You Make My Heart Smile

You Make My Heart Smile
47



*sudut pandang Zaki


Lapangan basket riuh dengan pemain basket sekolah yang sedang berlatih untuk pertandingan bulan depan. Saya agak risik dengan mereka. Mereka menjadi pesaing kami dalam siapa yang paling banyak menyumbangkan prestasi. Namun tim futsal kami selalu menang dalam persaingan itu. Saya duduk duduk di kursi panjang yang sudah sedikit berkarat ini. Pandangan saya beralih ke pinggul-pinggul sexy para anggota cheers. Raisa ada disana sebagai kapten dari mereka. Tentu saja ia yang paling cantik di antara semua anggota cheers.


Orang yang saya cari sedang meliuk-liuk mendribble bola. Lawannya terkecoh oleh kelincahannya. Kecohan gua lebih bagus dari itu, ujar saya dalam hati. Kami sama-sama kapten di bidang yang kami kuasai. Mereka telah selesai dari sesi latihannya. Tampak keringat jatuh bebas dari pori-pori mereka. Orang yang saya cari melangkah ke arah saya. Badannya yang tinggi berisi memang di persiapkan untuk adu fisik di pertandingan basket. Wajahnya yang tampan menjadi bahan omongan diantara banyak siswi disini.


"Hei, tumben lo kesini. Gua denger lo ada masalah sama mereka." Rio menyapa duluan. Sikapnya memang berubah. Dulu ia selalu anti dengan orang yang berhubungan dengan Rangga, sekarang ia begitu ramah. Ia menyambut baik minuman dingin yang saya beri.


"Ya lo bener. Dede pasti cerita banyak ke elo." jawabku.


"Benar." Ia duduk di samping saya. "Kami berteman baik semenjak dia ngebantu gua ngelawan anak SMK yang sering ngegangguin sekolah kita. Kalau ga ada dia, gua udah mati kena keroyok." katanya sambil tertawa kecil.


"Rio, lu tau Pram?" tanya saya tanpa memakai basa-basi.


"Pram? Siapa itu?" tanya Rio kembali. Wajahnya tampak heran dengan pertanyaan saya barusan.


"Oh iya gua ingat, waktu itu gua ada beberapa kali pernah nyebetun yang namanya Pram. Dia nyebutin kalau Pram itu mantan dia dulu. Katanya sih pernah jadi anggota bandnya si Panji yang sok guanteng itu." Ia mengepal tangannya ketika menyebut nama Panji.


Maklum saja ia, semua pria di sekolah tidak menyukai Panji karena kharismanya yang menarik perhatian semua wanita. Anggota band? Iya gua tau gua harus kemana.


"Oh gitu ya. Thanks banget yah. Ni buat lo lagi." Saya memberikan satu botol minuman dingin lagi kepadanya.


Aku berlari dengan cepat ke sebuah tempat. Rio tampak keheranan melihatku yang tiba-tiba pergi.


"Zak!." panggilnya lagi.


"Raisa itu licik. Rangga harus tau itu. Itu sebabnya gua ngehindar," kata Rio di tempat duduk itu. Pandangannya begitu serius menyiratkan sebuah pesan yang mendalam.


"Gua tau." saya mengangguk dan langsung meninggalkannya.


"UKS." Saya membaca papan nama ruangan yang ada di atas pintu masuk ruangan itu. Sudah lama saya tidak kesini.


Terakhir kali saya kesini ketika badan saya yang tidak bisa dibawa kompromi sewaktu melaksanakan upacara hari senin. Badan saya yang lemas di gotong banyak orang ke tempat ini. Saya ingat bahwa seorang wanita memberikan Obat demam serta air putih hangat untuk memulihkan keadaan saya. Jilbabnya tampak rapi dengan pakaian khusus anak PMR. Tangannya mengelus kepala saya yang hangat karena demam.


"Tania," panggil saya dari luar.


"Assalamualaikum." ucap saya. Ia membalas salam saya barusan. Saya tahu bahwa dia satu-satunya penunggu ruangan ini. Kadang beberapa anggotanya membantu para siswa yang sakit.


"Zaki itu kamu?" jawabnya di dalam.


Ia masih mengenali suaraku walaupun aku sudah lama tidak berkomunikasi dengannya.


"Silahkan diminum tehnya." Tanganya membawa secangkir teh.


"Oh ga perlu repot-repot Nia. Aku bentar kok."


Mau tidak mau saya harus menerima tawarannya. Sifat lembutnya masih dipertahankan hingga sekarang. Aku tersenyum kecil melihat sikapnya yang lembut lagi sopan. Ia tampak cantik dengan jilbab yang selalu ia pakai.


"Aku ga lama kok. Cuman mau nanya sebentar," kata saya setelah menyeruput teh hangat. Ia duduk di atas tempat tidur sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Sudah lama tidak berdua dengannya.


"Nanya apa? Tumben kamu kesini." ada sedikit lidah sunda yang terasa dari kata-katanya.


"Ini soal band Panji," kata saya. Ia menaikkan wajahnya pertanda kalimatku terdengar begitu menarik. Wanita yang satu ini sangat menyukai lagu-lagu yang dibawakan oleh band Panji.


Wanita yang selalu di baris pertama jika Panji tampil di sekolah.


"Kamu mau ngajak aku nonton konsernya kan?" kata-katanya terdengar begitu riang.


"Bukan, ini soal salah satu personilnya." Saya menyeruput kembali teh hangat di cangkir itu.


"Bukan yang itu. Tapi Pram kamu tau dia?" Saya menahan tangannya yang berusaha menghitung personil band Panji.


"Pram? anggota tak terlihat."


"Maksud mu?"


"Tidak ada yang tau siapa pastinya dia. Cuman dia memang anggota bandnya kak Panji. Kata kak Panji sih dia memilih bermain di belakang panggung, bukan di atas panggung. Saya ga tau maksudnya zak."


Tangannya merapikan posisi jilbab yang ia pakaikan. Ia meniup ke atas agar letak jilbab bagian atas tetap tegang dan rapi.


"Selain itu, kamu tau apa lagi tentang dia?" tanya saya lagi. Saya belum puas dengan jawabannya tadi.


"Aku hanya tau itu Zaki. Kamu juga nge-fans yah pake nanya-nanya segala." Jarinya mencubit hidung mancung saya.


Tidak sakit, tetapi lembut. Sudah lama saya tidak merasakannya. Saya tidak berniat membalasnya, namun saya sadar, saya bukan siapa-siapanya lagi.


Saya menghabiskan secangkir teh hangat yang ia berikan tadi. Teh itu memang tidak cukup untuk menghilangkan rasa dahaga saya, namun itu menghilangkan seluruh penat yang saya rasakan. Entah mantra apa yang Tania masukkan ke dalam teh itu. Saya berpamitan pulang dan mengucapkan salam kembali. Saya sudah terbiasa mengucapkan salam kepadanya, ia yang mengajarkan kepada saya akan hal itu.


Sudah beberapa bulan ini saya mencari informasi tentang Pram. Kemisteriusannya membuat saya semakin semangat untuk mengungkapnya. Raisa dan Rangga semakin mesra berdua. Rere dan Panji tampak tidak semesra sewaktu Panji masih di sekolah. Mungkin Panji lebih banyak menghabiskan waktunya di Universitas tempat ia menimba ilmu.


"Terlalu banyak alasan ketika aku minta ketemuan," kata Rere sewaktu ia curhat di pesan singkat.


Ia selalu meminta saya untuk kembali berkumpul bersama, namun saya selalu menolaknya. Saya tahu kapan harus kembali. Selain itu Rangga mash tidak bisa menerima saya disana.


Seluruh informasi tentang ia saya telusuri, bahkan dari berbagai sumber. Saya merasa seperti detektif di film-film Hollywood. Saya meminta bantuan kepada Vena untuk menyadap ponsel Raisa demi menggali informasi. Vena lah orang kedua yang masih menaruh kepercayaan kepada saya selain Rere. Hal yang demikian merupakan pekerjaan mudah olehnya. Otak berprosesor tinggi miliknya bisa meretas apapun.


"Yang aku dapat cuman ini Zak." Vena menunjukkan hasil retasannya.


"Wow, memang hebat kamu Ven. Kok bisa?" Saya menggeser ke bawah hasil retasannya.


"Kata Rangga handphonenya Raisa selalu tersambung ke WIFI sekolah. Yaaa tinggal aku sambungin aja ke WIFI sekolah. Sangat mudah masuk ke sistemnya," jawab Vena.


Ia menyelipkan rambut pendeknya ke belakang telinga.


"Raisa, orang kaya tapi numpang WIFI ke sekolah. Hahahaha." Saya tertawa. Gadis dingin itu hanya tersenyum kecil, tidak terlalu suka berekspresi.


"Kok kamu kepo banget sama Raisa?" ia menaikkan sebelah alisnya. Kasih tau ga yah? ujar saya dalam hati. Sepertinya Vena orang yang selalu menjaga rahasia. Dia tidak terlalu banyak bicara.


"Rangga bukanlah pacar satu-satunya Raisa. Masih ada satu lagi. Dari dulu aku memang curiga dengan Raisa yang terlalu mudah jatuh ke tangan Rangga. Kemarin aku denger percakapan Panji dengan Raisa di Labor, truss......"


Saya menceritakan apa yang dengar sewaktu itu. Ia mengkerutkan dahinya untuk berpikir. Matanya tertuju ke layar laptop yang ada di depan saya.


"Rere menyukai Rangga? dan Raisa memaksa Panji untuk misahin mereka berdua? ini ga bisa dibiarin Zak." Tangannya mengepal marah. Vena tidak ingin sahabatnya dipermainkan oleh orang lain.


"Dan masalah Pram itu, Panji terpaksa melakukannya demi pengobatan Pram, anggota bandnya dulu. Kalau tidak, Raisa bakal nyabut biaya pengobatannya."


"Berarti Rangga bukanlah satu-satunya pacar Raisa, masih ada Pram. Rangga seperti pelarian Raisa karena alasan tertentu." Vena menyimpulkan.


Dia memang pandai dalam memecahkan masalah. Begitu brillian dan jenius. Saya menutup laptop miliknya. Saya tidak mendapatkan apa-apa. Saya beranjak pergi dari sana.


"Zak, kapan kita ngumpul lagi?


"Suatu hari nanti." Saya pergi meninggalkannya sendirian. Mata saya melihat ke atas. Di sana Ia melihatku dengan mata kebenciannya. Saya tidak keberatan dengan itu. Saya memang salah dan saya patut untuk mendapatkannya. Kami saling beradu pandangan. Sesorang memanggilnya tepat di belakangnya. Itulah Raisa yang penuh kelicikan dan Rangga yang bodoh terlalu terlena akan yang bernama cinta.


***