
Kami lebih banyak diam daripada bicara semenjak Zaki pergi. Pembicaraan yang dulu sangat hangat untuk dibicarakan, kini terasa ada satu bagian yang hilang. Aku tahu apa yang hilang itu, namun aku sudah membuangnya jauh-jauh agar tidak kembali lagi.
"Belajar memaafkan orang." suatu kalimat yang pernah aku dengar dari Rere, wanita berkacamata itu. Aku tidak bisa memaafkannya karena kelaukannya kepada Rere. Aku tidak bisa melihat Rere tersakiti. Namun menyingkirkan Zaki malam membuat Rere semakin sakit, tidak hanya Rere tapi kami semuanya.
Seminggu kemarin baru saja kami menerima nilai yang akan menjadi patokan kami untuk memasuki Universitas dan selama itu juga Rere menghilang dari pandanganku. Aku merindukan mata berkacamata itu, apalagi senyum manisnya. Setiap aku tanya kemana di pesan singkat, dia hanya menjawab, tunggu aku saja. Aku masih di bumi, ditambah dengan emot ketawa di akhir kalimatnya. Mungkin Zaki belum mengentahui hal ini. Menurut tukang kebun Rere yang juga menjaga rumah Rere, Rere pergi berlibur ke tanah kelahirannya di Ranah Minang sana. Ia tidak pernah memberitahukannya.
Dede sibuk memakai jas yang baru ia beli untuk persiapan perpisahan sekolah. Aku dan Dede baru saja pulang dari toko tempat kami membeli jas. Jas itu tidak terlalu mahal, masih bisa di beli dengan kantong kami sediri.
"Yang penting bisa dipakai," kata Dede waktu di toko itu. Dede bergaya dengan gagahnya di depan cermin itu. Badannya yang tinggi besar, namun sama hitamnya dengan warna hitam jas tersebut.
"Udah kaya agen Man In Black." Aku hanya tertawa terkekeh mendengar pertanyaannya.
"Malah kaya Pak Suroto pake jas De." kataku sambil tertawa. Dede tampak mengangkat handphonenya yang berdering. Dari ekspresinya sudah pasti itu dari Vena.
"Iya Ven. Oke siap lapan enam!" jawab Dede dengan tegas.
"Lo harus ikut gua Ngga." Ia menarik tanganku dengan kuat dan memaksaku untuk masuk ke dalam mobilnya. Ia terus melaju dengan mobilnya tanpa memberitahukan kemana kami akan pergi. Menurut arah jalan yang ia tuju, sepertinya ini jalan ke rumah Vena
"Bro, kita mau kemaa?" tanyaku di sampingnya. Matanya fokus melihat lobang-lobang yang kadang menganga di jalanan aspal.
"Lo ikut aja. Ntar lo tau." Ia memutar stir ke kanan. Di ujung penglihatanku tampak Vena berdiri di depan rumahnya. Ia memerhatikan jam tangan kecilnya, mungkin saja ia telah lama menunggu di situ.
"Hai Vena, naik cepat." Dede menepikan mobilnya. Ia keluar sebentar demi membukakan pintu untuknya.
"Lo di belakang sanah." ucap Dede kepadaku.
"Tega amat lu." Aku beranjak untuk duduk di belakang. Vena masuk ke dalam mobil bersamaan dengan bunyi pintu mobil yang menutup.
"Rumah Sakit yang di dekat POLSEK ya De. Cepet sebelum mereka pergi." kata Vena terburu-buru. Entah apa yang sedang mereka kejar.
"Ven, kita mau kemana?" tanyaku padanya.
"Ngejar Zaki. Ini penting buat kamu." Jawab Vena. Tangannya kelihatan mengetik pesan di layar handphonenya.
"ZAKI? ngapain?" tanyaku sekali lagi.
Untuk apa ngurusin anak itu, ucapku dalam hati.
Mobil Dede melaju di jalanan yang ramai oleh mobil-mobil yang lalu lalang. Matanya fokus memerhatikan jarak mobilnya dengan mobil yang lain. Sesekali Vena berteriak karena Dede terlalu kencang, namun Dede tidak mendengarkannya. Akhirnya mobil Dede menepi ke kiri dan berbelok. Tangan Dede menjulur keluar untuk mengambil karcis parkir otomatis. Aku melihat keluar. Rumah sakit berdiri lima tingkat ke atas.
Untuk apa kita ke rumah sakit? Teleponku bordering. Raisa.....
"Kamu di mana sayang?" tanya Raisa di sana.
"Di rumah sakit yang di dekat POLSEK. Aku, Dede, Vena. Kamu sakit Raisa?" tanyaku.
Nadanya yang rendah dan serak menandakana sesuatu yang tidak berer dengannya.
"Di rumah sakit? Ngapain?" suaranya terdengar payau di telingaku. Ada yang tidak beres dengannya.
"Ada Zaki disana. Raisa? Raisa? Sa........" hanya bunyi berdengung yang terdengar. Ia mematikan sambungannya. Aku melihat layar handphone yang kembali ke layar utama. Tidak seperti biasanya Raisa mematikan hanphonenya seperti ini.
Dede memarkirkan mobilnya. Ia sangat handal dalam mengendalikan mobil. Dengan cepat ia memasuki celah di antara mobil itu untuk memarkirkan mobilnya. Kami keluar dari mobil. Dede memencet tombol kecil bergambar gembok itu pada kunci mobilnya.
"Cepet oy," teriak Dede di depan. Langkahnya terlalu besar daripada langkah kami. Vena terlihat kesusahan menyamai langkah Dede. Udara dingin rumah sakit mulai terasa. Kami berlari menuju ke lift yang disana.
"Lantai berapa Ven?" tanya Vena sebelum memencet tombol lantai yang akan kami tuju.
"Untuk kamar yang nomor segitu, kayanya lantai empat deh," jawab Vena. Dede mengangguk dan memencet tombol lantai empat. Aku dari tadi diam sambil mengikuti ke mana mereka pergi.
Pintu lift terbuka. Dede menarik tangan Vena. Aku mengikutinya dari belakang.
"Cari pintu kamar nomor tujuh empat," kata Vena. Kami mengikuti perintahnya. Dia yang tahu ke mana kami hendak pergi. Mataku menoleh ke kiri dan ke kanan membaca nomor yang tertera pada pintu. Kadang kami menghadang orang yang berlawanan arus dengan kami. Kami terlalu terburu-buru sehingga tidak menyadari ada orang di depan.
"Tujuh puluh, tujuh satu, tujuh dua, tujuh tiga, tujuh empat. Nah itu dia," kataku saat menemui kamar yang kami tuju. Mereka sudah sampai duluan. Mereka tidak langsung masuk, tetapi menunggu dulu di depan pintu.
"Kok ga masuk?" tanyaku kepada mereka yang sedang bergandengan tangan.
"Lo yang harusnya masuk, bukan kita. Lo duluan," kata Dede. Tangan hitamnya menjulur membuka pintu. Gerakan kepalanya mengisyaratkanku untuk segera masuk. Kakiku melangkah ke dalam.
Semerbak pewangi kamar kelas atas tercium jelas olehku. Dinginnya udara kamar mulai terasa oleh kulitku. Sebuah lukisan di terpasang di kamar itu. Sebuah tabung oksigen tegak meninggi di samping tempat tidur itu. Ada tiga orang lelaki yang berada dalam kamar ini. Panji, Zaki dan satu lagi aku tidak mengenalinya. Ia menatapku cukup lama. Tampak olehku ia sedang berbincang dengan Zaki, bukan kepadaku. Tetapi sorot matanya membentuk garis lurus dengan mataku. Namun sepertinya ia begitu mirip dengan seseorang, mulai dari alis, mata, postur tubuhnya, bahkan tahi lalat yang mempermanis pipi kananya.