
Zaki masih tampak melongok ke pasangan di kursi panjang itu. Tatapan itu begitu dalam, sama dalamnya saat ia menatap kolam renang kemarin. Sepertinya ia sangat merasuki pemandangan yang tidak biasa disana.
Tangannya tampak mengepal, entah apa yang sedang ia tahan. Rahang dan dagunya tampak menegang seiring dengan matanya yang terus tertuju ke sana. Zaki?
"Yuk Cabut." Aku melangkahkan kaki.
Zaki masih terpaku tegak melihat mereka. Rahang dan dagunya tidak lagi menengang, namun tangannya masih saja mengepal.
"Zaki, ayok." Aku memanggilnya kembali.
Kakinya tergerak mengikuti panggilanku. Tampak matanya masih serius dengan apa yang dilihatnya tadi.
Bel pulang telah berbunyi. Aku terbiasa terhipnotis dengan angin yang menerpa serta burung-burung yang bermain di sore hari. Langit sore yang cerah adalah waktu yang tepat untuk aku bersantai dengan nyamannya di atas sini. Di hadapanku terhampar luas gedung-gedung perkotaan yang khas. Gedung-gedung itu saling berlomba untuk siapa yang paling duluan mencakar langit. Beberapa pembangunan gedung baru juga tampak dari sini.
Suara hentakan sepatu seseorang terdengan mendekati tempat aku sedang tegak sekarang. Wangi parfum dirinya yang khas memudahkanku untuk menebak siapa yang di balik diriku. Angin yang lewat membawa semerbak wangi parfum ke sekitar tempat ini. Dirinya tepat berdiri di sampingku. Ia ikut menikmati angin-angin yang bergantian menerpa kami,
Ia salah satu orang yang bisa menghipnotisku selain Raisa dan angin yang menerpa setiap sore. Rambut yang tadi dibiarkan tergerai indah, sekarang di ikat dengan ikat rambut kecil berwarna ungu. Ternyata tidak hanya bandonya yang berwarna ungu, ikat rambut kecilnya juga. lesung pipitnya yang dalam muncul saat ia melempar senyum kepadaku.
Sebenarnya aku tidak menyukai ia dekat denga Panji. Aku tidak tau apa nama rasa ini. Ia seharusnya punya hak untuk bisa dekat dengan siapa saja, hanya saja aku tidak bisa melihatnya dekat dengan orang lain, bahkan Zaki sekalipun.
Aku cemburu? Aku tidak tahu.
"Hai." Sebuah lemparan senyum tertuju kepadaku.
Tanganya tampak menempel ke tembok sepinggang yang menjadi pembatas agar kami tidak jatuh ke bawah. Ia tidak memakai dasi, satu kancing tampak terbuka dan memeperlihatkan bagian atas dadanya yang putih mulus.
"Hai juga. Rambut mu terikat, tadi aku lihat tergerai loh waktu sama kak Panji." Aku menatap lurus ke hamparan pemandangan kota.
"Kadang aku suka risih kalau rambut aku tergerai, lagian kamu suka kalau rambutku terikat kan? Kamu yang bilang sendiri," kata Rere dengan riang.
Namun aku hanya menatap datar kepadanya. Aku mengangguk sedikit.
"Ya aku memang suka wanita yang rambutnya terikat." Aku membalas senyumnya.
Dirinya tampak begitu manis dengan rambut terikat. Entah mengapa wanita dengan rambut terikat memiliki tempat khusus di hatiku.
Ia menghadap kepadaku. Matanya menatap lurus ke antara kedua bola mataku. Jari jemarinya terlihat gelisah. Bibirnya mengkerut entah kenapa.
"Rangga, aku......" Ia menghadap lurus kepadaku. "Aku....."
Matanya membesar seperti berharap. Pupilnya tampak membesar dan bagaikan kaca yang mencerminkan bayang-bayang diriku disana.
"Aku apa?" Aku menaikkan sebelah alisku.
"Oh iya.... aku mau minta kotak makanan yang kamu bawa kemarin." Ia tertawa.
Aku menepuk kening karena kotak makanannya tertinggal dirumah. Sudah tiga hari kotak makanannya menginap dirumahku. Aku kira kau mau....... Pikiranku mencoba menebaknya sendiri.
Kakinya mulai melangkah menuruni tangga itu. Ku harap ia tidak menginjak anak tangga yang ke tiga belas. Barangkali mitos itu bisa berlaku bagi Rere.
Ia menyapa cewek yang berpapasan dengannya di tangga. Raisa membalas sapaannya itu. mereka saling membalas senyum. Sebuah lambaian tangan menghilangkan Rere dari penglihatanku. Ia sudah beranjak pergi untuk turun. Suasana Rere berganti dengan suasana Raisa. Aku selalu beradaptasi untuk menghadapi mereka. Setiap suasan, berbeda pula daya tariknya. Jika Rere sungguh manis terlihat, sedangkan Raisa begitu cantik aku pandang.
"Rangga," sahutnya dari tangga.
Langkahnya terlihat anggun seperti para model yang sedang berjalan di acara fashion show. Bodinya yang biasa disebut oleh para cowok di sekolah dengan sebutan "aduhai" tidak bisa lepas oleh mataku.
Bajunya tampak pas dengan badannya dengan dua buah kancing terbuka di bagia atas. Rok panjang berimpel yang ia pakai meperlihatkan beberapa lekukan penting yang menggugah iman.
Alisnya rapi sejajar tampak tebal mempermanis matanya yang indah. Bibir Raisa merah merona karena dilapisi oleh lipstik tipis. Wajahnya putih cerah dengan sedikit rona merah pada bagian pipi. Namun rona merah itu bukanlah hasil polesan gincu atau apalah namanya itu, itu alami dari wajah cantiknya.
Nafasnya tampak tidak beraturan ketika sampai di hadapanku. Mungkin saja karena tangga yang ia telusuri tadi.
Setarik nafas , sehembus angin ia menyebutkan kalimat itu. "Rangga aku suka sama kamu."
APA? Kesambet apa ni anak....
Nafasku terhenti sejenak mencerna kata-katanya itu. Tampak hening setelah ia mengatakan. Hanya angin yang berhembus melengkapi di sela keheningan kami. Kata-katanya tadi bagaikan gembok yang mengunci setiap celah di bibirku.
Alisnya berkerut berharap akan sebuah jawaban. Matanya berkaca karena air mata yang ia membasahinya. Tampak olehku bibirnya yang bergetar menahan sebuah tangis dan tangannya yang mengepal menahan sebuah air mata. Kedipan matanya terlihat lebih sering dari biasanya. Kedipan itu seakan meminta sebuah jawaban.
Aku masih bingung untuk menjawab ungkapannya. Tidak biasanya wanita menyatakan dahulu, bahkan ini pertama kalinya wanita yang menyukaiku. Setiap sel di otakku berkerja keras untuk mencari kalimat untuk dikatakan. Diriku semakin cepat mencari jawaban setelah melihat jatuhan air matanya yang mengalir di pipi.
Aku menarik nafas dan memeluknya.
"Tidak, aku yang suka sama kamu. Seharusnya aku yang menyatakan ini sejak dahulu. Sejak kamu turun dari waktu kita sama-sama terlambat, sejak kita sama-sama manjat pagar, sejak kita sama-sama bertengger di atas pohon ceri di rumahmu. Jujur aku sangat kesal karena kita tidak jadi berciuman waktu di festival musik itu." alam bawah sadarku meminta untuk mengatakan itu.
Raisa mempererat pelukannya. Tangannya terasa melingkari pinggangku. Matanya menangis di bahuku hingga membasahi seragam yang sedang aku pakai. Tinggi kami hampir sejajar, hanya saja aku tinggi seangin dari dirinya.
Terpaan nafasnya terasa tidak beraturan, sama denganku. Detak Jantungnya terasa dari dadanya yang menempel di dadaku. Keringat dinginku menetes hingga menerpa rambut indahnya.
"Aku ingin kamu jadi milikku." Aku mengambil tangan yang melingkari pingangku.
Isakan tangisnya bertambah deras seiring kata-kata yang baru saja aku sebutkan. Aku tidak pernah melihat derasnya wanita menangis sebelumnya, hanya dia yang pertama kali. Bahkan Rere sekalipun tidak pernah menjatuhkan air mata di hadapanku.
Telungkup tangannya pucat pasi dan dingin namun masih basah dengan keringat. Air matanya yang keluar bagaikan bulir-bulir air hujan yang turun dari langit kelabu. Aku tidak sempat untuk menangis namun air mata tetap saja membasahi bola mataku ini. Cahaya matahari yang menerpa kami membentuk sebuah jatuhan bayangan yang terbentuk di lantai. Bayangan itu terlihat hangat seperti hangatnya pelukan ini.
Aku menyentuh pipi lembutnya. Pipinya basah karena air matanya yang tadi mengalir. Aku mengusap air mata yang masih ada di bawah matanya. Usapan itu mengajaknya untuk mengatakan "Aku selalu jadi milikmu."
Dirinya mengangguk seraya mengatakan hal itu.
"Re, akhirnya aku nemuin senyuman hatiku." ujarku di dalam hati
***