain Rangga sih?" Rasa kecewaku semakin bertambah ketika kata-kata tidak mengenakkan tertuju ke Rangga.
Setidaknya ia selalu ngantar aku walaupun ia sesibuk apa, walaupun panasnya hari membakar kulitnya.
"Pokoknya kamu harus sama Zaki." Ia tegak dari duduknya dan berjalan ke kasir untuk membayar semua pesanan yang ada di meja.
Langkahnya tampak cepat hingga sampai ke tempat kasir. Aku hanya duduk meresapi semu sikapnya yang kurang mengenakkan. Aku tidak suka Rangga dijelekkan seperti itu. Aku memang berusaha melupakkannya, namun rasa itu tampaknya masih ada walaupun hanya secuil. Aku belum seratus persen move on dari dirinya.
***