
*masih flashback
"Kamu duduk disana ya Rangga. Silahkan." Wali Kelasku memintaku untuk duduk.
Hari sudah mulai penuh oleh langit kelabu. Langit kelabu kadang menjadi terang oleh kilataan petir yang berusaha menyambar ke permukaan bumi. Pohon kelapa di depan sekolah pergoyang hebat di hempas oleh angin yang kencang. Kaki ku berusaha berlari sekencang mungkin hingga ke halte bus yang tidak jauh dari sekolahku. Rintik air hujan sudah turun mengenai tangaku. Rintik-rintik itu sekarang turun menjadi hujan yang lebat.
Kaki kananku menyentuh lantai halte. Rambutku basah oleh hujan yang menerpa. Sepatu yang baru seminggu aku pakai lembab oleh air. Aku duduk sambil menggosok-gosok tangan. Dingin rasanya hujan yang menerpa. Anak perempuan di sampingku dengan tenang menghangatkan di balik sweaternya. Tubuhnya mungil terlihat imut dengan wajah manisnya. Matanya sayu melihat lantai di balik kacamatanya. Bando ungu itu terselip di rambutnya yang panjang sebahu. Manis terlihat namun aku hanya berani melihatnya sesekali. Ia terlihat hati-hati dengan diriku yang ada di sampingnya.
Bus kota sudah berhenti di depan halte. Namun itu bukanlah jurusan yang sejalan dengan rumahku. Anak itu sudah tegak dari duduknya. Ia melihatku sekali, namu ia menoleh kembali lagi ke arah bus. Langkahnya kecil menuju ke bus. Di kerumunan orang yang ingin masuk ke bus, ada sesuatu yang terjatuh dari tasnya. Sesuatu yang ia letak di kantong tempat minum berada di samping tas. Aku melihatnya dengan seksama, anak itu belum menyadarinya. Orang-orang sudah masuk ke dalam bus. Di balik kaca bus, ia terlihat tenang duduk tanpa menyadari bahwa ia telah meninggalkan sesuatu.
"Kacamata? Aneh, membawa dua kacamata ke sekolah." Aku membuka kotak tempat kacamata.
Keesokan harinya aku kembali lagi ke halte tersebut sembari menunggu anak perempuan yang kemarin kacamatanya terjatuh. Aku duduk kembali tepat dimana aku duduk kemarin. Aku menunggu kehadiranya di tengah langit yang kelihatan akan turun hujan. Akhir-akhir ini memang sering hujan di sore hari. Sosok manis berkacamata belum juga menampakkan batang hidungnya. Sudah dua bus mampir ke halte. Namun aku masih menunggu anak perempuan yang kemarin.
Aku melihat ke jam tanganku. Sudah sejam aku menunggu kehadirannya. Kenapa ia tidak kesini? Diriku terus bergumam di dalam hati. Sudah yang ketiga kalinya bus jurusanku mampir ke halte. Aku melangkahkan kaki untuk memasukinya. Di dalam bus aku aku masih menunggunya sambil melihat keluar. Mataku tertuju ke sweater pink berambut tergerai di luar sana. Aku bisa melihat sesuatu yang indah di balik kacamatanya. Pandangannya teduh oleh alis tebal yang menaungi kedua matanya. Ia memandang ke arahku yang ada di dalam bus. Ia dalah seseorang yang aku tunggu sedari tadi. Bus sudah bergerak duluan, aku hanya bisa menghabiskan pandangaku ke dirinya di balik kaca bus ini.
Aku menghabiskan waktuku sendirian di tempat duduk yang ada di belakang sekolah. Di hadapanku ada meja bulat yang di atasnya terdapat makanan ringan yang aku beli dari kantin. Tidak jauh dari tempat aku duduk, seseorang tengah terpaku dengan laptop di hadapannya. Rambutnya terikat oleh ikat rambut. Matanya tengah sibuk melihat layar laptopnya walaupun penglihatannya di luruskan oleh kacamata berbingkai merah. Lesung pipitnya menampakkan diri ketika ia tersenyum sendiri di depan laptopnya. Itu anak yang kemarin.
Tanganku mengucek mataku untuk memastikan itu adalah ia. Kembali aku ingat anak cewek di halte kemarin, alis tebalnya, lesung pipit di kedua pipinya, matanya yang indah, hanya bingkai kacamatnya yang berganti warna. Aku memberanikan diri untuk mendekatinya.
"Kamu yang kemarin yah?" tanyaku. Jarinya sibuk mengetik di laptop.
"Kemarin apa? Kamu siapa?" jawabnya.
"Itu yang kemarin waktu di halte. Oh iya, kacamatamu jatuh dari tas."
Aku menyerahkan kotak kacamatanya. Aku selalu membawa kotak itu di kantong. Bentuknya tidak terlalu besar sehingga bisa aku bawa kemana-mana.
"Oh iya. Pantasan aja kemarin ga ada di tas. Thanks yah. Nama kamu siapa?" tanya anak cewek itu.
"Rangga," sebutku.
"Namaku Rere." Ia menyodorkan tangannya untuk berkenalan.
Aku masih ragu untuk menyambut tangannya. Diriku diam sesaat memerhatikan tangan berkulit putih itu menunggu sambutan tanganku. Aku tersenyum. Tidak lama kemudian menyambut sodoran tangannya.
"Oh iya, banyak banget kacamatanya. Kemarin warna hitam, sekarang warna merah," kataku.
Ia tersenyum mendengarnya. Wajahnya tampak riang.
"Kacamataku selalu berganti setiap suasana. Ada banyak kacamata di kamar mu. Kalau kamu mau ambil aja banyak yang ga kepakai," katanya sembari tertawa.
Aku juga mengikuti tawanya. Perlahan-lahan aku sudah duduk di hadapannya.
Perkenalan itu adalah awal dari kedekatan kami. kami selalu menghabiskan waktu bersama setiap hari. Pulang bersama, menunggu di halte bersama, saling berlari di tengah hujan yang menerpa menjadi saksi kebersamaanku bersamanya. Kebersaman itu awet hingga kami memasuki SMA yang sama dan bertemu dengan ketiga teman yang akan menambah jumlah orang yang nongkrong di belakang rumah Rere. Sebelumnya hanya aku dan Rere, namun Dede, Zaki, dan Vena menambah kehangatan kami.
"Semuanya foto dulu yah," kata Rere sambil menarik kami semua ketika bahagia melihat nama kami berhasil masuk ke dalam daftar orang yang diterima di SMA. Aku dan Rere tidak mengenal dengan mereka, namun Rere dengan percaya diri mengajak mereka berfoto bersama.
"Bang fotoin kami yah." Rere menarik tangan kakak kelas yang tidak sengaja lewat di hadapan kami. Matanya sipit dengan rambut gondrong setelinga. Bola matanya tidak tampak ketika tersenyum kepada Rere.
Di dadanya terpampang namanya. "PANJI" hanya satu kata yang tertera di dadanya.
"Bilang Cisss yahhh," kata kakak kelas itu.
Cahaya flash dari kamera menyadarkanku dari semua ingatan ini*.
***