
Aku memegang minuman dingin yang aku beli. Lelehan es sudah memperbanyak jumlah air di dalam gelas plastik itu. Rasanya tidak semanis tadi karena sudah bercampur dengan es yang telah mencair. Dede duduk di atas meja sambil memakan Roti isi coklat faforitnya. Ia membelinya dari kantin tadi. Sebenarnya kami bertiga, hanya saja Zaki sudah turun duluan untuk membuat PR yang belum ia kerjakan dirumah. Semua lelaki sama saja, mau pintar ataupun tidak, sama-sama malas membuat PR.
Angin di atas berhembus kencang. Terpal pelindung panas yang aku sediakan bergoncang dihantam angin Pagi yang kencang. Dede berjalan ke tepi untuk menikmati angin kencang yang tengah lewat. Teriakan yang ia keluarkan pertanda ia betul-betul menikmatinya. Ia berteriak dengan segigit roti di mulutnya.
"Bro, gua tau kenapa lu betah di sini. Di sini benar-benar indah," teriaknya sambil melebarkan lengannya.
"Nikmati sesuka lo," kataku. Aku kembali meminum minuman yang ada di meja.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Tempat duduk ini terasa nyaman walaupun terbuat dari kayu yang keras. Kembali teringat olehku bagaimana aku menemukan tempat yang paling nyaman ini, seperti film hitam putih ingatan itu kembali terulang. Kelopak mataku lama-lama menutup diri.
"*Re, ikut aku." Aku memegang tangannya yang lembut. Jam tangan warna pink miliknya mempermanis tangannya yang kecil. Rambut pajangnya yang dibiarkan tergerai bebas bergoyang-goyang saat aku bimbing untuk berlari.
Seragam SMP masih terlekat di badan kami. saat itu kami belum mendapatkan baju hitam putih khas anak SMA. Kakak-kakak kelas memerhatikan kami saat berlari di koridor sekolah. Beberapa orang menghindar ketika kami lewat. Kami tidak memperdulikan itu. kami tetap saja berlari.
"Rangga, kita mau kemana?" katanya dengan nafas yang tidak beraturan.
"Ikut saja, ntar kamu tau kok."
Dari kejauhan tampak Rio dan kawan-kawannya sedang bermain basket. Riuahan penonton pertandingan pecah saat kapten basket itu berhasil memasukkan bola ke dalam ring basket. Perempuan itu dan kawan kawan cheers nya bersorak heboh mendukung Rio yang kelihatan keren ketika bermain basket.
Mata perempuan itu tertuju kepadaku yang sedang berlari bersama Rere. Mata indahnya bergerak seiring pergerakan kami saat berlari. Wajahnya cantik kemerah-merahan lengkap dengan bibir yang terlihat manis. Rambutnya sangat indah saat ia meloncat kegirangan mendukung Rio, namun matanya tetap melihat kami berlari hingga berbelok menaiki tangga.
"Jangan injak tangga yang ke tiga belas. Ingat." Aku memperingatinya. Mitos itu aku dengar dari kakak kelas yang satu meja saat aku makan di kantin Mpok Romlah.
"Jangan ngaco deh kamu." Ia melewati anak tangga ke tiga belas tanpa menginjaknya.
Kami sudah hampir sampai di puncak gedung. Aku berhenti sebelum sampai di puncak gedung. "Mata kamu harus aku tutup sebelumm kamu ngelihat semuanya.
"Kamu lihat semua itu." Aku membuka telapak tanganku. Ia berjalan sambil berputar melihat sekeliling.
Rok panjang SMP miliknya mengembang ketika ia berputar. Lesung pipitnya tergali oleh simpulan senyum yang ia keluarkan. Ia membuka tangannya lebar-lebar seraya berkata,
"Aku tau kamu bakalan nyaman disini Di sini benar-benar indah." Kepalanya menghadap ke gugusan kapas-kapas putih di langit yang menyembunyikan sinar matahari.
Kami sama-sama ke tepi untuk melihat anak-anak basket yang sedang asyik memperebutkan sebuah bola berwarna jingga itu. Hentakan kaki mereka di saat berlari masih terdengar walaupun aku dan Rere berada di atas.
"Senyum kakak kelas itu sangat manis yah? Yang sedang main gitar itu loh," jarinya menunjuk lelaki yang sedang bermain gitar. Ada beberapa teman yang ikut bersenandung mengikuti irama merdu gitarnya.
"Lebih manis jika hatinya tersenyum padamu," kataku. Entah dari mana kalimat itu berasal. Bagaikan air yang mengalir dari hilirnya. Begitu lancar membentuk sebuah kalimat.
"Hati? tersenyum?" tanya Rere berulang. Aku mengangguk.
"Ya, senyuman hati namanya. Kita harus nemuin hati yang tersenyum." kataku. Dirinya mengangguk, walaupun ia sepertinya masih tidak mengerti. Rambut indah Rere kembali berterbangan helai demi helai oleh angin yang lewat. Hidungnya mengembang menghirup dalam-dalam udara bebas yang lewat.
Pandangan mataku membentuk garis lurus ke sepasang mata yang berjalan seorang diri di bawah sana. langkah kakinya begitu anggun dengan lenggak-lenggok pinggul yang serasi. Baju SMP yang ia kenakan terlihat kecil, tidak sesuai dengan bodinya yang proposional. Sebagai lelaki biasanya, lirikan mataku tidak jauh-jauh dari lekukan tubuh wanita yang ada di bawah sana. Siapa yang tidak tergoda dengan makhluk tuhan yang seperti itu.
Tiba-tiba sepasang mata itu mengikuti garis lurus pandangan yang telah aku bentuk tadi. persis seperti saat ia menatapku di lapangan basket tadi. Matanya seperti terus mengajakku untuk beradu pandangan walaupun ia berada di bawah sana. Kedua sudut bibirku membentuk senyum kepadanya yang ada dibawah. Ia pasti tidak melihat dengan jelas betapa manisnya senyumku ini.
"Kita turun yuk," ajak Rere. Mata sipitnya memicing di tambah dengan senyum yang melengkapinya. Aku mengangguk sembari memegang tangannya untuk menuntun menuruni anak-anak tangga.
***