You Make My Heart Smile

You Make My Heart Smile
44



Buk Rina memanggil namaku untuk membagikan kertas ulangan minggu lalu. Sudah tiga tahun aku diajar olehnya. Takdir menyatakan aku akan diajar olehnya hingga sampai ke kelas tiga. Teman-teman gilaku di belakang kelas sudah mencemeehkanku tentang hasil ulangan yang akan aku dapat.


Aku beranjak dari kursiku. Sedikit berdecit ketika aku meninggalkanya karena salah satu bagian kursi itu sudah tidak bagus lagi.


"Semangat bro, ga jauh beda lah," kata salah satu temanku sambil menunjukkan hasil ulangannya yang mendapatkan nilai lima puluh.


"Huuh." Aku menghela nafas ketika melangkahkan kaki. Buk Rina duduk dengan santainya sambil melihat nilaiku.


Sedikit senyum terpancar dari wajah tuanya. Wajahnya tua dari umurnya. Mungkin karena terlalu sering memikirkan rumus-rumus gila di buku cetak matematika.


Di papan tulis itu penuh dengan pembahasan ulangan minggu kemarin. Bukan Bu Rina namanya kalau tidak menuliskan semua rumus gilanya di papan tulis. Papan tulis persegi panjang itu penuh dengan rumus-rumus yang buk Rina pikirkan. Akar, pangkat, bagi, kali, Trigonometri, atau sebagainya bagaikan makanan sehari-hari baginya. Tanpa canggung ia menuliskan dengan cekatan di papan tulis sampai kami mengerti semua tentang apa yang ia tuliskan.


Aku tenang menerima nilai kali ini. Mungkin ini adalah nilai rendahku yang ke puluhan kali di pelajaran matematika. Anak-anak cewek di bangku bagian depan mengutuk-ngutuk dengan apa yang ia dapatkan. Menyesal karena salah soal, mengutuk karena lupa rumus, atapun menyalahkan teman sebelahnya yang memberikan jawaban yang salah. Padahal mereka sudah mendapatka nilai di atas standar yang di tetapkan sekolah, namun mereka tetap saja tidak menerimanya.


"Udahlah, ga bersyukur amat sih lo pada. Kami yang Cuma dapet setengah dari nilai lo ga sedih-sedih banget," kata Arya yang menguping pembicaraan para anak cewek.


Bu Rina menurunkan wajahnya. Ia melihatku melalui atas kacamatanya. Mata bulat beralis tebal dilukis itu menatap lurus kepadaku. Jilbabnya terlihat rapi seperti guru-guru muslimah lainnya. Tatapan itu sudah biasa aku lihat ketika mengambil kertas ulangan yang berisi nilai-nilai yang akan diolah sebagai nilai rapor. Alisnya semakin ke sudut semakin lancip. Sebelah alisnya naik memerhatikanku yang sedang gugup ini.


"Gimana bu? Kan udah Rangga bilang," kataku.


"Nyontek dari mana sih kamu?" tanya buk Rina dengan curiga. Inilah salah satu pertanyaan yang sering memanaskan telingaku.


"Hehehe Rangga ga nyontek. Ini kerja Rangga sendiri. Gimana sih Bu, kalau nilai rendah di marahin, nilai tinggi malah di bilang nyontek," kataku lagi sambil tertawa.


"Eh kamu kepedean banget nilai kamu tinggi," katanya. Seisi kelas tertawa, terutama anak laki-laki yang sedang bergerombol di belakang. Aku iku tertawa untuk menahan malu, padahal akulah yang sedang ditertawakan.


"Lebih banyak belajar lagi. Kamukan udah kelas tiga. Bentar lagi ujian semester ganjil. Nah, ga lama lagi kamu bakal Ujian Nasional."


"Yaudah ini punya kamu." Aku melihat nilai enam di tangan buk Rina. Ah udah biasa ni mah, ga usah dipikir pusing. Aku mengambil kertas itu dari tangannya. Tanpa melihat lagi aku menyimpan nilai itu di kantongku. Di belakang pasti mereka saling berebut melihat nilai rendahku ini.


"Gimana bro?" tanya Arya. "Biasalah, kaya ga tau gua aja."


Aku memberikan kertas itu ketangannya.


"Biasa gimana sih? ini nilai Sembilan ****. Ga bisa baca angka sih?" Ia membalikkan angka enam yang aku lihat.


Rupanya aku salah melihat angka tadi. Seharusnya itu adalah angka sembilan, bukan angka enam.


"Alhamdulillah, rupanya gua hoki kali ini. hahaha."


Teman-temanku mengerumuniku untuk merasakannya. Salah satu dari mereka bahkan menggesek kulit kepalaku dengan tinjunya. Biasalah kalau anak laki-laki memang begini.


"Thanks honey." Tanganku mengetik pesan singkat ke Rere atas pelajaran matematika yang ia berikan dua hari yang lalu.


Bu Rina menutup jam pelajarannya. Bel pulang sekolah berbunyi. Bunyi yang paling aku tunggu selain suara Raisa yang memangilku dari balik jendela kelas. Aku menoleh ke jendela yang mengarah ke koridor sekolah. Biasanya aku melihat Raisa berlari menuju ke kelasku. Berlari dengan tujuan menanyakan bagaimana pelajaraanku hari ini, apakah lancar atau tidak?


Tidak salah lagi itu pasti dia. Seorang wanita tegak dengan senyuman termanisnya. Tapi ia bukanlah Raisa. Ia adalah wanita berkacamata itu. Panggilannya beriringan dengan telunjuk memperbaiki letak kacamatanya. Lesung pipitnya yang dalam muncul bersamaan dengan sebuah senyum di bibirnya. Matanya tampak indah di balik kacamata bergagang hitam itu. Mungkin kacamata itu adalah kacamata ke seratus yang ia miliki.


"Tumben ke sini." Aku mengencangkan tali sandang pada tasku.


"Tumben? Bukannya aku setiap hari kesini waktu dulu. Semenjak kamu sama ratu sekolah itu, dia yang selalu nyariin kamu sepulang sekolah," jawabnya.


Langkah kami menuju ke gerbang sekolah. Pak Suroto telah tegak di depan posnya. Sebatang rokok ia selipkan di bibirnya. Pemandangan yang biasa jika saat-saat pulang sekolah.


"Ga sama Panji?" tanyaku. Selama ini ia selalu bersama Panji sewaktu pulang. Namun kali ini berbeda. Hal yang menuntunku untuk menanyakannya.


"Dia kan udah tamat tau." Ancang- ancangnya seperti ingin menyubitku.


"Yaudah pulang sama aku aja." Aku menawarinya untuk ikut menunggangi motorku. Ia tampak berpikir sebentar. Matanya menatapku.


"Tumben ngajak pulang aku." Senyumnya melebar memperlihatkan gigi kelinci di depannya. jarinya saling mengisi celah pada sela-sela jemarinya. Sepertinya ia ingin membalas.


"Kan aku sering ngajak pulang bareng. Semenjak sama Panji, ya ga pernah lagi."


Langkahnya terhenti sejenak. Matanya lurus menatap ke depan.


"Ga usah, dia lebih butuh daripada aku." Ia menunjuk ke wanita di taman dengan kesendiriannya.


Tangannya melipat menunggu seseorang. Kaki kanannya menjorok ke belakang tampak tenang memijak bumi. Rambutnya yang panjang berkilau di balik warna hitamnya. Aku sudah bisa menebaknya.


"Raisa!" panggilku dari sini.


Rere sudah pergi di lima detik yang lalu menyambut tangan Zaki yang telak menunggu di seberang jalan.


Jalan kami tak lagi seiring.


"Siap?" tanyaku di atas motorku. Bunyi "klik" pada ikatan helm Raisa telah berbunyi.


"Tarik bang," jawabnya.


Aku menarik gas motor melaju bersama pelukan Raisa dari belakang.


Atap rumah Raisa telah tampak dari kejauhan. Rumahnya tinggal satu belokan lagi dari sini. Bang supri sudah tegak dengan tegap menunggu kepulangan Raisa. Sapaannya tampak ramah dibandingkan dengan semua sapaannya yang sebelumnya. Raisa melemparkan senyumnya ke security berbadan tegap itu.


"Stop di sini dulu Rangga," pintanya tiba-tiba membuatku dengan cepat menginjak pedal rem belakang. Raisa agak condong ke depan karena aku mengerem. Raisa membuka helmnya dan langsung memberikannya kepadaku. Gerakannya terkesan terburu-buru seperti ada sesuatu yang ingin ia kejar.


Di depan rumahnya terparkir mobil hitam mengkilau. Biasanya mobil itu tidak pernah aku lihat di rumah Raisa. Raisa berlari dengan kencang menjangkau mobil di depan rumahnya. Seseorang baru saja keluar dari mobil itu. Ia membuka tangannya mengarah ke Raisa. Rambutnya memang pendek namun masih bisa disisir rapi ke belakang. Baju kameja lengan pendek membungkus badan pria lima puluhan itu. Sepatu pantofel hitamnya member kesan elegan. Senyumnya sama dengan Raisa. wajahnya sangat identik dengan Raias. Mereka berpelukan. Tampak erat dan terasa hangat. Wajah Raisa menempel di dada pria itu.


Tangan Raisa menujukku. Senyum pria itu terlempar ke arahku. Tanganya memintaku untuk mendekat kesana. Aku membuka helm dan berjalan menghampirinya.


"Om," sapaku. Raut wajahnya berubah terlalu fokus memerhatikan wajahku. Keningnya mengkerut karena sesuatu yang terpikirkan. Sapaanku belum ia balas. Aku jadi bingung sendiri.


Ia melihatku dengan seksama. Sorot matanya begitu serius memerhatikanku. Aku hanya bisa melihat keheranan tingkah pria tegap di hadapanku.


"Kamu udah sembuh?" ujar Pria itu. Matanya tampak fokus memperhatikan setiap detail wajahku.


Tangan Raisa mencubit di sampingnya itu.


"Oh bukan, ini yang namanya Rangga. Salam kenal. Saya papanya Rere."


Kamu udah sembuh? Kalimat itu terngiang-ngiang di telingaku. Aku masih mempertahankan senyumku. Aku tersadar bahwa papa Rere sudah mengulurkan tangannya untuk bersalam. Seharusnya aku yang mengulurkan tangan duluan. Aku membalas uluran salamnya dan menyentuhka telungkup tangannya ke keningku. Sebuah budaya yang selalu di ajarkan di dalam rumah.


"Ayo kita masuk." Ia menyentuh pundakku.


Aku masih memikirkan kalimatnya tadi. Ia sama sekali tidak pernah bertemu denganku. Baru kali inilah kami berjumpa.


Kenapa ia berkata seperti itu? siapa yang sembuh?


Aku tidak pernah sakit selama ini. Dulu Felix, abang Rere menyebut diriku dengan nama Pram. Sekarang Papa Rere yang berkata yang tidak aku ketahui.


Kamu sudah sembuh? kata itu terngiang-ngiang ketika kami bersantap ria di ruang makan.


***