You Make My Heart Smile

You Make My Heart Smile
27



Satu sekolah ribut dengan hubunganku dengan Raisa. Setiap sudut sekolah, di kantin, di mana saja orang-orang membicarakan hubunganku dengan Raisa. Bahkan orang kantin sekalipun tidak luput dari bahan pembicaraan itu, contohnya Mpok Romlah yang bertanya kepadaku tentang kebenaran hubunganku dengan Raisa. Hubungan ini baru berlangsung dari kemarin, kenapa berita itu sudah tersebar dengan cepat yah?


Kadang aku hanya menutup telinga dari apa yang mereka bicarakan. Banyak saja pendapat mereka yang tidak-tidak tentang aku, melet lah, pake dukun lah, dan banyak lagi yang lain.


Ga pernah ngelihat orang pacaran sebelumnya yah? Kadang aku memaklumi pendapat mereka, soalnya sekarang ini gembel sekolah pacaran dengan ratu sekolah. Seperti cerita-cerita dongeng saja.


Abang aku bilang tadi malam kaya gini "Sumpeh lo? Pajak jadian elo beliin gua martabak manis dua hari berturut."


Martabak memang makanan faforit kami berdua, sampai-sampai dia minta dibelikan martabak manis untuk dijadiin pajak jadian. Aneh-aneh saja.


Ini belum lagi permintaan dari Anak Pondok Belakang yang aneh-aneh. Terutama Dede yang selalu kreatif dalam hal yang seperti ini. Entah hal apa yang ia inginkan untuk merayakan hari jadian aku dan Raisa. Sepertinya mereka sudah tau tentang aku sudah jadian dengan Raisa, tapi mereka pasti menanyaiku untuk sebuah kepastian. Keributan tentang hal ini pasti meledak di pondok belakang rumah Rere. hal yang seperti itu pasti dimulai oleh Dede yang menggoyang-goyangkan badanku sambil menanyaiku.


Aku belum bertemu dengan Raisa hari ini. Raut wajahnya aku simpan di setiap lubuk kerinduan. Kata anak XI.IPA.2, Raisa sedang praktikum fisika di labor seharian ini. Raisa tadi juga mengirim pesan singkat bahwa dia sedang praktik di labor.


"Woi ngeri juga pelet lu yah," kata salah satu senior kelas tiga saat aku melintas di depan gerombolan gengnya. Aku menatap sinis salah satu dari mereka. Sebagai anak IPS pantang sekali jika di remehkan oeh anak IPA, apalagi ini adalah senior, aku tidak suka mereka.


"Mata lu jaga ya? Mau mati lu?" Salah satu dari mereka tegak. Matanya melotot memberikan serangan mental kepadaku.


"Ngapa mata gua? Masalah?" Aku berhenti sejenak, tepat di sebelah pot bunga besar. Bunga kertas di sampingku bergerak di terpa angin yang mengarah kepadanya.


"Ni anak harus di kasih tau cara hormat nih." Ia mulai melangkah ke hadapanku.


Senyumnya terlihat sinis. Teman-teman senior itu mengikuti dari belakang. Tangannya mulai memegangi kerahku. Nafas nya yang bau rokok bergitu tercium dari dekat.


"Woi lo apain nih anak?" Seseorang berteriak dari belakang. Langkahnya telihat cepat dan kokoh menuju kesini.


"Rio? Mau apa lo?" Aku keheranan dengan kehadiran Rio. Ia menyingkirkan tangan senior itu dari kerahku. Tangannya yang kuat membuat kesakitan tangan senior itu. Wajahnya penuh peluh, mungkin saja ia sehabis bermain basket.


"Jangan sok lo yah!!" sebuah tinjuan tepat mengarah pipi Rio.


Ia dengan cepat membalas, namun serangannnya masih bisa di tahan.


Aku yang tidak tega melihanya di serang seperti itu, aku mendorong dengan kuat tenaga para senior yang menyerangnya. Rio tampak memegangi pipi yang terkena serangan tadi. Aku mencoba melesatkan serangan, namun seranganku tetap bisa diantisipasi oleh nya.


Mereka berlima dengan bergantian menyerang kami berdua. Kami berdua hanya bisa menahan serangan bertubi-tubi yang dilancarkan. Sesekali kami membalas serangan itu, namun jumlah mereka terlalu banyak untuk menahan serangan kami. Sebuah kaki tepat mendarat ke perut Rio. Rio tersengkur, aku berusaha menahan serangan yang ditujukan ke Rio. Namun sebuah tinjuan mendarat ke pipi kananku. Rasanya sungguh sakit, seperti rasa tinjuan yang pernah aku dapat dari tangan Rio.


"Woi. Pak Suroto mau kesini." Salah satu dari mereka berteriak. "Yok cabut cepetan."


Senior yang tadi memegang kerahku menyuruh semua anggotanya untuk pergi.


Kami berdua tegak membersihkan semua tanah yang menempel di seragam. Nafas kami masih tidak beraturan. Mataku masih tertuju ke para senior yang pergi itu. Pipiku terasa sakit jika di sentuh. Aku melihat keadaan pipiku dari kamera depan handphone, terlihat bengkak namun tidak membiru.


Rio tanpa sepatah katapun melenggang pergi. Langkahnya lambat namun pasti, bergerak seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Baju putih yang ia pakai tampak kumuh di bagian belakang. Tangannya masih memperbaiki bentuk dasinya yang tidak beraturan.


"Rio, thanks!!!" teriakku dari sini. Sudah tiba di ujung koridor. Ia hanya memberikan sebuah jempol kepadaku.


Hanya sebuah jempol?


Ia pergi menghilang berbelok ke kanan. Aku bergerak menuju ke kelas meninggalkan semua kekesalan karena sudah dipercundangi pada siang ini. Kakiku terasa sakit sehabis terkena tendangan dari senior sialan itu. Dengan sedikit terpincang-pincang aku melangkah menuju ke kelas.


***