You Make My Heart Smile

You Make My Heart Smile
5



Bel itu akhirnya terngiang di telingaku. Begitu keras karena toa bel kami berada tepat di samping kelas. Suasana riuh oleh murid-murid yang memasukkan peralatan sekolahnya ke dalam tas. Mereka bergitu bahagia setelah mendengar bel. Tak satupun dari mereka yang bersedih dengan bel itu. Mungkin sebagian orang masih menginginkan untuk melanjutkan pelajaran.


Aku mulai mengemasi barang-barang yang masih berserakan di dalam meja. Untung saja Buk Ratih tidak memberikan PR ataupun tugas lainnya kepada kami. Mengingat besok masih ada jam pelajarannya di kelas kami. Waktu yang cukup singkat untuk mengerjakan tugas, apalagi tugas yang di berikan bejibun banyaknya.


Aku berjalan di koridor sekolah. Mataku mencari-cari orang yang selaluku temui seusai jam sekolah berakhir. Aku menjinjit mencari batang hidungnya di kerumunan murid-murid yang berjalan menuju ke gerbang sekolah. Tubuhnya yang mungil akan susah kelihatan disini.


Ada tangan yang melambai di antara di kerumunan itu. Gadis berkacamata berkulit bening itu mengeluarkan garis-garis senyumnya yang paling manis. Ia berkali-kali dihadang oleh murid lain yang ingin menuju ke gerbang. Walaupun begitu, ia tetap mempertahankan senyumnya hingga sampai di hadapanku saat ini.


"Aku mencarimu dari tadi loh," kataku sambil mengambil bando ungunya.


Rambutnya yang indah terlepas dari bando faforitnya itu. Ia sesekali berusaha mengambil bandonya. Wajahnya yang cemberut tapi manis membuat tangan ini kembali memasang bandonya ke rambut indahnya itu.


"Nah gitu dong. Jangan terlalu. Ntar manisnya hilang loh."


"Bisa aja kamu. Lain kali jangan ngambil bandoku sembarangan yah ... Hahaha," tawanya terkikik.


Lesatan cubitan monsternya tertancap tepat di perutku. Lumayan sakit memang, tapi terobati saat melihat wajah imutnya itu.


"Awwww!"


"Lain kali panggil namaku tiga kali dong. Pasti kamu nemuin aku."


Ia melanjutkan langkah kecilnya.


"Emang kamu Bento Iwan Fals bisa di panggil tiga kali segala," kataku sambil memainkan bahunya ke kiri dan ke kanan. Tubuhnya begitu ringan digerakkan.


"Kamu bawa motor?" tanyaku masih sambil memainkan bahunya. Ia hanya menggeleng.


"Aku diantar papa tadi," tambahnya. "Nunggu di taman aja yuk."


Ia berlari menuju taman sekolah. Lariannya membuat tas miliknya bergerak ke atas dan ke bawah menghantam punggungnya. gaya larinya begitu lucu. Seperti anak kecil yang sedang berlari.


Di luar sekolah sudah banyak orang tua yang sedang menunggu disana. Ada yang memakai motor, ada pula yang duduk bersantai di dalam mobilnya. Ibu-ibu yang di dekat pos satpam sedang asyik mengobrol. Dengan penuh tawa mereka semangat membahas bahan pembicaraannya.


Aku mengingat empat tahun yang lalu, bahkan lima tahun yang lalu. Aku menunggu di taman sekolah dengan lugunya. Memerhatikan setiap orang yang di dekatku, mengingat perkataan mamaku agar tidak terlalu dekat dengan orang asing.


Aku menunggu orangtuaku sampai bosan. Papaku kadang menjemputku sangat lama. Mungkin karena urusan kantor yang sangat sulit untuk ia tinggalkan. Aku menunggunya tepat seperti Rere menunggu papanya di taman sekolah. Menunggu untuk di jemput dan menikmati indahnya rumah ketika sampai.


Brukkk!


Suara itu begitu keras terdengar di telingaku. Batu kecil menghambat lari Rere. Aku lihat Rere terjatuh di permukaan Plavin Blox. Permukaan yang cukup membuat kulit terkelupas parah jika terjatuh.


Aku dengan cepat menghampirinya. Rere yang lari dengan penuh senyum, sekarang wajahnya menunjukkan ekspresi kesakitan. Aku memandunya ke tempat duduk di taman sekolah.


"Duuh ... kan berdarah," rintihnya kepadaku.


Aku menghiraukan rintihannya. Aku tetap memandunya ke tempat duduk yang nyaman. Ia terus merintih. Tangannya yang kecil memegang bahuku dengan keras karena menahan sakit.


Ia duduk dengan perlahan. Rok panjangnya kotor terkena pasir setelah bergesekan dengan Plavin Blox tadi. Rere menganggkat roknya perlahan setinggi lutut dengan hati-hati. Ia tak ingin lukanya terkena kain roknya. Pasti sakit sekali rasanya.


Aku menganggkat kaki Rere untuk diluruskan. Matanya berkaca-kaca menahan tangis. Mungkin Rere baru sekali ini merasakan luka seperti ini. Lutut bersihnya tak seperti lutut laki-laki pada umumnya, yang selalu dipenuhi bekas luka masa kecilnya. Tapi, lutut bersih Rere kini dihiasi luka menganga.


Aku berlari ke UKS untuk mengambil kotak P3K. Aku mencari-carinya di dalam UKS yang ukurannya tidak cukup besar. Setelah mendapatkannya, aku bergegas kembali ke taman sekolah. Terlihat Rere masih melihat-lihat lukanya.


"Nah kamu tahan yaah. Ga pedih kok." Aku meneteskan obat merah ke lukanya.


"Aduh ... Ga pedih gimana. Pedih nih!" Tangannya menahan tanganku yang sedang meneteskan obat merah.


"Udah, kok. Tinggal ditutup aja lukanya."


Kain penutup luka itu menutup luka Rere. Darah yang tadi keluar, kini sudah tidak ada lagi yang keluar.


"Makanya, kalo jalan pake mata. Untung aja lukanya ga terlalu parah ni." Aku menyubit betis Rere.


"Iya-iya. Makasih yah udah ngobatin lukanya."


Senyumnya kembali terpancar. Aku hanya mengangguk untuk menjawab pujiannya. Aku melihat ke tempat kerumunan orang tua yang sedang menunggu anaknya. Namun, papa Rere belum menunjukkan batang hidungnya. Banyak mobil yang serupa dengan mobil papanya Rere, tapi aku yakin yang itu bukanlah miliknya. Biasanya papa Rere selalu menunggu di pohon ketapang nan rindang itu.


Canda tawa yang pecah di antara aku hilang sementara. Gadis itu menghampiri kami. Rambut hitam berkilaunya tergerai indah seiring langkah kakinya menuju hadapan kami. kelopak matanya terkedip memperlihatkan bulu mata lentiknya. Tubuhnya yang tinggi dan berisi memberi kesan sexy terhadap dirinya.


"Eh Rangga, ngapain disini?" tanya Raisa dengan senyum kecil. Belum sempat aku menjawab, ia melontarkan kalimatnya yang selanjutnya. "Tunggu dulu, ini pacarmu. So sweet banget."


"Oh bukan. Dia bukan ....," jawab kami dengan bersamaan.


Wajah Rere memerah setelah mendengar kalimat Raisa tadi. Ia kelihatan tegang memandang wajahku. 


"Dia temanku. Kenalin namanya Rere," kataku kepada Raisa.


"Aku Raisa. Oh iya, kamu yang suka nulis di mading kan. Aku suka banget cerpen-cerpen kamu. Aku tunggu cerpen selanjutnya yaa." Rere memberikan tangannya untuk berkenalan dengan Rere.


"Oh ya? Terima kasih banget udah suka dengan cerpen aku di mading. Besok-besok aku nempelin karya yang terbaru. Jangan lupa dibaca." Mata sipit Rere memicing senang menjawabnya.


Aku senang perkenalan mereka berdua berlangsung dengan hangat. Mereka berbincang dengat hangatnya. Ya tentu saja membahas apa yang baru saja terjadi. Mereka bergitu akrab seperti sudah mengenal satu sama lain sebelumnya.


Mataku tertuju ke mobil hitam yang berada di bawah pohon.


"Rere tuh," tunjukku ke mobil Papa Rere.


Aku memandunya hingga masuk ke mobil.


"Rangga, kamu kok bisa kenal dengan kapten Cheers?" tanyanya Rere di mobil.


"Ya bisa lah ... aku kenal dia waktu aku terlambat dua hari yang lalu."


"Kamu ga ada apa-apa dengan dia kan? Kamu tau yang lagi deket dengan dia siapa. Dia ga suka kalau Raisa deket sama cowok lain. Kamu ingatkan apa yang terjadi antara kamu dengan Rio dulu," katanya dengan pajang lebar.


Matanya menunjukkan ekspresi khawatir. "Masa lalu biarlah tetap masa lalu" aku memukul lukanya dengan telunjukku.


Aku segera menutup pintu mobilnya dan segera pergi.


***