You Make My Heart Smile

You Make My Heart Smile
34



Ia tidak bersuara lagi. Kakiku terdiam terpaku di samping Zaki melihat Panji sudah terjun duluan dan menarik Rere. Ia dengan sekuat tenaga menyeret Rere untuk bisa ke tepian. Rere terlihat terkulai lemas terbawa oleh tenaga Panji ke tepian. Rambutnya melayang-layang di air yang tidak begitu tenang. Matanya terkatup oleh ketidaksadaran.


Tangan Zaki membantu panji untuk menaikkan. Aku hanya terdiam melihat mereka yang sedang panik melihat kondisi Rere.


Sama seperti dulu, aku tidak bisa berbuat apa-apa, hatiku bergumam.


Kami mengerumuni Rere yang terkulai lemas dengan bibir yang pucat. Zaki tampak begitu khawatir menampar pipi Rere yang dingin oleh air. Dede memanggil nama Rere berkali-kali berharap ia mendengar panggilan itu.


Panji menerobos kerumunan. Ia kelihatan lebih khawatir dari kami semua. Badannya menggeser Zaki yang ada di sampingnya.


"Re, bangun Re. aku disini." Tangannya menggenggam tangan Rere.


"Ini ga bisa," kata Panji. Aku melangkah berusaha berada disamping Rere. Aku ingin berbuat sesuatu, namun Raisa menahan tanganku ketika aku berusaha melangkah.


"Biarkan Panji," kata Raisa.


Aku mendengar Panji menarik nafas dalam dalam dan langsung menempelkan bibirnya ke bibir Rere. Matanya tampak terpejam tidak ingin melihat apa yang ia lakukan. Rere merespon hentakan nafas yang diberiakan Panji kepadanya setelah beberapa detik kemudian. Batuk yang di keluar Rere melegakan nafasku. Ia batuk beberapa kali diselingi oleh keluarnya air yang tadi masuk ke dalam organ pernafasanya.


"Rangga," ujar Rere sambil menggenggam tangan Panji. Matanya masih sayup-sayup menatap kami. Zaki melebarkan handuknya dan memberikan handuknya kepada Rere yang kedinginan.


"Rangga." Rere menyebut namaku lagi, namun tangannya tetap memegang tangan Panji.


Genggaman Raisa di tanganku bertambah kuat seiring Rere menyebut namaku.


"Re, ini aku Panji." Panji menyentuh kedua pipi Rere. Zaki membantu Rere untuk duduk.


"Kita bawa dia kesana dulu." Panji menggendong Rere ke tempat kami duduk tadi. Tangannya begitu hati-hati meletakkan Rere di kursi. Rere bersandar lemas di kursi itu.


"Aku tenggelam lagi yah?" katanya sambil menadahkan wajahnya ke atas. Rambutnya terlihat berantakan. Tangannya memegangi kedua gagang kursi.


"Re, kamu ga apa-apa kan? Ada yang sakit?" Aku mendekatinya.


"Enggka, tadi kakiku keram waktu di kolam. Aku udah bisa berenang. Aku udah latihan tiap hari di rumah," jawabnya. Nadanya masih terdengar lemas dan datar.


Bibirnya tidak mau terbuka lebar. Aku menghindari memegangi kedua tangannya walaupun sangat ingin rasanya. Sudah lama aku tidak merasakan kelembutan tangannya.


"Suapin aku kerupuk itu," katanya kembali.


Aku mengambil kerupuk yang kira-kira sepanjang jari telunju dan menyuapkan kepadanya. Wanita ini bahkan tidak peduli dengan keadaan ini dan malah mencari kerupuk kesukaannya.


"Harusnya kita ga pergi hari ini!" Zaki mendekati Rere. Suaranya mengejutkan kami semua. Nada suaranya menandakan ia begitu emosi.


"Zak, pelakan suaramu." Dede mengingatkannya.


"Kalau kita ga pergi hari ini, kamu ga bakalan begini." Ia kelihatan emosi sendiri.


"Zaki, udahlah. Aku ga kenapa-kenapa kok."


Zaki terdiam mendengar kalimat Rere. Ia memilih duduk meredam amarahnya.


Dede meminta kami untuk pulang.


"Biar aku yang ngantar Rere," kata Zaki memberesi barang-barang Rere.


"Yaudah, lo jagain Rere yah." Panji menepuk pundak Zaki. Sebelumnya Rere pergi bersama Panji. Ia mengambil tas sandanganya dan langsung pergi.


Entah kenapa jantungku berdetak dua kali lebih cepat ketika mengingat bibir Panji melekat mesra di lengkungan bibir Rere.


Aku bisa melihat cerahnya tatapan Rere dari balik kaca mobil Zaki yang di buka. Senyumnya terkesan di paksakan. Bibirnya masih terlihat pucat. Lambaian tangannya tak sesemangat tatapan terpaksanya.


Adzan magrib telah terdengar sesaat aku sampai dirumah. Suara azdan anak-anak mesjid terdengar merdu walaupun umur mereka masih belia. Teringat olehku ketika pakaian sholat lusuh oleh keringat, ketika sarung disandang bukan dipasang, berlari berebut meminta kesempatan adzan kepada ustadz.


"Ustadz, aku ya. Suara dia jelek." Salah satu dari kami pasti berkata begitu demi sebuah kesempatan.


"Allahuakkbar." Abangku memulai sholat magribnya.


Aku baru saja membuka pintu. Ibu dan ayah sedang berada di masjid sekarang. Aku segera mengambil wudu' untuk melaksanakan sholat.


"Bang," panggilku saat ia memencet tombol TV. Sarung masih terpasang hingga Isya memanggil nanti.


"Apa? Minta martabak lo," jawabnya sambil menyeruput teh.


"Ahhhhh..." desahnya saat menikmati hangatnya teh di cangkir.


"Bisa ga laki-laki mencintai dua orang sekaligus?" tanyaku tiba-tiba. Ia terbatuk-batuk mendengar pertanyaanku yang agak aneh rasanya. Tatapannya aneh kepadaku.


"Bisa, cinta itu ga mandang berapa orang yang kita cintai. Tinggal bagaimana kita nyikapinya. Ada yang terjadi sama lo?" abangku bertanya. Dua channel TV telah di lewati ketika menunggu jawabanku.


"Enggak kok."


"Bohong lu. Lo kira gua ga tau. Rere dan Raisa masalahnya kan?" Tangannya masih memencet remot TV.


kelopak mataku berkedip setiap kali channel TV itu berganti. Ia tidak akan berhenti sampai acara yang ia sukai muncul di layar TV.


"Kayanya aku menyukai Raisa tapi kadang entahlah, gue nyaman aja sama Rere." Aku menghela nafas.


"Perlakukan Raisa layaknya pacarmu, sayangi Rere layaknya sahabatmu. Pada akhirnya lo bakal milih salah satu dari mereka. Sekarang ini lo masih bimbang walaupun Raisa udah jadi pacar lo."


Kalimat abangku membuka mataku. Apa yang ia bilang benar adanya. Aku tidak bisa lepas dari Raisa, namun aku tidak bisa melihat Rere bersama yang lain. Aku bimbang.


***


Di dalam mobil Zaki tatkala ia mengantar Rere pulang.


"*Zak, terima kasih karena udah nyelamatin aku tadi. ini untuk kedua kalinya kamu nyelamatin kamu," kata Rere ketika Zaki mematika mesin mobilnya.


"Iya," jawab Zaki singkat. Zaki rela berbohong karena sakit hatinya ketika melihat Panji lebih dulu menyelamatkan Rere daripada dirinya. Ia bersikeras bahwa ia yang harus menyelamatkan Rere tadi.


Hujan berhembus kencang membuat basah Zaki yang hendak membuka pintu mobilnya. Pohon-pohon di pekarangan rumah Rere bergoyang begitu hebat karena angin yang menggila menerpa. Rere memanggilnya dan memaksanya untuk kembali lagi kerumahnya.


"Kenapa Re? aku harus pulang," tanya Zaki yang mengusap rambutnya yang basah.


"Tadi kamu kok marah sama aku?" Rere menggigit bibir bawahnya. Telapak tangannya mengusap lengannya yang kedinginan. Rambut panjangnya ikut bergoyang seperti pohon di pekarangannya. Matanya tampak bening. Alis matanya Rapi lengkap dengan alis yang lentik alami.


"Kenapa? Karena aku takut kamu terluka." Zaki berbalik arah dan berlari menghadapi terpaan bulir air yang bertubi-tubi terjun dari langit yang hitam. Kilatan petir tampak dari langit selatan. Mulut Rere terbungkam mendengar kalimat Zaki. Matanya memerhatikan langkah lari Zaki yang cepat. Bunyi pintu mobil yang tertutup mengedipkan mata Rere yang bening. Detak jantungnya terdengar cepat ketika berusaha mengolah kalimat yang baru ia dengar. Tatapannya kosong melihat hujan lebat . Seketika ia teringat wajah Rangga. Hujan selalu mengingatkannya akan Rangga*."


***