
Hari sudah semakin sore. Kakiku melangkah ke parkiran untuk mengambil motor tungganganku. Hiruk-pikuk murid yang sedang bergerombol ke parkiran begitu jelas terdengar di telingaku. Hal yang sudah biasa terdengar olehku.
Terlihat oleh mataku Rere berjalan dengan tas ransel miliknya. Ia tampak berjalan perlahan sambil mendengarkan lagu yang ia sukai. Ia begitu santai berjalan dengan tas ranselnya itu. Mungkin, tasnya itu sesak dengan buku-bukunya. Biasalah, kutu buku selalu membawa banyak buku. Pantas saja Rere memakai kacamata karena membaca terlalu banyak buku dengan jarak terlalu dekat.
Di taman sekolah, Raisa sedang bercengkrama dengan teman sekelasnya. Sweater pink miliknya menjadi pelengkapnya saat pergi ke sekolah. Rambut tergerai tersibak angin yang sedang melintas. Aku hanya bisa tersenyum sendiri di dalam hati melihat keindahan itu. Wajahnya yang bak bidadari tak bersayap itu membuat mataku ingin terus menatapnya. Dadaku terasa berdetak kencang saat menatapnya.
Aku kembali menatap ke depan dan melihat Rere sedang berjalan. Mereka berdua sama cantiknya. Aku sekali melihat ke arah Raisa dan melihat lagi ke arah Rere. Mereka memang sama cantiknya.
"Hai wanita berkacamata," kataku sambil melepaskan headset di telinganya.
"Apaann kamu sih." Ia memukul dadaku dengan lembut.
Aku menjaga kecepatan jalanku agar tetap beriringan dengan Rere. ia sesekali melihatku dengan tatapan aneh.
"Ngapain sih ngikutin aku. Heheheh," lanjutnya.
"Siapa yang ngikutin kamu. Aku mau ke parkiran kok. Kamu tuh yang ngikutin aku," balasku.
Kami tertawa sejenak. Murid-murid yang lain terkadang memerhatikan kami berdua seakan mereka iri melihat keserasian kami.
"Enak aja, kamu tuh yang ngikutin aku."
Gubrakkk!!!
Aku terjatuh setelah dihantam oleh badan seseorang. Seseorang yang menabrakku dengan tenangnya kembali melanjutkan jalannya. Aku melihat ia dan kawan-kawannya dengan tenang berjalan seperti tidak ada terjadi apa-apa.
Rere membantuku untuk kembali berdiri. Ia kelihatan emosi. Itu terlihat jelas di wajahku. Wajahnya yang memerah karena marah membuat kakinya bergerak untuk menghampiri orang yang menabrakku tadi.
Tangannya yang kecil itu mengenggam batu dan melemparkannya ke arah orang yang menabrakku tadi. Lemparan yang cukup jelek sehingga tidak mengenai targetnya. Namun targetnya itu menyadari bahwa ia sedang dilempar dari belakang. Ia berbalik arah dan berjalan menghampiri Rere. Tidak terkecuali teman-temannya itu yang selalu mengekornya kemana saja.
Melihat Rere dihampiri dengan Rio dan teman-temannya, aku dengan sigap menariknya melindunginya di belakangku. Tampak wajah Rere yang bergitu marah dengan hal yang menimpaku tadi. Tangannya terasa dingin saat ku genggam. Rere membalas menggenggamku dengan keras. Mungkin dia berusaha menahan emosinya.
"Rio, mau lo apa sih? Bisa ga lo ga gangguin gua?" tanyaku dengan keras.
"Mau gua apa? Mau gua itu lo harus ngejauhin Raisa." jawabnya. "Re, lo bilang tuh sama dia. Jauhin Raisa."
Ia menjelaskan hal dengan Rere. Rere hanya terdiam mendengarnya. Mulutnya terpaku tidak bisa membalas. Ia masih bersembunyi di belakangku sambil menggenggam tanganku dengan keras.
"Kita harus bersaing dengan sehat. Gua tau lo suka sama Raisa. Kalau lo laki, bersaing dengan sehat. Dasar pengecut." Aku menarik tangannya dan membawanya pergi dari sini. Ia masih saja melihat Rio dengan tatapan sinis.
Aku mendengar suara kaki Rio yang berlari ingin menyerangku.
Aku sejenak berhenti. Rere yang menyadari bahwa aku ingin diserang Rio. Ia berbalik ke belakang dan berteriak sembari memelukku dari belakang. Hatiku bergetar saat ia berteriak melindungiku. Pupil mata ini membesar saat eratan pelukan melingkar dengan keras dari belakang.
Aku menoleh ke belakang dan berharap Rere tidak kenapa-napa. Sosok tubuh yang tinggi besar dengan gagahnya menahan serangan Rio. Kulit hitam legamnya begitu sangat sangar dengan gaya bela diri menahan serangan Rio.
Ia meleparkan Rio saat setelah menahan serangan itu. Dengan mudahnya ia menahan serangan itu dengan kedua tangannya yang kekar.
Sejenak aku mengingat kembali sewaktu SMP.
"Woi lo apain nih anak? Berani kroyokan." Telunjuknya menunjuk mereka satu persatu.
Ingatanku merujuk ke kalimatnya dulu. Kata-kata itu teringat kembali yang terakhir kali aku dengar sewaktu ia menolongku sewaktu SMP.
"Udah lama yah gua ga nahan serangan lo lagi." Kata-katanya terdengar keren sambil membersihkan debu yang menempel di telapak tangannya. Ia menatap tajam Rio yang berusaha berdiri dari jatuhnya.
Rere melepas perlahan pelukannya setelah menyadari Dede melindungi kami berdua dari serangan Rio tadi. Dede tersenyum menyindir Rio yang terjatuh di dorong oleh Dede.
"Woi, lo ga ada kapok-kapoknya yah. Lo ga bakalan bisa nyentuh nih anak selagi gua masih ada di sampingnya." Dede menunjukku.
Ada semangat api terlihat dari kedua bola matanya. Semangat persahabatan keluar bagaikan aura yang bisa meruntuhkan halangan yang ada.
Rio hanya bisa terdiam mendengarkan kata-kata Dede barusan. Dengan nafas yang tidak teratur ia menatap tajam ke Dede. Tampak jelas ia tidak mampu melawan balik Dede.
Dede tersenyum dengan kami berdua. Murid-murid lain yang sedari tadi melihat kami, sekarang berangsur-angsur pergi meninggalkan kerumunan. Rere berlari ke arah Dede.
"Kamu keren banget De," kata Rere dengan semangat.
"Wah biasa aja kok. Ini demi kalian kok." Ia mengaruk-garus kepalanya karena tersipu malu. Ia berdiri dengan tegap. Kami hanya sebahunya saja. Kulit kelingnya cerah oleh sinar matahari yang menerpa.
"De, lo selamatin gua dua kali loh. Makasih banget." Tanganku meninju dada Dede. Dadanya terasa empuk oleh otot-otot hasil latihan bela dirinya.
"Selamanya gua bakalan ngelindungin kalian." Ia membalas meninju dadaku.
"Oouuuhhh." Tinjuannya begitu terasa di Dada ku.
Bagaimana tidak? Tangannya dua kali lebih besar dari tanganku.
"Sori bro, lemah banget sih lo." Ia tertawa.
"Bukannya lemah bro, liat aja tangan lo yang segede buah nangka tuh. Pantesan aja ga ada yang berani ngelawan lo di sekolah ini."
Kami bertiga keluar dari gerbang ke sekolah. Ada rasa senang di hati karena telah mempermalukan Rio. Namun ada rasa cemas terasa mengingat akan ada hal yang buruk terjadi nanti. Rio pasti berencana membalasku karena telah berhasil terhindar dari serangannya tadi.
Di rumah Rere ....
Dede memukul kayu pondok belakang rumah Rere. Ia masih saja kesal dengan kejadian tadi. Rere hanya tersenyum melihat kelakukan Dede yang kesal sendiri. Vena juga hanya tertawa sambil menenteng tas laptop kesayangan. Aku bersama Zaki tegak sambil meminum soft drink.
"Ada apa sih antara kamu dan si Rio itu?" Vena bertanya kepadaku. Dede langsung saja menjawab dengan tiba-tiba.
"Rio sialan itu mau mukul Rangga. Soalnya dia ga suka kalau Rangga dekat sama Raisa." Ia duduk dan mengambil segenggam kripik. Kripik itu seakan menimbun segala kekesalan yang ada pada dirinya.
"Ooo soal cinta, ahh ga ngerti aku kalau yang begituan." Vena mengambil kripik di hadapannya.
"Dede tadi keren loh. Sumpah." Rere kegirangan tidak jelas.
Dede kembali tersipu malu dipuji oleh Rere. Cowok mana yang tidak salah tingkah jika dipuji cewek semanis Rere, walaupun itu adalah sahabatnya sendiri. Percakapan mereka bergitu hangat membahas kejadian yang baru saja terjadi di sekolah. Aku menoleh ke kanan. hidung mancung Zaki silau diterpa sinar mentari sore. Alis tebalnya naik pertanda ia sedang berpikir.
"Ooo jadi itu masalahnya tadi." Ia menenggak minumannya.
Rasa soda yang menyengat membuat wajahnya mengecut. Pria yang satu ini memang menyukai minuman ini, apalagi sambil memandang kolam renang Rere yang tenang seperti hatinya.
"Iya, untung aja ada Dede. Kalau enggak, mungkin gua udah mampus di situ." Aku tertawa.
"Terus aja begitu, buat Rio bertingkah bodoh seperti itu. Lama kelamaan Raisa bakalan ga suka sama kelakuakan Rio. Lo bakalan mudah ngambil hati Raisa nantinya." Dokter cinta ini memberikan sarannya kepadaku.
Apa yang dikatakan Zaki ada betulnya. Dengan Rio bertingkah seperti itu, Raisa akan tidak menyukai dengan kelakuannya. Ini kesempatan emasku.
"Lo udah jalan sama dia?" tanya Zaki
"Ga jalan sih. Cuman aku ga sengaja bertemu sama dia waktu di toko buku. Ehh dia malah minta ke café dulu," jawabku. Rasanya canggung untuk membertitahukan hal ini.
"Permulaan yang bagus. Mungkin dia udah menaruh hati ke elo. Ga mungkin kan cewek yang baru lo kenal udah ngajak ke café." Ia memandangku sambil menegak minuman kalengan di tangannya.
Pupil mataku membesar, nafasku menjadi tidak beraturan, otot-otot pipiku perlahan-lahan membentuk garis senyum setelah mendengar pernyataan dari Zaki. Hidungku menjadi kembang-kempis karena senang. Mungkinkan Raisa sudah menaruh hati kepadaku. Aku hanya bisa berharap. Semoga saja yang dikatakan Zaki benar.
Rere tiba-tiba saja menyelinap di antara kami. Lembut tangannya sangat terasa saat ia menaruh tangannya di atas bahuku. Masing-masing tangannya memanjang ke leher kami. Ia menikmati angin yang lewat menerpa kami bertiga. Zaki tersenyum sembari melihat Rere.
"Serius amat pembicaraannya," kata Rere
"Iya dong, ini demi temen lo nih. Soalnya jones sihhh." Ia memencet hidung Rere dengan lembut.
Ternyata tidak hanya aku yang melakukan itu di hidung Rere. Rere membalas Zaki dengan senyuman lembut. Zaki kembali menoleh ke depan melihat kolam renang. Airnya begitu tenang seperti suasana hatiku saat ini.
***