
POV RERE
Pagi tidak begitu cerah dengan segumpal awan kelabu di langit. Rintik gerimis belum juga berhenti dari subuh tadi. Gerimis diiringi dengan angin yang tidak begitu kencang menghadangku yang sedang menuju ke kelas. Hawa dingin terus saja menusuk hingga ke tulangku. Aku mengencangkan sweater seiring dengan hawa dingin yang bisa masuk ke pori-pori kulitku.
Aku menghindari dari genangan air yang ada di lapangan volley. Mungkin genangan air ini sisa dari hujan lebat yang mengguyur kota tengah malam tadi. Sepasang kodok rela bermain air di genangan itu.
Mataku tertuju ke bagian atas sekolah. Seseorang tengah tegak di atas sana. Biasanya Rangga selalu melihat pemandangan kota selalu dari tempat ia tegak sekarang. Aku tau itu bukanlah Rangga walaupun aku kini melihatnya dengan tanpa kacamata, namun wajahnya tampak samar karena tidak ada kacamata yang jadi pelurus penglihatanku.
Hatiku menuntun langkahku ke atas sana. Berharap Rangga juga ada disana. Rasanya sehari tidak bertemu dengannya ada rasa rindu yang mendalam. Candanya, tawanya, hingga hal bodoh yang ia lakukan selalu menjadi hal nomor satu yang ingin aku lihat. Mungkin inikah yang disebut senyuman hati olehnya. Hatiku tersenyum saat melihat senyumannya.
"Rangga?" Aku mengedarkan penglihatanku sesaat sampai di puncak gedung. Suara kicauan burung menjawab sautanku tadi. meja yang berantakan dengan kursi yang di letakkan di atasnya menjadi suasan biasa disini.
Terpal pelindung panas terbentang di atasnya untuk melindungi Rangga saat ia bersantai di tengah teriknya matahari siang.
Orang yang tadi aku lihat sudah pergi. Biasanya tidak seorangpun yang kesini kecuali Rangga dan sahabat-sahabatnya. Aku menarik nafas dalam-dalam menikmati dinginnya udara pagi hari ini. Burung-burung terbang bermain dengan asyiknya mengitari gedung sekolah tempat aku tegak sekarang. dari bawah sana Rangga melambaikan tangan kepadaku.
Memang benar, ia seperti bintang yang paling terang di tengah gelapnya malam. Walaupun ia kelihatan kecil jika di lihat dari sini, namun sinarnya dapat di lihat dengan jelas disini.
Tasnya bergerak ke kiri dan ke kanan saat ia berlari menuju kesini. Kakinya begitu kokoh saat ia berlari. Langkahnya penuh dengan kehati-hatian menghindari genangan air. Rambutnya yang kelihatan panjang ikut bergerak seiring langkahnya saat berlari.
"Hai Re." Ia mengeluarkan senyumnya yang paling manis.
Bibirku mengikuti garis senyuman di wajahnya.
"Hai juga Rangga. Baru pagi kamu udah ngos-ngosan." Aku melihat peluh yang memenuhi keningnya. "Nih, lap dulu keringatmu."
Aku mengeluarkan sehelai tisu dan memberikannya kepadanya.
"Thanks Re. tumben kamu ...." Kata-katanyaku potong dengan menyodorkan roti isi ke dalam mulutnya. Sengaja aku buatkan untuk kami berdua sebelum pergi ke sekolah.
"Hmmm, kamu tau banget yang aku butuhkan," ujarnya denga mulut penuh dengan roti isi.
Aku tertawa saat ia berbicara dengan sedikit tidak jelas.
"Eh malah ketawa, nih kamu juga makan yah." Ia mengambil roti isi di kotak makanan dan membalas menyodorkan roti isi itu ke mulutku. Aku mengunyah roti isi yang ku gigit saat ia menyodorkannya ke mulutku.
Ia menatapku dengan lama. Matanya tampak menatap lurus ke antara dua bola mataku. Di bawah matanya tampak sedikit hitam mungkin saja ia kekurangan tidur. Sebelah matanya memicing bersamaan dengan kepalanya yang dimerengkan saat ia menatapku dengan lama. Kedua alisku menaik heran melihat ia begitu lurus menatapku.
"Apaan sih," kataku sambil menepuk halus pipinya. wajahku kelihatan memerah karena tatapannya itu.
"Ternyata kamu manis juga yah," katanya pelan.
Kata-katanya membuatku tersedak. Aku segera mengambil air minum dari tas.
"Apaan sih. Ngigo aja kamu. Kamu tuh pande banget ngegombal, tapi tetep aja jones." Aku tertawa. Yang aku katakan itu adalah fakta yang tidak dapat dipungkiri dari sosok Rangga.
Aku dapat melihat dengan jelas detail wajahnya dari samping. Hidungnya yang mancung berpadu dengan rahang kokoh yang membentuk garis lurus hingga ke telinga.
"Kalau aku manis. Raisa apa?" tanyaku dengan penasaran.
"Raisa itu cantik, kamu itu manis." Sekali lagi ia membuatku pipiku memerah. Ia dengan santai mengatakan hal itu.
"Emang beda yah manis sama cantik?" Aku menggigit roti isi di tanganku. Roti isi Rangga sudah habis dari tadi.
Ia hanya membutuhkan tiga gigitan untuk menghabiskannya.
"Bedalah. Kamu cari aja sendiri perbedaannya."
Aku mengangguk pelan. Bel masuk berbunyi dan mengakhiri percakapan yang menurutku sangat mengasyikkan.
"Re aku ambil ini yah." Ia mengambil kotak makanan yang masih berisi dua roti isi lagi.
"Rangga!!!" teriakku.
Aku menyelusuri tangga untuk menuruninya. Lagi-lagi aku tidak menginjak anak tangga yang ke tiga belas. Murid-murid sudah bergegas untuk masuk ke kelas, namun masih ada juga yang masih nongkrong di kantin. Beberapa guru sudah keluar dari ruang majelis. Di sana ada Bu Fatma, guru yang paling dikenal dengan guru killer di sekolah. Namun itu hanyalah anggapan mereka saja. Sebenarnya buk Fatma itu baik, dia tidak pernah marah kepadaku saat ia mengajar fisika di kelas. Hanya saja mereka tidak tau cara menyikapi jika berhadapan dengan guru seperti buk Fatma.
Aku melihat kak Panji di podium sekolah. Ia hampir saja menjatuhkan barang bawaannya disaat ia mencoba melambaikan tangannya kepadaku. Pak Suroto, satpam sekolah kami menegurnya agar berhati-hati membawa barangnya. Setelah itu, Kak Panji meneruskan langkahnya menuju ke kelas.
Aku mencium wangi parfum yang pernah aku cium sebelumnya. Wangi yang sama saat aku mencium kertas surat kemarin. Wanginya begitu kuat, mungkin orang ini menghabiskan setengah botol parfum untuk menyemprotkannya. Wangi itu terus bertambah kuat seiring langkahku mendekati ruang olahraga. Aku mencoba membuka pintu ruang olahraga, ternyata ruangan ini tidak di kunci. Seingatku ruangan ini selalu di kunci untuk menghindari murid-murid yang mengambil alat olahraga tanpa sepengentahui guru olahraga.
Ruangan ini seperti taman bunga karena dipenuhi oleh wangi yang semerbak. Aku mengidupkan lampu ruangan. Lantai ini di selimuti oleh pasir dan debu. Di dinding sebelah kanan terpaku berbagai medali para juara lomba bidang olahraga dan beberapa piala terletak di atas meja. Mataku bergerak keatas. semua jenis bola terletak di atas lemari. Aku membuka lemari coklat di hadapanku. Pemukul kasti dan net volley tampak sudah berdebu di dalam sana. Mataku kembali mengedarkan penglihatannya
Wangi itu sebuah pertanda. Jangan pernah lupa!
Aku mengingat kalimat itu. Aku yakin Ini adalah salah satu tanda yang di tinggalkan si penulis surat kepadaku.
Sebuah tanda panah yang panjang tercoret di papan tulis yang tidak begitu besar. Di papan tulis itu juga ada beberapa coretan strategi futsal. Mungkin saja ini strategi Zaki sebagai kapten futsal sekolah. Di samping strategi futsal juga ada strategi basket yang di buat oleh Rio. Zaki dan Rio memang berjasa dalam bidang olahraga. Mereka telah banyak membawa gelar untuk sekolah.
Tanda panah itu tertuju ke sebuah kalimat. Kalimat itu tertulis begitu tebal dengan spidol berwarna hitam. Tidak satupun huruf dalam kalimat itu yang menggunakan huruf kecil. Di samping kalimat itu terdapat gambar kucing. Ia menggambar kucing itu dengan buruk. Kepala yang besar tidak imbang dengan badannya yang terlalu kecil. Pasti dia penggambar yang buruk
Temukan tanda selanjutnya. Aku suka yang kamu suka.
Aku membaca kalimat itu kembali. Ia menyatakan bahwa ia menyukai apa yang aku suka. Aku memang menyukai kucing. Cimoy, kucing montok kesayanganku, yang kadang aku bawa tidur saking sayangnya. Berarti dia mengentahui apa yang aku suka dan tidak dipungkiri lagi bahwa dia menyukai kucing.
Aku keluar dari ruangan berdebu itu dan melangkah menuju ke kelas. Aku membiarkan semua itu berlalu. Tanda-tanda itu pasti akan datang seiring bertambahnya waktu. Aku hanya menunggunya datang dan mengungkap siapa yang di balik semua ini.
Seseorang datang dari balik dinding dan melihat Rere berlari menuju ke kelas. bibirnya membentuk garis senyum sambil berkata. "Temukan semua tandaku Re."
***