
*sudut pandang Zaki
Ujian demi ujian telah kami lewati demi menamati pelajaran di sekolah. Bagi anak kelas tiga seperti saya, ujian-ujian itu sangatlah di tunggu-tunggu. Tidak lama lagi kami akan meninggalkan sekolah tercinta ini, meninggalkan semua kenangan yang pernah singgah. Saya tahu kenangan itu tidak semuanya terasa manis, masih ada beberapa fragmen kenangan itu yang terasa kelat untuk dirasakan.
Sudah lama berlalu semenjak Vena mengatakan kalimat terakhirnya kepada saya. Saya tidak hanya berhenti di situ. Semakin lama saya semakin penasaran tentang semuanya.
"Lo ga tau apa-apa Rangga. Lo dimanfaatin." ucap saya ketika berselisih jalan di koridor sekolah. Mungkin ia memanggap Raisa adalah senyuman hatinya, sejatinya ia salah. Selama ini tidak ada hati yang tersenyum kepada lo kecuali Rere.
Saya mendinginkan diri di dalam mobil. Sudah sekitar satu jam saya menghirup udara di mobil ini. Sejujurnya saya tidak terlalu suka berlama-lama di dalam mobil. Hal tersebut dapat membuat saya menjadi mual. Entah kenapa bau mobil itu sering membuat pusing kepala saya. Saya menghidupkan lagu untuk menghilangkan rasa bosan. Saya sudah terlalu lama menunggunya keluar dari bangunan itu.
Akhirnya lo keluar juga. Pria tinggi jangkung itu menyandang tas gitarnya. Ya benar, dari tadi saya menunggu Panji setelah mendengar bahwa Panji hari ini akan mengunjungi Pram. Vena baru saja melihat hasil sadapannya di handphone Raisa yang meminta Raisa untuk menjenguk Pram bersamanya. Namun Raisa menolak.
"Di kamar 74 Raisa. pliss dia rindu sama kamu." kata vena di balik telepon. Saya langsung mengambil mobil dan langsung menunggunya disini. Dia setiap hari berlatih dengan bandnya di studio musik itu.
Mobilnya sudah bergerak. Saya menginjam pedal gas perlahan demi menjaga jarak di antara kami. Kecepatannya tidak begitu cepat, sepertinya Panji bukan tipikal orang yang suka kebut-kebutan.
Mobilnya berbelok ke kanan. Saya memutar stir ke kanan dengan hati-hati. Mobil di belakang saya sudah berkali-kali mengklakson karena lambatnya kecepatan mobil saya. Saya tidak mempedulikannya, yang penting target saya di depan tetap dalam jarak yang bagus.
Mobilnya menepi kemudian berbelok ke kiri menuju sebuah rumah sakit. Inikah rumah sakitnya? Saya tetap menjaga jarak mobil. Panji berada di tiga mobil di depan saya mengantre karcil parkir otomatis. Setelah saya mendapatkan karcis parkir, saya sengaja parkir sedikit jauh dari letak mobil Panji. Kakiku melangkah menyelinap di antara mobil-mobil yang terparkir.
Panji menyulut rokok di bibirnya sambil menutup pintu mobilnya. Panji kelihatan bergerak menuju rumah sakit. Saya menyelinap mengikutinya. Rokoknya habis dalam beberapa menit saja. Ia membuang puntungnya sebelum masuk ke dalam rumah sakit. Saya berusaha berbaur dengan orang banyak, sementara ia masuk ke dalam rumah sakit. Setelah memastikan ia sudah masuk ke dalam rumah sakit, giliran saya membuntutinya dari belakang.
Ia masuk ke dalam lift. Masih ada satu lift lagi di sebelah lift tempat ia masuk. Mata saya melihat ke atas pintu lift tempat ia masuk, ia menuju ke lantai empat. Dengan cepat aku memencet tombol lift untuk memasuki liftnya. Saya menoleh ke kiri dan ke kanan. Tampak di ujung koridor ia berbelok ke kanan. Saya tidak boleh ke hilangan jejaknya.
Panji membuka pintu kamar itu. Persis seperti apa yang dikatakan Vena, kamar 74. Pramadhani Burhanto, saya membaca nama pasien yang tertera di pintu kamarnya.
Ya benar, ini kamar Pram.
Saya duduk menunggunya hingga keluar. Sepertinya ini akan menghabiskan waktu yang lama. Sudah dua kali saya menunggu orang ini. Mata saya hilir mudik melihat orang yang lewat. Kadang gadis-gadis yang lewat menatap balik tatapan saya. Handphoneku bordering. Di layar yang terang itu tertera nama Vena yang mengirimkan pesan singkatnya. Mataku terlalu mengatuk untuk sempat membacanya.
Gagang pintu itu berbunyi.....
"Zaki?" panggilannya membangunkan saya dari tidur singkat. Saya dengan cepat memulihkan kesadaran saya.
"Siapa itu Pram? jadi dia alasan lo ga bisa nolak permintaan bodoh Raisa? Gua tau semuanya yang kalian sembunyiin" tanya saya.
Ia tampak tidak bisa menjawab. Nafasnya tampak tidak beraturan memikirkan jawaban yang akan ia katakana.
"Lo ga tau yang terjadi kalau gua nolak permintaannya," jawabnya dengan tenang. Matanya menatap lurus ke mata saya.
"Tapi lo misahin Rere sama Rangga!" saya mendorongnya hingga ke dinding. Ia tidak melawan. Tubuhnya terasa ringan ketika aku dorong.
"Lo ga bakal bisa ngerti Zak."
"Rere ga bahagia sama lo. Dia bahagia sama Rangga. Dan elo yang ngehancurin semuanya," kata saya sambil memegangi kerahnya. Sudah lama saya ingin melakukan ini. Panji pasrah tidak melawan.
"Kenapa lo harus marah sama gua? Raisa dalang semuanya. Kok lo sewot sih?"
"Gua suka sama Rere dan dia bahagia bersama Rangga, bukan sama gua apalagi LO! Gua ga mau lo dan Raisa misahin mereka berdua. Kalian licik!"
saya mendorong badannya sekali lagi. Tangan ini sudah mulai panas untuk melesatkan kepalan tangannya.
"LO GA NGERTI BODOH!" Panji menghempaskan saya ke lantai. Hempasannya terasa begitu kuat hingga ke tulang. Saya mengerang kesakitan dan kemudian bangkit kembali dan melesatkan pukulan tepat ke pipi kanannya namun ia bisa menahan serangan saya.
"PRAM BAKAL...........mati." Nadanya melemah di kata yang terakhi. Matanya yang sedari tajam menatap saya, kini melemah menatap ke depannya.
Pandanga lurus seakan itu lebih penting dari emosi yang ia rasakan. "Mati," katanya sekali lagi.
pandangannya masih ke depan, bukan kepada saya. Saya menoleh ke belakang melihat apa yang ia lihat. Seseorang yang memakai baju pasien rumah sakit sedang memegang gagang infuse. Kulitnya tampak pucat. Lemah badannya terlihat dari cara berdirinya yang tidak berdaya. Ia tidak begitu tinggi namun manis dengan rambut lurus setelinganya. Sebuah tahi lalat di pipinya mengingatkanku akan seseorang. Senyumnya seperti pernah saya lihat sebelumnya. Senyum yang pernah merebut orang yang saya sukai. Senyumnya tentu lebih manis dari senyum saya.
"Rangga?" kata saya pelan.
"Bukan, dia Pram. Itulah alasan Raisa merebut Rangga dari Rere. Ia begitu mirip dengan Rangga."
Ia melepaskan cengkraman tangannya di tangan saya. Ia melangkah ke orang berpakaian pasien itu, menuntunnya kembali masuk ke dalam kamarnya. Saya masih mencerna wajah orang itu. Ia sangat-sangat mirip dengan Rangga. Terutama letak tahi lalat yang sama persis dengan tahi lalat Rangga. Saya berdiri di depan pintu kamar itu. Saya mengangkat tangan saya untuk mengetuk pintu itu, namun tidak ada daya lagi untuk mengetuknya. Saya mengurung niat saya untuk mengetuknya.
"Pram menyuruhmu untuk masuk." Panji membuka pintu itu. Tercium wangi parfum ruangan yang khas. Dingin kamar itu mulai terasa di kulit saya. Saya melihat orang tadi terbaring lemah di tempat tidur. Ada sebuah gitar di sampingnya.
"Ini Zaki, temannya Rangga" kata Zaki kepada Pram.
"Lo baru ngelihat gua ya? Gua Pram." ia menyalam tanganku. Tangannya terasa dingin. Namun wajahnya masih hangat walaupun di balik kulit pucatnya.
"Raisa ngerepotin lo ya?"
"Enggak. Cuman...." kata-kata saya di potong dengan kalimatnya.
"Jangan bohong lu. Panji udah cerita semuanya. Maafin Raisa yang selalu buat masalah. Dari dulu dia memang begitu. Dia ga pernah ke sini lagi semenjak gua kaya gini. Akhirnya dia nyari pengganti yang benar-benar mirip sama gua, itulah temen lo yang namanya Rangga."
"Kenapa dia ninggalin lo kaya gini?" tanya saya. Ia duduk dengan sekuat tenaga. Tenaganya tidak cukup kuat untuk kembali duduk, Panji membantunya. Pram meminta Panji untuk mengambil gitarnya. Jarinya begitu lihat memetik senar demi senar dengan merdunya. Jari kirinya lincah berpindah membentuk kunci demi kunci.
"Raisa selalu sakit melihat gua yang kaya gini. Tiap kesini dia pasti nangis di bantal ini." Ia memegangi bantal itu.
"Suatu hari dia bilang kalau dia benci ngelihat gua. Gua tau, dia benci gua karena gua nyakitin dia dengan keadaan gua yang terbaring kaya gini. Dia sedih, dia sakit, dia ga sanggup ngelihat gua. Akhirnya ninggalin gua hingga hari ini." jemarinya masih memainkan gitarnya.
"Raisa masih cinta sama Pram. makanya dia nyari pengganti yang benar-benar mirip sama Pram." Panji masuk ke percakapan kami. kami sama-sama terhipnotis oleh mainan melody Pram. Gema suara gitar kayu itu menggema di setiap sudut ruangan.
"Bisa aja lo Panji. Mungkin dia ga ingat sama gua lagi." Pram tertawa sedikit. Tawanya benar-benar mirip dengan tawa Rangga. Garis-garis wajahnya menyiratkan akan sosok Rangga.
"Gua ga suka saja sama maksud Raisa yang misahin Rere dan Rangga. Rere sedih banget, dia tersiksa ngelihat Rangga-nya di rebut oleh Raisa. Rere mencintai Rangga sedari dulu. cuman si bodoh itu ga pernah peka terhadap Rere, malah pergi sama cewek lain. Curhatnya selalu tentang itu. Tangisnya tangisku juga. Gua ga bisa ngelihat dia bersedih."
Terlihat Pram berusaha mencerna setiap kata yang saya katakan. Sorot matanya tajam. Namun tidak kepadaku, tapi ke belakangku. Pupil matanya terlalu fokus menatap objek yang ia lihat.
"Benarkah?" Seseorang bertanya di belakang saya. Saya mengenal suara itu. Berat suaranya mengingatkan saya seseorang yang pernah membuat lebam tepat di pipi.
"Rere suka sama gua?" Sekali lagi ia bertanya. Saya menolehkan kepala kebelakang.
"Kenapa lo ga bilang dari dulu? Kenapa?" cengkraman tangannya di kerah saya begitu kuat. Sudah lama saya tidak merasakan ini, namun rasa trauma kepalan tangannya menghantuiku. Saya takut ia akan melakukannya lagi. Ancang-ancang tangannya mengisyaratkan tanda bahaya.
Sebelum itu jari Zaki diam-diam mengetik sesuatu di layar handphonya. Matanya tampak mencari kontak yang ia cari. "Gua tau siapa sebenarnya lo!"
"Maksudmu?" Raisa membalas dengan cepat. Ia tahu selama ini Zaki sudah lama curiga dengannya. Dari tadi ia sudah cemas dengan pernyataan Rangga bahwa ia sudah di rumah sakit.
"Segala yang lo sembunyiin dari sahabat gua, Rangga!!!" Zaki akhirnya bisa merasakan senyum terpuasnya. Raisa beranjak menyusul mereka ke rumah sakit demi memberikan penjelasan tentang semuanya. Ia mengambil sebuah fotonya bersama Rangga. Ia berhenti sejenak. Di samping foto itu terdapat sebuah foto lama, seorang pria memeluknya dengan mesra walaupun di balik bibir pucatnya, "Pram." panggil Raisa berharap ia mendengarnya di sana.
***