
*FLASHBACK
Mataku masih sayup-sayup melihat jam dinding yang menunjukkan angka jam lima pagi. Nafasku masih berirama lambat menarik sisa pilek di udara ber-AC. Jariku mengucek kelopak mataku, kali ini aku benar-benar terbangun. Aku melangkah untuk mengambil wudu' dan segera melaksanakan sholat shubuh.
"Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh." Aku menoleh ke kiri menyudahi sholat shubuhku. Hidungku menarik udara dingin yang terasa. Bau sedap makanan datang menusuk dari arah dapur. Bunyi spatula yang bergesekan dengan kuali penggorengan menandakan ibuku sedang memasak sesuatu.
"Rangga, bangunkanlah abang kau tu. Tak pakai sembayang-sembayang dia," kata ibuku. Tangannya dengan semangat mengaduk nasi goreng yang sedang dimasak di kuali. aku menarik nafas menikmati bau sedap nasi goreng buatan ibu.
"Woi, bangun. Ibu manggil kau untuk sholat."
Tanganku menggoncang-goncang badannya. Bunyi dengkuran yang tidak begitu kuat terdengar dari mulutnya yang tengah ternganga. Segaris air liur berbekas di pipi kanan abangku. Badannya penuh keringat karena kamarnya belum terpasang AC.
"Woi amek, bangun. Ibu dah manggil." Aku menepuk pipinya. Ia perlahan-lahan membuka matanya. Wajahnya seperti orang idiot ketika di bangun secara paksa. Mulutnya masih melongo melihatku sedang memakai sarung sholat. Ia duduk sambil menggaruk kepala. Ia menoleh ke jam di layar handphonenya.
"Astofirullah, awak belum sholat." Ia langsung meloncat dari tempat tidurnya.
"Rahmat, kau jemput nasi goreng kalian." Ibuku memanggil abangku. Rahmat adalah namanya yang sebenaranya, sedangkan amek adalah nama kecilnya.
Nasi goreng pagi ini begitu nikmat. Abangku bertambuh sepiring lagi. Perutnya tidak pernah kenyang walaupun di pagi hari sekalipun. Cacing-cacing di perutnya membantu untuk mencerna makanan yang banyak masuk. Pantas saja badannya tetap saja kurus walaupun makan berpiring-piring sekaligus.
Bunyi motor abangku sudah menggelegar di luar rumah. Motor bebek yang ia modif begitu elegan dengan suara knalpot yang khas. Itu semua hasil menongkrong di bengkel-bengkel di dekat sekolahnya. Ayahku tidak ada berkomentar apa-apa tentang motornya yang telah dirusak anaknya menjadi motor balap. "Knalpotnya diganti biar kaya motor balap." jawabnya ketika aku berceloteh tentang motornya yang berisik. Namun motor itu juga yang mengantarkanku ke sekolah. Aku pulang menggunakan bus. Ya mau bagaimana lagi, semua sibuk sehingga tidak ada yang sempat menjemputku.
Kemarin aku baru saja mendaftar di salah satu SMP di kota ini. Sekolah menurut orang-orang disini cukup di faforitkan. Sekolah dengan bacaan "Hindari Narkoba" di gerbang masuknya cukup membuat mata kembali segar dengan tumbuhan hijau yang memenuhi setiap tanah kosong di sekolah. Baru kali ini aku mendapati sekolah dengan tingkat dua. Sebelumnya, aku bersekolah yang tidak ada tangga ke atasnya. Aku naik ke motor maut abangku dan langsung terbang ke sekolahku yang tercinta
"Nama aku Rangga Aditya."
Aku kelihatan gugup di depan kelas. Telapak tanganku mengepal menahan malu di depan kelas. Keringat dingin keluar dari dahi saat aku mengedarkan tatapanku ke sepenjuru kelas. terpaan kipas angin menghapus keringatku dengan cepat. Di hadapanku satu tersedia bangku kosong. Meja di depan bangku itu masih bersih dari coretan pertanda tempat itu belum pernah di tempati sebelumnya**.
***