You Make My Heart Smile

You Make My Heart Smile
20



Sudut Pandang Rere


Aku duduk di bawah naungan pohon ketapang nan rindang. Batangnya begitu kokoh yang di topang oleh akar-akar besar yang menjalar di tanah. Daun kuning kecoklatan kadang jatuh terhempas ke bumi. Dahan dan daun ketapang ini menaungiku dari sinar matahari yang menyengat. Tempat yang nyaman untuk mencari insiprasi yang akan aku tuangkan dalam sebuah tulisan. Angin sepoi-sepoi mangalirkan semua imajinasiku yang masih tertahan di kepala.


Angin menggeraikan rambut panjangku. Tanganku perlahan mengambil ikat rambut ungu dan mengikatkannya ke rambut. Seseorang pernah menyebutku cantik jika rambutku terikat.


Aku harap ia hanya berkata seperti itu kepadaku saja. Sebenarnya hatiku masih menyimpan rasa cemburu kepada Raisa semenjak hari itu. Kecupan itu membuat luka yang dalam di hatiku. Bagaimana tidak jika orang yang kita cintai bermain asmara dengan orang lain. Tidak satupun yang bisa menerimanya, khususnya aku.


Samar-samar aku mendengar keributan khas kelas. Keributan yang selalu kami rasakan setiap hari. Tempat dudukku begitu kasar karena terbuat dari semen. Meja yang ada di hadapanku sudah dipasang keramik sehingga nyaman ketika di sentuh. Tempat ini baru saja dibuat di taman sekolah. Tempat duduknya melingar dengan meja bundar di tengah seharusnya menjadi tempat faforit siswa untuk beristirahat. Namun, disini hanya aku yang menjadi penghuni tetap tempat ini.


Mataku tertuju ke desktop background di laptop. Mereka begitu senang saat di hadapan kamera pada saat itu. Zaki kelihatan gagah dengan kumis tipis di bawah hidungnya. Dede selalu berfoto dengan tingkah yang lucu. Badannya kelihatan yang paling besar di kamera. Tangan kanan Vena memegang tas laptop kesayangannya. Sebelah bagian rambut Vena di biarkan terjepit di belakang telinga. Ia begitu manis di balik sikap dinginnya itu.


Untuk pertama kalinya kami berkumpul dalam satu potretan foto. Di sana lah pertama kali saling mengenal. Pada saat itu kami berlima sedang melihat nama kami di papan pemberitahuan. Masing-masing dari kami melihat apakah nama kami ada tertera disana. Aku mencari nama Rangga yang dari tadi belum juga terlihat.


Di sebelah kami ada Dede dan Zaki yang saling bercanda sambil melihat nama mereka di papan. Sebenarnya Dede satu SMP denganku, namun pada saat itu kami tidak saling mengenal.


Aku kembali fokus kepada Vena dengan rambut pendeknya yang manis. Ingat pada saat itu Vena dengan nafas yang tidak beraturan menerobos kami berempat. Ia langsung meraba kertas di papan itu dengan telunjukknya. Kami saling bertatapan menyadari bahwa nama kami tertera di papan itu. Sorak hore keluar dari perasaan senang kami.


Di foto itu juga tampak senyuman manis Rangga. Matanya yang coklat dengan alisnya yang tebal begitu padu dengan hidung yang sedikit mancung. Kulitnya tidak terlalu putih, kulit sawo matang milik Rangga memberikan kesan eksotis tersendiri pada dirinya.


Badannya sudah kelihatan bagus, tidak seperti di SMP yang hanya seperti kulis pembalut tulang. Ia selalu menjadi bulan-bulanan kawannya karena tubuhnya yang krempeng itu. Pria manis ini selalu menjadi penyemangatku ketika jenuh melanda. Kata-kata manisnya kadang terselip di tengah percakapan yang terjadi. Ia sangat pandai mencairkan suasana.


Teringat olehku teori senyuman hati miliknya. Ia pernah berkata bahwa senyuman tidak hanya sebatas di bibir, namun juga di hati. Kita tidak hanya memilih orang yang bibirnya tersenyum kepada kita, namun juga hati yang selalu tersenyum kepada kita. Senyuman hati bersifat kekal dan sejati. Aku selalu berpegang dengan teori bodohnya itu.


Bibirku tidak hanya melebar untuknya, namun hatiku juga melebarkan senyum untuknya. Namun ia tidak pernah sekalipun merasakan itu.


Aku selalu menginginkan hatimu tersenyum kepadaku, bukan kepada dia.


Aku merasakan sebuah telapak tangan mengusap rambutku sekarang.


"Rangga?" Aku menolehkan kepala ke belakang.


"Rangga?" Ia keheranan. Wajah orientalnya kelihatan manis ketika ia melebarkan senyumnya.


"Aku Panji loh. Kelihatannya melamun. Sampe ga nyadar kalau daun sudah nempel di rambutmu. Rambut yang cantik harus bersih." kata-katanya membuatku tersipu malu.


"Eh kak Panji." Aku kembali memerhatikan laptop yang ada di depanku. Wangi parfum khas milik kak Panji merasuk ke dalam lubang hidungku. Ia melesat duduk di sampingku. Ia mendekatkan matanya ke layar laptop.


"Eh ini kan aku yang ngambil fotonya. Waktu itu kamu sok kenal gitu sama aku sampe minta difotoin segala." Ia tertawa teringat dengan kejadian itu.


"kak." Aku melesatkan cubitan maut ke perutnya, cubitan yang biasanya tertancap ke perut Rangga.


"Waduh boleh juga cubitan kamu tuh." Ia mengosok-gosok daerah yang terkena cubitan maut.


"Mau coba lagi?" ancamku.


"Jangan," jawabnya sambil tertawa. Gigi kelincinya terlihat saat Ia tertawa.


Rambut lurusnya sudah kelihatan panjang dan bergerak bebas ketika tertiup angin. Mata sipitnya menatap kedua mataku. Tatapannya begitu dalam seperti tatapan seseorang. Tatapan yang bisa merasuki pikiranku. Mataku tidak sanggup melihat pesona matanya terlalu lama. Tatapan itu mengingatkan aku akan seseorang.


***