
Berbalik arah bermaksud meninggalkan mereka. Udara dingin kamar ini semakin aku rasa ketika kulitku mulai bergesekan dengan udara sekitar. Kakiku kembali bersemangat setelah mendengar semuanya. Akhirnya sebuah nama itu menguakkan identitas aslinya. Sebuah namanya yang menjadi tanda tanya besar di dalam pikiranku. Ternyata benar, Sesuatu telah ia sembunyikan. Aku membenarkan sebuah pepatah lama yang sering kita dengar sewaktu di Sekolah Dasar, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan terjatuh juga, akhirnya aku tahu rahasia itu.
Sikap Raisa sendirilah yang menguak semua rahasianya. Sepertinya Zaki sudah mencium semuanya hingga mempertemukanku dengan Pram dirumah sakit ini. Aku terlalu bodoh terlena oleh cinta Raisa. Aku tidak bisa membaca semua tanda ketidak beresan sesuatu yang terjadi. Aku hanya sibuk mencintai orang lain yang memiliki sebuah alasan untuk mencintaiku. Di lain sudut, seseorang tersakiti, tergores hatinya, hanya karena aku memilih orang lain. Rere yang aku sakiti selama ini, ia mencintaiku.
"Lo mau kemana?" tanya Pram saat melihatku berbalik beranjak meninggalkan mereka.
"Gua mau jemput sesuatu yang harus gua bawa untuk lo." Pikiranku tertuju ke sebuah nama. Wanita berwajah cantik kemerahan yang selalu anggun dengan rambut panjang tergerainya, Raisa. Dede menyusulku dan meminta Vena menunggunya di sini hingga kembali.
Aku mempercepat langkahku. Dede berlari menyusulku dari belakang. Awalnya aku akan menggunakan kendaraan umum, tapi karena Dede ikut ia tidak akan membiarkanku menggunaka kendaraan umum.
Cukup lama kami menunggu lift sampai kepada kami. Mungkin orang di atas sana sudah lebih dulu memencet tombol daripada kami. Dede sesekali melihat jam tangannya, memastikan waktu tidak berlalu dengan cepat. Ia sangat menghargai waktu dan tidak ingin waktunya terbuang sia-sia hanya untuk menunggu kami.
Pintu lift terbuka. Kami memasukinya. Hanya kami berdua yang ada disini. "Gua salah ga De kalau gua ngebiarin Rere seperti itu dulu?" tanyaku di saat lift itu turun ke lantai satu. Dede menarik nafasnya sesaat dan menghembuskannya kembali.
"Gua ga tau siapa yang salah saat ini, coba menurut hati lo, lo salah ga? Hati kita menyaring semuanya."
"Menurut gua sih, gua salah karena nyia-nyiain dia yang selalu nungguin gua. Eh gua malah milih Raisa yang ga sengaja gua kenal. Gua salah mengartikan sikap manis Rere De, gua kira itu sikap dia sebagai sahabat gua. Ternyata itu cinta."
Senyumku melebar saat menyebutkan kata terakhir. Pintu lift sudah terbuka, kami belum melangkahkan kaki untuk keluar. Untung saja tidak ada orang yang menunggu untuk masuk.
"Lo suka sama Rere? jujur dah sama gua," tanya Dede. Aku belum sanggup untuk mengatakannya namun suatu saat aku harus mengatakan ini.
"Harus gua akui, gua suka sama dia." Aku melangkahkan kaki keluar lift dan berbelok ke kiri menuju ke pintu utama. Seseorang berlari menuju kepadaku. Langkahnya kecil namun cepat. Rambutnya yang tergerai bergoyang mengikuti langkah kakinya yang sedang berlari. Wajah kemerahannya terlihat dari sini. Wajah cantik yang selalu di pandang oleh banyak Pria. Sempat aku tergoda oleh kemolekan badannya di saat ia berlari, namun aku teringat oleh seseorang, wanita berkacamata yang membuat pikira itu membuyar sudah.
Nafasnya tidak teratur saat ia berada di depanku. Ia begitu mudah mendekat dan membuka lengannya. Lingkaran tangannya memeluk diriku di saat ia memeluk erat tubuhku. Desahan nafasnya terasa saat dadanya kembang-kempis menarik udara.
"Raisa." Aku melepasa ikatan tangannya yang erat. Wajahnya penuh heran melihat diriku melepas pelukannya.
"Kamu ngapain di sini? Ayo pulang."
Ia memegang tanganku yang dingin.
"Udah lama kamu ga ke sini?" tanyaku sambil melepas genggaman tangannya.
Sesaat aku merasa hina menyentuh tangannya.
"Maksudmu?" tanya Raisa.
"Ga ada perlu yang perlu disembunyiin Raisa." Aku memasang senyum palsu termanisku.
Keningnya mengkerut memikirkan apa yang terjadi. Ia sungguh berpura-pura tidak tahu.
Telingaku panas saat menyebutku dengan sebutan sayang.
"Sayang? Aku bukan pacarmu lagi. Aku tahu semuanya Raisa. Kamu milih aku karena aku mirip dengan dia. Kamu bukan mencintaiku, namun dia."
"Dia siapa?" tanya Raisa penuh heran. Aku jijik dengan kepura-puraanya tentangs semua ini.
"Pram, puas kamu? Kamu udah ngehancurin semuanya. Hati dia, hati aku, dan yang paling aku benci, hati Rere." Nadaku meninggi saat menyebut nama wanita berkacamata itu.
Plakkk!!!!
Tamparan keras darinya membuat senyumku melebar. Ia berlari ke lift dan tidak membiarkan kami untuk masuk. Tampak ia menuju ke lantai empat, tempat Pram berada. Aku dan Dede segera menyusulnya. Langkahnya tidak sehebat langkah kami, sebentar saja kami hampir menyusulnya. Di ujung koridor Rere kelihatan berlari menuju kamar Pram. Sekali ia melihat kami yang berlari menyusulnya dari belakang. Ia berbelok menuju ke kamar Pram dan membuka pintu itu dengan tergesa-gesa. Ia masih sempat mengusap air matanya sebelum memegang gagang pintu itu.
Mataku melihat pelukan hangat itu bersanding di atas ranjang pasien. Desahan tangis menggema ke setiap sudut kamar. Pelukan itu sama eratnya seperti pelukan yang terakhir kali aku rasakan. Pria berkulit pucat itu tampak kering akan air mata, senyumnya memancar di balik kehangatan yang di berikan Raisa. Tangis Raisa terus memuncak melampiaskan semua perasaaan yang ada.
"Maafin aku." Berkali-kali ia mengucap kalimat itu walau di dalam sebuah tangis. Bahu Pram dibasahi air mata Raisa yang terus mengalir.
"Maafin aku Pram. Aku salah selama ini. Aku salah," kata Raisa berkali-kali.
"Ga apa-apa, jangan nangis lagi. Semua orang pernah salah Sa. Kamu masih bisa memperbaiki semuanya." Ia mengelus rambutnya. Pram melepaskan peluk Raisa dan memegang wajah Raisa yang kemerah-merahan.
Tatapan Pram tampak meyakinkan.
"Liat aku Sa, aku selalu ada untuk kamu. Selalu ada. Pintu itu selalu terbuka buat kamu. Hanya kamu." Tangis Raisa seketika.
"I love you Pram," kata Raisa pelan.
Pram kembali tersenyum. "Aku juga."
Tidak ada rasa cemburu sedikitpun ketika orang yang sempat aku cintai itu mengatakan cintanya kepada orang lain. Aku senang, aku lega, aku bahagia melihat ia bertemu dengan orang yang benar-benar ada untuknya. Aku juga senang sudah pernah menjadi kepingan memori dalam hati Raisa. Tidak terasa air mata tunggal sudah mengalir dari mataku. Aku rasa aku terlalu mendalami suasana ini. Mereka berdua kembali berpelukan melampiaskan keriunduan yang sempat tertangguhkan. Pram menatapku. Sorot matanya kuat walaupun ada rona hitam di bawah kelopak matanya. Ia mengucapkan Sesuatu yang tidak dapat aku dengar. Aku berusaha mencerna gerakan bibirnya .
"Thanks." Mungkin itulah yang ia ucapkan.
Aku melihat senyumnya begitu lebar. Tidak, aku melihat yang lain. Berupa senyuman, namun berbeda dengan senyuman biasa.
Senyuman hati mungkin (?)
***